Bagian 1 klik disini

Adapun jenis penyakit yang kedua, yaitu penyakit pada  jasad. Maka dia adalah penyakit yang lebih ringan, seperti sakit pada anggota tubuh atau pada kulit dan yang selainnya, dan kalian lebih mengetahui daripada saya.

Penyakit ini mempunyai dua jenis obat. Obat yang paling berkhasiat, paling lengkap, dan paling luas manfaatnya adalah obat telah dijelaskan syari’at. Dan syari’at Islam telah datang menjelaskan obat ini, yaitu obat yang syar’i untuk tubuh. Dan aku akan menyebutkannya, insyaAllah.

Sebagai contoh Al-Qur’an Al-Karim adalah obat yang bermanfaat dan berkhasiat untuk penyakit pada jasad dan penyakit pada jiwa, serta penyakit pada akal. Tidak mungkin bagi obat yang hissy mengalahkannya. Dan obat yang syar’i tidak perlu pembahasan yang panjang. Karena obat syar’i berasal dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla yang jika menginginkan sesuatu sesungguhnya Dia hanya berkata “kun fayakun”.

Dan kalian pasti telah mendengar kisah sahabat yang meminta untuk dijamu sebagai tamu pada suatu kaum dari bangsa Arab. Akan tetapi mereka enggan untuk menjamu. Kemudian para sahabat kembali ke negerinya. Dan Allah pun menghendaki pemimpin kaum tersebut tersengat binatang. Dan pemimpin tersebut sangat menderita. Maka berkata sebagian dari mereka, “Mudah- mudahan kaum yang datang kepada kalian tadi mempunyai mantra untuk menyembuhkan pemimpin kita”. Maka mereka pun mendatangi para sahabat. Mereka berkata,”Apakah ada diantara kalian yang bisa membacakan suatu mantra untuk menyembuhkan pemimpin kami?”. Sahabat berkata,”Ya, akan tetapi kami tidak akan membacakan kepada pemimpin kalian kecuali kalian memberi kami kambing yang banyak karena kalian tidak menunaikan hak kami sebagai tamu”. Mereka berkata,”Kami benar- benar akan memberikan kambing yang banyak”. Maka salah satu sahabat pergi kepada pemimpin kaum tersebut dan membacakan Al-Fatihah. Pemimpin kaum tersebut sehat kembali pada saat itu juga, seakan – akan belum pernah sakit sebelumnya. Pada contoh ini, seandainya pemimpin tersebut diberikan obat yang hissy, maka baru akan memberikan pengaruhnya beberapa waktu kemudian. Akan tetapi, ketika diberikan obat yang syar’i, manfaatnya langsung saat itu juga.

Penyakit pada jiwa banyak macamnya, yang mana akan sulit bagi para dokter untuk menyembuhkannya dengan obat yang hissy. Akan tetapi, mengobatinya dengan ruqyah akan memberikan pengaruh yang bermanfaat. Begitu juga penyakit pada akal, dimana penyakit tersebut jika diobati dengan obat yang syar’i akan memberikan pengaruh yang bermanfaat, dan tidak akan memberikan pengaruh jika diobati dengan obat yang hissy. Oleh karena itu, aku mengingatkan kalian wahai Saudaraku, untuk memperhatikan perkara ini, dan jika memungkinkan bagimu untuk menggabungkan antara dua obat ini (obat syar’i dan obat hissy), sehingga hati orang yang sakit akan terikat dengan Allah ‘Azza wa Jalla dan ayat- ayatnya. Dan berkaitan dengan perkara ini kalian dapat merujuk kepada kitab- kitab yang ditulis dalam bidang ini. Dan hendaknya kalian mempelajarinya, menghafalnya, serta mengajarkan perkara tersebut kepada orang yang sakit. Karena keterikatan hati orang yang sakit dengan Allah mempunyai pengaruh yang kuat dalam proses kesembuhan dari penyakit, atau dapat meringankan penyakit.

