Bisakah Dokter Berdakwah?

Ditulis oleh Abu Idris, dikoreksi oleh Ustadz Abu Nafi Sukadi

Pembaca yang semoga dirahmati Alloh –subhanahu wata’ala-

Dokter adalah salah satu profesi yang cukup berperan penting dalam kehidupan manusia. Dokter –dengan izin Alloh subhanahu wata’ala- membantu orang-orang yang sakit agar dapat sembuh dari penyakitnya. Orang yang tadinya meringis kesakitan dengan takdir Alloh -subhanahu wata’ala- menjadi tersenyum. Manusia menjadi dapat lebih menikmati kehidupan ini. Karena tidak ada satu pun kenikmatan dunia bisa dinikmati kecuali dengan keimanan dan kesehatan. Betapapun dia kaya raya, punya banyak makanan yang enak, punya istriyang cantik, punya kedudukan yang tinggi, dan sebagainya.

Namun, profesi yang mulia ini dapat membawa bencana tatkala tidak diiringi dengan Islam dan Iman. Tidak dibimbing dengan syari’at yang mulia yang dibawa oleh Rosululloh Muhammad sholallohu alaihi wassalam. Baik bencana bagi dirinya sendiri ataupun bagi orang lain. Bagi dokter sendiri yang paling berbahaya adalah terjatuh ke dalam larangan Alloh -subhanahu wata’ala- yang dapat menyeretnya masuk ke dalam neraka. Bagi orang lain, manakala dia menipu pasien, memberatkannya, mallpraktik, mengobati pasien dengan cara yang tidak disyari’atkan, dan lain-lain.

Para pembaca yang semoga diberi hidayah dengan keislaman

Kemudian timbul pertanyaan, apa saja kebaikan-kebaikan yang dapat diberikan oleh seorang dokter? Selain mengusahakan kesehatan (perkara dunia), bisakah dokter juga mengusahakan perkara akhirat pada orang lain? Jawabannya adalah bisa. Salah satu caranya adalah dengan ikut berdakwah.

Dakwah Illalloh

Dakwah menuju jalan Alloh -subhanahu wata’ala- maknanya mengajak orang lain agar melaksanakan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Hal itu berarti memerintahkan orang lain untuk melakukan segala kebaikan dan melarang orang lain dari segala kejelakan. Alloh menjelaskan makna dakwah dalam firmannya :

أُوْلَـئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللّهُ يَدْعُوَ إِلَى الْجَنَّةِ

”…..Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga ……” (Al Baqoroh : 221)

Makna dakwah disini adalah menyeru, mengajak serta memerintah. Alloh -subhanahu wata’ala- berfirman ketika menceritakan seorang mukmin dari kalangan pengikut fir’aun,

وَيَا قَوْمِ مَا لِي أَدْعُوكُمْ إِلَى النَّجَاةِ وَتَدْعُونَنِي إِلَى النَّارِ

”Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru aku ke neraka?” (Al Mu’min : 41)

Berdasarkan hal tersebut maka makna dakwah secara syara’ adalah mengajak orang lain agar melakukan segala perintah Alloh -subhanahu wata’ala- baik berupa ucapan atau amalan dan meninggalkan segala laranganNya baik berupa ucapan maupun perbuatan. (Fawwas bin Hulayyil, Usus manhaj as salaffi fi da’wah ilallah)

Dakwah Tauhid Adalah Misi Utama Yang Diemban Para Rasul

Tujuan pokok diutusnya para Rasul adalah menyeru umat manusia agar beribadah hanya kepada Allah semata, dan melarang dari peribadatan kepada selain-Nya, sebagaimana Allah berfirman (artinya):

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

“Sungguh tidaklah Kami mengutus seorang rasul pada setiap kelompok manusia kecuali untuk menyerukan: “Beribadalah kalian kepada Allah saja dan tinggalkan thaghut (yakni sesembahan selain Allah).” (An Nahl: 36)

