Tag

, , , , ,

Bismillah

PROTON PUMP INHIBITOR MENINGKATKAN RISIKO TERJADINYA DIARE AKIBAT CLOSTRIDIUM DIFFICILE

Oleh Carko Budiyanto, S. Ked

Pada tanggal 8 Februari 2012, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah mengeluarkan pengumuman terkait dengan proton pump inhibitor. Pengumuman tersebut mengatakan bahwa proton pump inhibitor (PPIs) dapat dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi untuk munculnya diare terkait Clostridium difficile (CDAD – clostridium difficile associated diarrhe), yang dapat memicu masalah usus lebih serius.

Bakteri C difficile adalah bakteri yang dapat menyebabkan diare ringan sampai berat. Banyak orang yang memiliki C difficile pada ususnya tetapi tidak menimbulkan gejala. Bagi orang sehat, C difficile tidak menimbulkan risiko kesehatan. Orang tua dan mereka dengan penyakit lain atau yang minum antibiotik, berada pada risiko yang lebih besar untuk terinfeksi.

Telah diketahui bahwa orang yang mengkonsumsi antibiotik rentan terinfeksi C difficile. Antibiotik dapat mengubah dan membunuh bakteri baik dalam usus. Bila bakteri baik dalam usus berjumlah sedikit, C difficile memiliki kesempatan untuk berkembang dan menghasilkan toksin. Toksin inilah yang merusak usus dan menyebabkan diare.

Selain penggunaan antibiotik, orang-orang berikut ini menjadi lebih rentan terinfeksi C difficile, antara lain : orang lanjut usia / geriatri, penggunaan kemoterapi kanker.

Gejala CDAD antara lain : diare cair, demam, kehilangan nafsu makan, mual, dan nyeri perut.

Kali ini, FDA mengumumkan bahwa PPI juga dapat menjadi faktor risiko terjadinya CDAD. Diagnosis CDAD harus dipertimbangkan pada pasien yang menggunakan PPI yang mengalami diare yang tidak kunjung sembuh. FDA akan bekerja sama dengan berbagai produsen obat PPI untuk menyertakan informasi tentang peningkatakan risiko CDAD pada label obat tersebut.

PPI adalah salah satu obat gastrointestinal yang bekerja dengan menghambat sekresi asam lambung. PPI merupakan derivat benzimidazol yang bekerja pada bagian sekretori sel-sel parietal lambung dan berikatan dengan saluran H+/K+-ATPase. Seluruh PPI diindikasikan untuk gastritis, gastroesofageal refluks (GERD), ulser lambung dan duodenum, inflamasi pada esofagus,  dan perdarahan saluran cerna dengan efektivitas klinis yang hampir sama. Selain itu, PPI digunakan sebagai salah satu terapi eradikasi H pylori bersama dengan beberapa antibiotik. PPI memiliki efek penekanan sekresi asam lambung yang lebih baik dari pada antihistamin 2 pada dosis yang efek sampingnya tidak terlalu mengganggu.

PPI yang dimaksud FDA adalah sebagai berikut :

  • dexlansoprazole ( Dexilant , Takeda Farmasi Amerika Utara)
  • esomeprazole magnesium ( Nexium , AstraZeneca)
  • esomeprazole magnesium dan naproxen ( VIMOVO , AstraZeneca)
  • lansoprazole ( Prevacid , Takeda Farmasi Amerika Utara) dan obat bebas Prevacid 24-jam
  • omeprazole ( Prilosec , Procter & Gamble) dan obat bebas
  • omeprazole (omeprazole) OTC
  • omeprazole dan sodium bikarbonat ( Zegerid , Merck) dan obat bebas
  • pantoprazole natrium ( Protonix , Pfizer)
  • rabeprazole natrium ( AcipHex , Eisai)

Akhirnya, FDA merekomendasikan bahwa :

  1. Diagnosis CDAD harus dipertimbangkan bagi pengguna PPI denga diare yang tidak membaik
  2. Pasien dianjurkan untuk segera mencari pertolongan kepada tenaga medis bila mengalami diare dengan tinja cair, demam, dan nyeri perut saat mengkonsumsi PPI.
  3. Pasien harus menggunakan PPI dengan dosis terendah dan durasi terpendek sesuai dengan kondisi penyakitnya.

Sumber :

  1. Food and Drug Administration http://www.fda.gov/Safety/MedWatch/SafetyInformation/SafetyAlertsforHumanMedicalProducts/ucm290838.htm
  2. Medscape. http://www.medscape.com/viewarticle/758268
  3. Learn Pharmacia http://learnpharmacia.blogspot.com/2011/09/dispepsia-drugs-proton-pump-inhibitor.html
  4. Public Health Agency of Canada http://www.phac-aspc.gc.ca/id-mi/cdiff-eng.php
  5. Farmakologi dan Terapi FKUI edisi 5.