Obat yang hissy sebagaimana yang telah diketahui, ada dua jenis. Jenis pertama, yaitu apa – apa yang manusia peroleh dari penjelasan syari’at. Jenis yang kedua manusia peroleh dari penelitian. Maka apa- apa yang manusia temukan dalam syari’at seperti mengobati dengan madu maka perkara tersebut termasuk obat syar’i. Dan dalilnya adalah firman Allah dalam surat An-Nahl,

يخرج من بطونها شراب مختلف ألوانه فيه شفاء للناس

Keluar dari perutnya (lebah) minuman yang beraneka warna, yang di dalamnya terdapat obat bagi manusia”. (An-Nahl : 69)

Dan yang termasuk obat syar’i lainnya adalah habbatussauda’. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya habbatussauda’ adalah obat dari segala penyakit, kecuali السام’, yaitu kematian”. (HR. Bukhori no 5688 dan Muslim no. 2215). Dan termasuk daripadanya adalah kam’ah (sejenis jamur), Rasulullah bersabda tentangnya ,

الكمأة من المن وماؤها شفاء للعين

Kam’ah berasal dari manna dan airnya merupakan obat untuk penyakit ‘ain” (HR. Bukhori no 4115 dan Muslim no 3816)

Dan seorang muslim beriman atau percaya dengan perkara ini, bahkan ketika obat tersebut tidak bisa menunjukkan khasiatnya. Karena perkara tersebut bukan dikarenakan kekurangan dari sebab (yaitu obat), akan tetapi dikarenakan oleh adanya penghalang yang menghalanginya menunjukkan khasiatnya. Hal ini dikarenakan sesungguhnya sebab- sebab (yaitu obat) yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan As- Sunnah terkadang tidak menunjukkan pengaruhnya dikarenakan oleh adanya penghalang.

Adapun jenis yang kedua dari obat yang hissy, yaitu apa- apa yang ditemukan melalui penelitian atau percobaan. Dan obat jenis inilah yang banyak kita temui, sampai- sampai kita dapati orang- orang yang tidak kuliah di kedokteran pun melakukan percobaan. Bahkan obat- obat ini lebih bagus dibandingkan obat- obat yang digunakan oleh ahli medis.

Dan sampai kapanpun kita tidak boleh mengingkari perkara ini. Sesungguhnya kami banyak mendengar dari berita- berita bahwasanya telah ditemukan obat- obat yang diambil dari pepohonan dan rumput- rumput yang belum dikenal sebelumnya sebagai obat. Dan khasiat obat tersebut lebih besar dibandingkan obat- obat yang digunakan pada saat ini.

Semua hal di atas terjadi dengan qodho dan qodar-Nya. Dan telah tsabit dari Nabi shalallahu’alaihi wa sallam,

(أن الله لم ينزل داء إلا أنزل له شفاء علمه من علمه وجهله من جهله)

Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali menurunkan juga obatnya. Akan mengetahui siapa yang mengetahui, dan tidak akan mengetahui orang yang tidak mengetahui”. (Shohih Sunan Ibnu Majah no 2772)

Maka dari itu terkadang ada obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang tidak biasanya menggunakan obat itu, kemudian sembuh secara kebetulan. Maka hal ini termasuk dalam perkataan Rasulullah “Tidak akan mengetahui orang yang tidak mengetahui”. Dialah yang menurunkan penyakit, dan Dia juga yang menjadikan bagi penyakit tersebut obatnya. Dan terkadang sebuah penyakit terangkat tanpa adanya sebab (yaitu obat), karena sesungguhnya Allah Maha Mampu atas segala sesuatu.

Akhirnya aku mewasiatkan beberapa perkara kepada kalian untuk:

Mengikhlaskan niat untuk Allah ta’ala dalam pekerjaan kalian, bukan untuk mencari bonus, upah, kebanggaan, dan yang semisalnya. Akan tetapi niatkan untuk mengangkat penderitaan dan penyakit dengan takdir Allah ‘Azza wa Jalla dengan tangan- tangan kalian. Serta berbuat baik kepada orang yang kalian obati. Dan dengan mengikhlaskan niat, pengaruh amal perbuatan kalian akan baik.