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan padanya bahwa tidak ada sesembahan yang haq diibadahi melainkan Aku, maka beribadahlah kepada-Ku”. (Al Anbiya’: 25)

Nabi Nuh sebagai seorang rasul pertama mengajak umatnya kepada tauhid selama 950 tahun. Demikian pula Rasulullah sholallohu ‘alaihi wassalam selama 13 tahun tinggal di Mekkah menyeru umatnya kepada tauhid dan dilanjutkan di Madinah, sampai-sampai menjelang wafat pun beliau tetap mewanti-wanti tentang pentingnya tauhid dan bahayanya syirik, beliau berkata:

لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيآئِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani karena mereka menjadikan kuburan nabi mereka sebagai sebagai masjid-masjid.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Sebagaimana pula yang beliau wasiatkan kepada Sahabat Mu’adz bin Jabal rodiallohu anhu tatkala diutus ke negeri Yaman:

إِنَّكَ تَقْدمُ عَلَى قَوْمٍ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوْهُمْ إِلَى أَنْ يُّوَحِّدُوا اللهَ تَعَالى

“Sesungguhnya kamu akan mendatangi sekelompok kaum dari Ahlul Kitab, maka jadikanlah yang pertama kali dalam dakwahmu, (ajakan) supaya mereka mau bertauhid kepada Allah .” (HR. Muslim)

(Ma’had As Salafy Jember, http://www.assalafy.org/mahad/?cat=4)

Amar Ma’ruf Nahi Munkar Bagian dari Dakwah

Ini merupakan ciri khas dari umat Islam yang menjadi tiang dasar dibangunnya kemaslahatan di masyrakat. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, beliau berkata : ”Amar ma’ruf nahi munkar adalah sebagai tiang dibangunnya kemaslahatan masyarakat dan sebagai ciri yang dimiliki oleh umat ini, Alloh -subhanahu wata’ala- berfirman :

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali ’Imran : 110)

Tatkala kita meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar niscaya masyarakat akan rusak, berakhlaq bejat, dan buruk dalam bermuamalah.”

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu mengatakan : ”Amar ma’ruf nahi munkar tidak dikhususkan pada satu orang saja, tetapi ia diwajibkan pada setiap muslin baik laki-laki maupun perempuan, yang alim maupun orang awam bergantung pada kemampuan dan amalannya.”

Ibnu Daqiqil ’Ied berkata : ”Para ulama berkata : ’Tugas amar ma’ruf nahi munkar tidak hanya menjadi kewajiban para penguasa, tetapi tugas setiap muslim.’ Yang diperintahkan melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah orang yang mengetahui tentang apa yang dinilai sebagai hal yang ma’ruf atau munkar. Bila berkaitan dengan hal yang jelas, seperti shalat, puasa, zakat, zina, khamr, dan semacamnya maka setiap muslim wajib mencegahnya karena ia sudah mengetahui hal ini. Akan tetapi, dalam perbuatan dan perkataan yang rumit dan hal-hal yang berkaitan dengan ijtihad yang golongan awan tidak banyak mengetahuinya, maka mereka tidaklah punya wewenang untuk melakukan nahi munkar. Hal ini menjadi wewenang ulama. Dan para ulama hanya dapat mencegah kemungkaran yang sudah jelas ijma’nya. Adapun dalam hal yang masih diperselisihkan, maka dalam hal yang semacam ini tidak dapat dilakukan nahi munkar, sebab setiap orang berhak memilih salah satu dari dua macam hasil ijtihad. Sedang pendapat setiap mujtahid itu dinilai benar sesuai keyakinannya masing-masing. Inilah pendapat yang dipilih oleh sebagian besar ulama muhaqiq.”

Bagaimana cara dokter berdakwah?

