Tag

, , , , ,

ANAK MALNUTRISI BERAT DENGAN RISIKO TINGGI KEMATIAN : DAPATKAH DIIDENTIFIKASI DENGAN PROTOKOL WHO?

Kathryn Maitland1,2,3*, James A. Berkley1,4, Mohammed Shebbe1, Norbert Peshu1, Michael English1,5, Charles R. J. C. Newton1,6

1 Centre for Geographic Medicine Research (Coast), Kenya Medical Research Institute, Kilifi, Kenya, 2 Department of Paediatrics, Faculty of Medicine, Imperial College, London, United Kingdom, 3 Wellcome Trust Centre for Clinical Tropical Medicine, Imperial College, London, United Kingdom, 4 Centre for Clinical Vaccinology and Tropical Medicine, Churchill Hospital, University of Oxford, Oxford, United Kingdom, 5 Department of Paediatrics, John Radcliffe Hospital, University of Oxford, Oxford, United Kingdom, 6 Neurosciences Unit, Institute of Child Health, The Wolfson Centre, Mecklenburgh Square, London, United Kingdom

Citation: Maitland K, Berkley JA, Shebbe M, Peshu N, English M, et al. (2006) Children with severe malnutrition: Can those at highest risk of death be identified with the WHO protocol? PLoS Med 3(12): e500. doi:10.1371/journal.pmed.0030500

DITERJEMAHKAN OLEH CARKO BUDIYANTO, S.Ked


ABSTRAK

Latar Belakang : Dengan berpegang pada Pedoman Pengobatan Internasional yang Dianjurkan, kasus kematian pada gizi buruk berat harus kurang dari 5%. Di rumah sakit Afrika, tingkat kematian 20% adalah umum terjadi dan sering dikaitkan dengan kurangnya pelatihan dan manajemen kasus yang salah. Meningkatnya keadaan ini dipengaruhi oleh kemampuan mengidentifikasi secara awal terhadap mereka yang berisiko tinggi dan pemanfaatan sumber daya kesehatan yang terbatas. Kami meneliti secara retrospektif faktor-faktor risiko utama yang terkait dengan keadaan awal (<48 jam) dan akhir kematian pada anak dengan gizi buruk di rumah sakit, dengan tujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat membedakan kelompok risiko tinggi sesuai dengan pedoman WHO.

Metode : Dari 920 anak dalam penelitian, 176 (19%) meninggal, dengan 59 (33%) kematian terjadi dalam waktu 48 jam pertama setelah penanganan. Komplikasi bakteremia 27% dari semua kematian: 52%-nya meninggal sebelum 48 jam meskipun 85% dari mereka mendapat antibiotik spesifik sesuai kultur. Sensitivitas, spesifisitas, dan rasio kemungkinan (LR) dari “tanda bahaya” yang direkomendasikan WHO (letargi, hipotermia, atau hipoglikemia) untuk memprediksi kematian awal adalah masing-masing 52%, 84%, dan 3,4% (95% confidence interval [CI] = 2,2 menjadi 5.1). Selain itu, empat fitur lain yang dikaitkan dengan kasus kematian dini: bradikardi, waktu isi ulang kapiler lebih besar dari 2 detik, volume denyut nadi lemah, dan gangguan tingkat kesadaran; kehadiran dua atau lebih fitur tersebut dikaitkan dengan rasio odds 9,6 (95% CI = 4,8-19) untuk kematian dini (p <0,0001). Sebaliknya, kelompok anak-anak tanpa adanya tujuh fitur tersebut, atau tanda-tanda dehidrasi, asidosis berat, atau gangguan elektrolit; memiliki kematian yang rendah (7%).

Kesimpulan: Penilaian formal dari fitur-fitur di atas sebagai tanda darurat untuk meningkatkan triase dan untuk merasionalisasi sumber daya dan tenaga kerja terhadap kelompok berisiko tinggi, memang diperlukan. Selain itu, penemuan tanda klinis dasar juga diperlukan untuk mengidentifikasi dan menguji penatalaksanaan pendukung yang tepat.

Poin penting yang dapat disimpulkan dari penelitian di atas :

  1. Keadaan gizi buruk yang berat rentan terjadi kematian
  2. Perlu adanya protokol untuk memilah antara pasien yang darurat dan tidak darurat : berdasar penelitian ini tanda-tanda berikut cukup signifikan untuk mendeteksinya, yaitu letargi, hipotermia, atau hipoglikemia, bradikardi, waktu isi ulang kapiler lebih besar dari 2 detik, volume denyut nadi lemah, dan gangguan tingkat kesadaran.
  3. Identifikasi dan penanganan yang tepat terhadap pasien gizi buruk berat, dapat menurunkan tingkat kematian.