Bersemangat untuk memperingatkan manusia untuk bertaubat, beristighfar, serta memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an, terutama dua kata ini yang Rasulullah berkata tentangnya,

Dua kalimat yang mudah diucapkan lisan tetapi berat di timbangan dan dicintai Ar-Rahman, yaitu ‘subhanallah wa bihamdihi subhanallahi’adhim’ “. (HR. Bukhori no 6188 dan Muslim no 4860)

Dan seorang yang sakit tidak akan terbebani dan berat untuk mengucapkan ini. Maka hendaknya mereka menyibukkan waktu mereka dengan kalimat ini.

Jika ditakdirkan orang sakit yang hampir menjumpai ajalnya, maka diwajibkan atasmu untuk mentalqinnya dengan syahadat Laa ilaaha illallah. Karena Rosululloh bersabda “Talqinlah orang yang hampir meninggal diantara kalian dengan kalimat Laa ilaaha illallah“ (HR. Muslim no 1523). Akan tetapi talqin tersebut harus dengan lemah lembut. Jangan engkau katakan “Ya fulan, katakanlah Laa ilaaha illallah ,karena ajalmu hampir tiba”, akan tetapi selalu ingatkan atau sebutkan disisinya kalimat Laa ilaaha illallah. Jika orang yang sakit tersebut kafir, kamu katakan kepadanya, “Katakanlah Laa ilaaha illallah“. Karena Nabi shalallahu’alaihi wa sallam telah berkata kepada pamannya, Abu Tholib, ketika mendekati kematiannya,

“Wahai Pamanku, katakanlah ‘Laa ilaaha illallah’, kalimat yang dengannya aku akan membelamu di sisi Allah”.( HR. Abu ’Awanah no 22)

Rasulullah juga telah berkata kepada anak kecil Yahudi di Madinah. Nabi menjenguknya. Maka ketika maut hampir datang, beliau menawarkan Islam kepadanya, kemudian anak tersebut melihat kepada ayahnya seakan- akan meminta izin. Maka ayahnya berkata “Taatilah Abu Qosim”. Maka Islamlah anak tersebut dan setelah itu Rasulullah berkata,

Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan dari neraka” (HR. Bukhori no 1268)

Dan termasuk yang aku wasiatkan kepadamu untuk mengajari mereka tata cara shalat thaharah. Ajarilah mereka sesuai kadar ilmu kalian. Hal ini dikarenakan sebagian orang yang sakit tidak bersuci sebagaimana mestinya. Sebagian orang yang sakit mengqashar shalatnya dalam keadaan dia ada di daerahnya. Dia mengaku jika diperboleh jamak maka diperbolehkan qashar. Dan perkara ini tidaklah benar. Qashar hanya diperbolehkan bagi musafir saja. Maka jika orang yang sakit tersebut sebagai contoh berasal dari Riyadh maka kita katakan tidak mengapa baginya untuk menjamak dua shalatnya jika dia merasa berat untuk shalat tepat pada waktunya masing- masing, dan dia tidak boleh mengqashar. Akan tetapi jika dia di daerah lain dan dia berobat ke Riyadh, kita katakan kepadanya, jamaklah dan qasharlah.

Jika orang yang sakit tersebut bukan dari jenis kita, maksudnya seorang laki- laki mengobati seorang wanita karena terpaksa, maka berhati- hatilah dari fitnah. Tidak boleh baginya untuk memandang kecuali sesuai dengan kebutuhan karena syaithan berjalan pada pembuluh darah anak adam. Sebagian orang berkata tentang perkara ini bahwasanya tidak mungkin seorang manusia tergerak nafsunya atau syahwatnya ketika mengobati pasien yang bukan mahram, atau ucapan yang semisalnya. Maka kita katakan ini adalah perkataan yang benar dan ini adalah asalnya. Akan tetapi apa yang kamu perkirakan jika syaithan berjalan di pembuluh darah anak Adam. Apakah tidak mungkin bagi syaithan untuk melalaikan manusia? tentu saja ini mungkin terjadi ?

