Akibat Bila Terlalu Banyak Makan
Ditulis oleh : Abu Idris Carko, Dikoreksi oleh : Ustadz Sukadi

 

Alloh subhanahu wata’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ

وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus [10] : 57).

Islam adalah agama yang sempurna. Di dalamnya terdapat petunjuk dan pedoman hidup agar bahagia. Semua aspek kehidupan diatur dalam Islam. Sekalipun dalam urusan makan.

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: ”Orang yang paling banyak kenyang di dunia adalah yang paling lama lapar di akhirat.” (HR Al Bazzar).

Al Imam Ath Thabrani juga meriwayatkan dengan sanad hasan dengan lafadz: ”Orang yang banyak kenyang di dunia, mereka adalah orang yang banyak lapar di akhirat.” (HR Ath Thabrani).

Rosululloh sholallohu alaihi wasallam juga bersabda: ”Tidaklah Bani Adam memenuhi kantong yang lebih jelek dari pada perutnya. Hendaklah Bani Adam makan sekedar menegakkan punggungnya. Jika tidak bisa, maka makanlah sepertiganya untuk makanan, sepertiganya untuk minuman, dan sepertiganya untuk napasnya.” (HR Tirmidzi).

Al Imam Ash Shon’ani rohimahullohu berkata: ”Hadist ini menunjukan atas tercelanya banyak makan dan kenyang karena menimbulkan berbagai penyakit dan memberatkan seseorang untuk melaksanakan hukum syar’i/ ibadah.”

Lukman Hakim berwasiat kepada putranya: ”Wahai putraku, bila kamu penuhi lambungmu maka akan tidur pikiranmu, membisukan hikmah, mendudukan anggota badan dari beribadah. Dan perut kosong itu banyak faidahnya yaitu menjernihkan hati, mencerdaskan manusia, dan menajamkan bashiroh. Kenyang itu menyebabkan kedunguan, membutakan hati, dan memperbanyak uap dan cairan lambung.”

Berkata Imam Syafi’i rohimahullohu: ”Saya tidak pernah kenyang selama 16 tahun karena kenyang itu memberatkan badan, menghilangkan kecerdasan, membuat banyak tidur, dan melemahkan seseorang untuk melakukan ibadah.”

Inilah syari’at Islam. Tidak ada satupun yang diperintahkan kecuali akan memberikan kebaikan. Dan tidak ada satupun yang dilarang kecuali hal tersebut dapat menimbulkan kebinasaan. Setiap muslim wajib menerima perintah dan larangan walau belum diketahui hikmah di balik perintah dan larangan tersebut.

Dan walhamdulillah, saat ini dunia kedokteran dengan izin Alloh telah dapat mengetahui beberapa hikmah di balik larangan terlalu banyak makan. Di antaranya:

1.      Banyak makan menyebabkan obesitas (kegemukan)

Obesitas merupakan peningkatan massa jaringan lemak pada tubuh karena asupan energi lebih besar dari pada energi yang dikeluarkan. Penyebabnya adalah pola makan dan aktivitas fisik. Orang yang kelebihan makan, sementara aktivitas fisiknya sedikit, jelas akan mengalami obesitas.

Obesitas adalah sumber berbagai macam penyakit metabolik. Penyakit-penyakit yang dapat muncul antara lain : diabetes (penyakit gula), hipertensi (darah tinggi), penyakit jantung, dislipidemia, stenosis hati, gangguan saluran cerna, gangguan tidur, dan lain-lain.

2.      Banyak makan menyebabkan kolesterol darah tinggi

Kolesterol dibutuhkan untuk fungsi tubuh yang normal dan merupakan sumber kalori tubuh. Hepar (hati) memproduksi kolesterol yang cukup untuk kebutuhan tubuh sehingga pada dasarnya kita tidak perlu mengkonsumsi kolesterol. Bila kadar kolesterol darah tinggi, prinsip utama mengatasinya adalah dengan mengatur pola makan, mempertahankan berat badan normal, mengurangi kadar lemak darah, dan melakukan aktivitas fisik yang cukup.

Orang yang kelebihan berat badan cenderung kolesterolnya tinggi karena mengalami resistensi insulin yang menyebabkan perubahan metabolisme lemak. Kolesterol adalah lemak dalam darah, bukan lemak yang berada di bawah kulit. Jadi, bisa saja orang yang berbadan kurus kolesterolnya tinggi.

Kadar kolesterol total normal adalah 200 mg/dl. Bila kadar berlebih, akan terjadi penumpukan endapan lemak dalam pembuluh darah, kemudian menjadi plak. Plak menyebabkan penebalan dan hilangnya elastisitas dinding pembuluh darah. Ini dinamakan aterosklerosis.

Plak aterosklerosis merupakan penyebab penyakit jantung koroner dan stroke.

3.      Banyak makan menyebabkan mudah lupa (pikun)

Studi yang dilakukan di Mount Sinai School of Medicine menunjukan bahwa penderita penyakit Alzheimer (penyakit utama penyebab kepikunan) mengalami peningkatan kadar peptid beta amyloid. Peptid ini menyebabkan pembentukan plak di otak (ciri utama penyakit Alzheimer) serta mengaktifkan SIRT 1 (kelompok protein yang mempengaruhi sejumlah fungsi tubuh seperti metabolisme dan aging).

Studi ini menunjukan bahwa peptid beta amyloid di otak dapat dikurangi dengan membatasi asupan kalori. Sebaliknya, makanan tinggi kalori dan lemak jenuh tampak meningkatkan kadar peptid beta amyloid.

Bagaimana cara menghindari penyakit-penyakit di atas? Caranya adalah dengan :

1.      makan tidak berlebihan, secukupnya saja.

2.      makan yang teratur

3.      kurangi makanan berlemak, makanana cepat saji (fast food), dan tinggi kalori.

4.      memperbanyak puasa

Selain puasa wajib di bulan Romadhon, ada banyak puasa sunnah yang dapat dikerjakan. Diantaranya : puasa 6 hari di bulan syawal, puasa senin kamis, puasa dawud (sehari puasa sehari berbuka), puasa hari arofah, dan lain-lain. Tapi INGAT! Jangan melakukan puasa yang tidak disyari’atkan seperti puasa mati geni, weton, dan lain-lain. Justru puasa yang seperti ini akan membahayakan kesehatan (di dunia) dan membahayakan kita di akhirat.

5.      jangan merokok

6.      hindari minum khamr (minuman memabukan/beralkohol)

7.      hindari makanan haram seperti daging babi, darah (marus), dan lain-lain

Mari kita jaga kesehatan kita, agar dapat beribadah kepada Alloh.

Sumber rujukan :

1.            Ustadz Abdurrohim. 2004. Beberapa Faidah Ibadah Berpuasa Kita. http://www.salafy.or.id/salafy.php?menu=detil&id_artikel=764  (diakses 2 Oktober 2010)

2.            Majalah Kesehatan OTC DIGEST. Edisi 49. 2010

3.            Majalah Kesehatan OTC DIGEST. Edisi 50. 2010