Setelah membaca penjelasan di atas, maka dapat diketahui bahwa dokter atau mahasiswa kedokteran atau profesi-profesi yang lain pun memiliki kewajiban untuk berdakwah sesuai dengan kemampuannya. Seorang mahasiswa kedokteran misalnya, dia dapat mengingatkan teman-temannya untuk selalu mentauhidkan Alloh, menjauhi kesyirikan (seperti percaya pada ramalan, dukun, dll), untuk tidak lupa shalat lima waktu, berpuasa, mencegah ihtilath (campur baur laki-laki dan perempuan yang bukan mahram), mengajak untuk memakai hijab (jilbab) yang syar’i, mengajak untuk menuntu ilmu syar’i, dan masih banyak lagi perkara-perkara yang lain.

Begitu pula halnya dengan seorang dokter, senantiasa mengingatkan pasien bahwa sakit itu atas takdir Alloh dan hanya Alloh lah yang dapat menyembuhkan, sedangkan obat yang diminum hanyalah perantara /sebab saja. Dokter juga dapat mengingatkan pasien agar hanya bertawakal kepada Alloh, meminta kepada Alloh, mengajarkan doa-doa syar’i dan ruqyah yang sesuai dengan tuntunan Rosululloh. Bila dokter diberi amanah oleh Alloh -subhanahu wata’ala- untuk memimpin rumah sakit atau puskesmas maka dia menggunakan kedudukannya untuk amar ma’ruf nahi munkar, misalnya berusaha membuat kebijakan agar tidak terjadi ihtilath antara sesama dokter, atau dokter dengan pasien; menyediakan waktu khusus bagi bawahannya untuk dapat menuntut ilmu syar’i; dan lain sebagainya.

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu dalam kitab Taujihul Muslimin ila Thariqin Nashr wat Tamkin menjelaskan, ”Dalam beramar ma’ruf nahi munkar hendaknya terpenuhi beberapa syarat, antara lain :

  1. hendaknya ajakan dan pencegahannya itu secara halus sehingga dapat diterima oleh jiwa-jiwa manusia.
  2. hendaknya orang yang beramar ma’ruf nahi munkar itu mengetahui tentang halal haram dalam apa-apa yang ia dakwahkan.
  3. alangkah baiknya jika orang yang beramar ma’ruf nahi munkar melakukan apa yang ia serukan dan menjauhi apa yang ia cegah.
  4. ikhlas dalam beramal
  5. punya sifat pemberani dan tidak takut terhadap celaan.

Keutamaan berdakwah

Cukuplah kami sampaikan sebuah ayat dan sebuah hadist Rosululloh sholallohu ’alaihi wassalam yang menunjukan keutamaan dakwah ilalloh. Alloh -subhanahu wata’ala- berfirman :

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحاً وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ’Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” (Fushshilat : 33)

Nabi sholallohu ‘alaihi wassalam bersabda : “Demi Alloh, sungguh Alloh memberikan hidayah kepada satu orang melaluimu adalah lebih baik dari pada kamu memiliki unta merah (unta yang mahal di Arab)” (HR. Al Bukhori dalam kitab Al Jihad, 6/211, no 2942)

Demikianlah apa yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat. Semoga kita semua (mahasiswa dan dokter) bisa menjadi dokter yang ikhlas hanya mengharap ridho Alloh -subhanahu wata’ala- yang dapat memberikan manfaat kepada saudara muslim lainnya baik untuk kesehatan fisiknya juga kesehatan jiwanya. Dan untuk dapat melakukan itu semua, kita harus belajar ilmu syar’i (yang utama). Mari kita semua menjadi orang yang belajar sepanjang hayat.

Sumber tulisan :

  1. Buletin Kajian Media Cerebri FKUNS Angkatan 2008. Edisi 3 / Muharram 1431 H (Januari 2010). Telah dikoreksi oleh Ustadz Abu Nashim Mukhtar
  2. Ma’had As Salafy Jember dengan judul “Kewajiban Bertauhid dan Menjauhi Kesyirikan” pada kategori Aqidah. http://www.assalafy.org/mahad/?cat=4 (Akses 21 Januari 2010)
  3. Al Quranul Kariim Digital Versi 1.1 (untuk mencantumkan ayat Al Quran)