Aku juga mewasiatkan kalian untuk bersemangat mengarahkan orang yang sakit ke arah kiblat ketika shalat sesuai dengan kadar yang dimampuinya. Bahkan walaupun harus mengubah posisi tempat tidur, maka lakukanlah. Jika tidak memungkinkan, maka katakan kepadanya,

(( اتق الله حيثما كنت))

“Bertaqwalah dimanapun kamu berada”. Allah berfirman,

ولله المشرق والمغرب فأينما تولوا فثم وجه الله إن الله واسع عليم

Dan kepunyaan Allah-lah barat dan timur, maka dimanapun kamu menghadapkan wajahmu maka akan menjumpai wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas dan Maha Mengetahui” (Al-Baqoroh : 115)

Allah juga berfirman,

لا يكلف الله نفساً إلا وسعها

Allah tidak membebani sebuah jiwa melainkan sesuai dengan kemampuannya” (Al-Baqoroh: 286)

Dan Allah berfirman,

فاتقوا الله ما استطعتم

Bertaqwalah kepada Allah sesuai dengan kemampuan kalian” (At-Taghobun : 16)

Dan lapangkanlah dadanya serta katakanlah kepadanya jika kamu biasanya shalat menghadap kiblat maka untukmu ditulis pahala yang sempurna ketika sakit. Berdasarkan sabda Rasulullah,

Jika seorang hamba sakit atau safar maka ditulis baginya pahala saat dia sehat atau mukim” (HR. Bukhori no 2834).

Kemudian aku wasiatkan kalian untuk berwasiat kepada orang sakit jika mereka berada dalam satu ruangan untuk tidak saling mengganggu. Hal ini dikarenakan sebagian orang, ketika dia sakit dia mengganggu temannya dengan memperdengarkan keluhan atau teriakan. Hal ini merupakan perkara yang terlarang sebagaimana mengganggu orang lain dengan bacaan Al-Quran, yaitu dengan mengeraskan bacaannya. Dan Nabi Shalallohu alaihi wa salam berkata kepada sahabatnya yang mana sebagian sahabat mengangkat suaranya ketika sholat “Janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain dalam bacaan Al-Quran“.(HR. Al-Hakim dalan mustadroknya no 1169)

Setelah itu aku wasiatkan kalian untuk tidak memperbanyak pembicaraan kepada orang sakit kecuali dengan kadar yang dibutuhkan dan dengan menjaga pandangan, karena masalah ini sangat mengkhawatirkan. Terkadang pembicaraan kepada orang yang sakit berakibat tidak baik kepada orang sakit itu. Akan tetapi tidak mengapa jika hal tersebut dibutuhkan, bersamaan dengan menjaga pandangan dan sesuai kadar kemampuan orang yang sakit.

Dan aku wasiatkan kalian untuk menjaga waktu kerja kalian. Yaitu tidak terlambat ketika datang dan pulang sebelum waktunya pulang. Karena waktu itu bukan milik kalian, dan waktu bekerja bukanlah milik manusia. Hal ini dikarenakan dia mengambil upah dari waktu itu. Maka setiap orang memperoleh kadar dari upahnya dengan bekerja. Sehingga tidak halal bagi setiap insan untuk terlambat datang dan pulang sebelum waktunya,karena  ini adalah amanah.

Serta aku berwasiat kepada kalian untuk beriman dan meyakini bahwasanya perbuatan kalian dalam mengobati bukan satu-satunya sebab dalam kesembuhan, karena sesungguhnya seluruh perkara ada di tangan Allah Azza wa jalla. Maka terkadang seorang insan melakukan sebab yang sempurna, akan tetapi perkara tersebut tidak terlaksana. Karena seluruh perkara ada di tangan Allah dan dalam permasalahan ini kita mengambil hadits “Habbatussauda adalah obat untuk segala penyakit kecuali kematian“. Berdasarkan hadits tersebut, habbatussauda mengharuskan kesembuhan semua penyakit. Akan tetapi perkara yang dimaksud bukan seperti ini. Habbatussauda merupakan sebab untuk kesembuhan tanpa diragukan lagi, namun, terkadang tidak menunjukkan khasiatnya karena adanya penghalang. Maka meskipun kamu sudah bersungguh-sungguh untuk menyembuhkan, terkadang usahamu tidak akan membuahkan hasil seperti yang kamu inginkan. Maka ketahuilah bahwa semua perkara ada di tangan Allah.

Selesai sesi muhadhoroh, selanjutnya Tanya jawab dengan beliau (pent). InsyaAllah terjmahan tanya jawab pada waktu yang akan datang.

Untuk download ebook-nya klik disini