بسم الله الرحمن الرحيم
رشادات للطبيب المسلم

Muhadhoroh bersama Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin
di Rumah Sakit di Riyadh Bagian I
14/6/1421 H
Diterjemahkan oleh Abu ‘Isa

 

Berkata Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah:

Segala puji bagi Allah, kami memuji, memohon pertolongan dan meminta ampun kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan diri- diri kami dan dari keburukan amalan kami. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan oleh-Nya, maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah yang tidak ada sekutu baginya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Semoga shalawat senantiasa tercurah kepada beliau, keluarga beliau dan para sahabat beliau dan kepada yang mengikuti beliau dengan baik sampai hari kiamat.

Amma ba’du;

Wahai saudaraku, sesungguhnya saya bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang telah memudahkan untuk bertemu dengan kalian para dokter pada malam ini, malam Selasa, tanggal 14 bulan Jumadil akhir 1421 Hijriyah. Aku memohon kepada Allah semoga menjadikan pertemuan ini pertemuan yang diberkahi, dan setelah ini, aku akan berbicara tentang pembahasan dengan izin dari Allah. Kemudian dibuka sesi tanya jawab.

Maka aku katakan wahai saudaraku,

Penyakit ada dua jenis, pertama penyakit hati dan dia adalah penyakit maknawi, dan yang kedua adalah penyakit fisik dan dia adalah penyakit hissy (yang bisa dirasakan oleh panca indera). Maka jenis penyakit yang pertama lebih utama untuk dijauhi karena dia mewariskan kebinasaan yang abadi, atau sakit yang abadi.

Penyakit hati ini mempunyai dua cabang:

Cabang yang pertama yaitu kebodohan. Maka sesungguhnya mayoritas manusia mencintai kebaikan dan berusaha untuk mendapatkannya. Akan tetapi dia dalam keadaan jahil, maka hal itu akan menyebabkan dia terjatuh pada kesalahan yang besar. Telah berkata Sufyan ibnu ‘Uyainah, semoga Allah merahmatinya:

”Barangsiapa yang rusak dari ahli ibadah umat ini, maka padanya ada keserupaan dengan nashara”,

hal ini dikarenakan nashara menginginkan kebaikan, akan tetapi mereka sesat daripadanya. Seperti pada firman Allah:

ورهبانية ابتدعوها ما كتبناها عليهم إلا ابتغاء رضوان الله

“Dan kependetaan yang mereka ada- adakan tidaklah mereka menginginkan kecuali ridho dari Allah”(Al-hadid:27).

Dan berkata Sufyan,

”Barangsiapa yang rusak  dari ulama umat ini, maka padanya ada keserupaan dengan yahudi”,

hal ini dikarenakan yahudi mengetahui yang haq, tetapi mereka menyelisihi al-haq.

Maka hal ini adalah perputaran penyakit hati. Dan kita telah mengetahui bahwa kita harus memiliki ilmu dan ketundukan, serta penerimaan terhadap syari’at. Jika kita tidak memiliki perkara tersebut, kita tidak akan mendapatkan sesuatu kecuali bencana. Bencana ini tidak seperti bencana pada badan karena bencana/ kehancuran pada badan (jasad kita) akan kembali seperti semula. Allah berfirman :

منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم

“Darinya (tanah) Kami menciptakan kalian dan padanya Kami mengembalikan kalian dan Kami membangkitkan kalian darinya”.(Thooha:55)

Akan tetapi bencana/ kehancuran pada hati hakekatnya adalah hilangnya kehidupan, karena manusia tidak bisa mengambil faedah dari keberadaannya di dunia, maka mereka merugi di dunia. Serta dia tidak bisa pula dapat diambil faedah di kehidupan akhirat.

Maka apakah kehidupan yang haqiqi itu?

Kehidupan yang haqiqi adalah kehidupan akhirat, berdasarkan firman Allah tabaaroka wa ta’ala:

وإن الدار الآخرة لهي الحيوان

“Dan sesungguhnya negeri akhirat benar- benar  الحيوان “

Berkata ahlul ‘ilmi, “الحيوان”adalah kehidupan yang sempurna. Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يومئذ يتذكر الإنسان وأنى له الذكرى* يقول ياليتني قدّمت لحياتي

“Pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu darinya. Dia berkata ‘alangkah baik kiranya dahulu aku mengerjakan amal sholeh untuk hidupku ini’ “(Al-Fajr:23).

Oleh karena itu menjadi keharusan memberikan perhatian kepada manusia dengan mengobati penyakit pada hatinya sebelum yang lainnya.

Akan tetapi, darimana kita mengambil obat untuk penyakit ini?

Jawab: Yaitu dari dua sumber dan dua asas, yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah. Dan Al-Kitab -segala puji bagi Allah- dia adalah petunjuk bagi segala sesuatu. Segala sesuatu yang dibutuhkan manusia di kehidupan dunianya dan di kehidupan akhiratnya, pasti didapatkan di Al-Qur’an, baik terdapat secara jelas ataupun tersirat kepadanya dan tahwil dari sisi yang lain (maksudnya hal tersebut disebutkan dalam al-Al-Qur’an akan tetapi perlu diubah menjadi sesuatu yang lain untuk menjadi solusi bagi manusia, Allohu A’lam ini berdasarkan penjelasan Ustadzd Abdulloh Al-atsary-pent).

Kita semua telah mengetahui bahwasanya di dalam Al-Qur’an tidak didapati penyebutan jumlah raka’at shalat dan jumlah shalat, dan tidak pula disebutkan nishab zakat dan rukun- rukun haji seperti yang telah diketahui. Akan tetapi semuanya telah dijelaskan dalam As- Sunnah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وأنزل الله عليك الكتاب والحكمة وعلمك ما لم تكن تعلم

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah dan mengajarimu apa- apa yang tidak engkau ketahui”.

Ini adalah solusi untuk penyakit yang berbahaya sebagaimana telah kami jelaskan. Dan perkara tersebut mudah bagi orang yang Allah mudahkan karena di sana ada perkara yang harus diketahui manusia dan hal tersebut mudah untuk dilakukan. Manusia dapat mengambil obat tersebut dari hadapan para ulama atau dari kitab- kitab yang ditulis oleh ulama yang terpercaya dan mengambil petunjuk darinya.

Tunggu kelanjutan Bagian 2

(Sepenggal bagian 2)  Adapun jenis penyakit yang kedua, yaitu penyakit pada  jasad. Maka dia adalah penyakit yang lebih ringan, seperti sakit pada anggota tubuh atau pada kulit dan yang selainnya, dan kalian lebih mengetahui daripada saya.

Penyakit ini mempunyai dua jenis obat. Obat yang paling berkhasiat, paling lengkap, dan paling luas manfaatnya adalah obat telah dijelaskan syari’at. Dan syari’at Islam telah datang menjelaskan obat ini, yaitu obat yang syar’i untuk tubuh. Dan aku akan menyebutkannya, insyaAllah.

Sebagai contoh Al-Qur’an Al-Karim adalah obat yang bermanfaat dan berkhasiat untuk penyakit pada jasad dan penyakit pada jiwa, serta penyakit pada akal. Tidak mungkin bagi obat yang khissy mengalahkannya. Karena obat syar’i berasal dari sisi Allah ‘Azza wa Jalla yang jika menginginkan sesuatu sesungguhnya Dia hanya berkata “kun fayakun”…………………………

Bagian 2 klik disini