Ditulis oleh Carko Budiyanto

Kekebalan Tubuh

Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis unsur penyakit (patogen), misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa, dan parasit, yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada orang normal umumnya singkat dan jarang menimbulkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memiliki suatu sistem yang disebut sistem imun (kekebalan) yang memberikan respon dan melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen tersebut.

Bila sistem imun terpapar pada zat yang dianggap asing, maka ada 2 jenis respon imun yang akan terjadi, yaitu :

  1. respon imun nonspesifik.

Respon imun nonspesifik umumnya merupakan kekebalan bawaan dalam arti bahwa respon terhadap zat asing dapat terjadi walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar pada zat tersebut.

  1. respon imun spesifik.

Respon imun spesifik merupakan respon didapat yang timbul terhadap zat asing tertentu, terhadap mana tubuh pernah terpapar sebelumnya. Respon imun jenis ini memiliki memori sehingga paparan berikutnya akan meningkatkan keefektifan mekanisme pertahanan tubuh. Sifat demikian tidak dimiliki oleh sistem imun bawaan. Respon imun spesifik merupakan dasar dilakukannya vaksinasi.

Dilihat dari cara timbulnya, terdapat 2 jenis kekebalan, yaitu kekebalan pasif dan kekebalan aktif. Kekebalan pasif adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh, bukan dibuat oleh individu itu sendiri. Contohnya adalah kekebalan pada janin yang diperoleh dari ibu atau kekebalan yang diperoleh setelah pemberian suntikan imunoglobulin. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan dimetabolisme oleh tubuh. Waktu paruh IgG misalnya adalah 28 hari, sedangkan yang lainnya lebih pendek. Kekebalan aktif adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen (zat asing) seperti pada vaksinasi, atau terpajan secara alamiah.

Berdasarkan respon yang terjadi kekebalan aktif dibagi 2, yaitu respon primer dan respon sekunder. Respon imun primer adalah respon imun yang terjadi pada pajanan pertama kalinya dengan antigen. Antibodi yang terbentuk pada respon imun primer kebanyakan adalah IgM dan IgG dengan titer yang lebih rendah dibandingkan dengan respon imun sekunder, demikian pula dengan afinitasnya serta lag phase (waktu yang dibutuhkan tubuh untuk memberi respon) lebih lama. Respon imun sekunder terjadi pada pajanan kedua dan seterusnya, terhadap zat asing. Antibodi yang dibentuk terutama IgG dengan titer (jumlah) yang lebih besar dan afinitas yang lebih tinggi serta lag phase yang singkat. Nah, inilah yang dijadikan dasar vaksinasi. Tubuh bayi yang belum pernah terpajan zat asing diberi vaksin sehingga akan terbentuk respon imun primer. Bila suatu saat, bayi terpajan oleh kuman (zat asing) yang sesungguhnya, maka akan terbentuk respon imun sekunder sehingga tubuh akan lebih banyak, lebih cepat, dan lebih kuat memberantas zat asing tersebut dan tidak menimbulkan sakit.

Aspek Imunisasi

Perlu diketahui bahwa istilah imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama. Padahal, tidak lah sama. Imunisasi adalah suatu proses yang bertujuan untuk membuat tubuh kebal terhadap suatu penyakit. Imunisasi dibagi menjadi 2, yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan kepada tubuh dari antigen yang berasal dari suatu patogen, dengan harapan tubuh akan membentuk sistem kekebalan terhadap patogen tersebut. Imunisasi aktif sering disebut dengan vaksinasi.

Sedangkan imunisasi pasif adalah memberikan imunoglobulin (kekebalan yang sudah jadi) kepada tubuh seseorang sehingga dapat memberikan perlindungan dengan segera dan cepat yang seringkali dapat terhindar dari kematian. Hanya saja perlindungan tersebut tidaklah permanen melainkan berlangsung beberapa minggu saja. Demikian pula cara tersebut adalah mahal dan memungkinkan anak justru menjadi sakit karena secara kebetulan atau karena suatu kecelakaan serum yang diberikan tidak bersih dan masih mengandung kuman yang aktif.

Dengan demikian vaksinasi dengan imunisasi tidak lah sama. Vaksinasi adalah bagian dari imunisasi. Namun, tidak semua imunisasi adalah vaksinasi.

Jenis-Jenis Vaksin

Pada dasarnya vaksin dibuat dari :

  1. Kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan.

Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar penyebab penyakit. Virus atau bakteri liar ini dilemahkan di laboratorium, biasanya dengan cara pembiakan berulang-ulang, misalnya vaksin campak yang dipakai sampai sekarang, diisolasi untuk mengubah virus liar campak menjadi virus vaksin dibutuhkan 10 tahun dengan cara melakukan penanaman pada jaringan media pembiakan secara serial dari seorang anak yang menderita penyakit campak pada tahun 1954.

Vaksin yang dimatikan dihasilkan dengan cara membiakan bakteri atau virus dalam media pembiakan, kemudian dibuat tidak aktif dengan penambahan bahan kimia (biasanya formalin).

Contoh vaksin yang dimatikan : vaksin polio salk, vaksin batuk rejan. Contoh vaksin yang dilemahkan : vaksin BCG, vaksin polio sabin, vaksin campak.

Adapun media pembiakan (tempat menumbuhkan kuman sehinga menjadi banyak sebelum dibuat vaksin) itu bermacam-macam. Kuman penyebab demam kuning ditumbuhkan di dalam media yang terbuat dari embrio ayam, kuman polio ditumbuhkan dalam media yang terbuat dari sel ginjal monyet, kuman tuberkulosis (BCG) ditumbuhkan dalam media bakteriologik.

Jadi tidak seperti yang ditanyakan oleh ummi syakir di atas, vaksin tidak lah mengandung bahan-bahan seperti sel ginjal monyet, sel kanker, atau sel babi. Hanya saja kuman yang dibuat vaksin harus ditumbuhkan dulu di media pembiakan yang sudah kami sebutkan di atas, sebelum dijadikan vaksin. Kenapa harus dibiakan? Agar didapatkan kuman yang lemah atau mati sehingga tidak menyebabkan sakit pada bayi.

  1. Zat racun (toxin) yang telah dilemahkan (toxoid).

Vaksin jenis ini dibuat dengan mengambil zat racun dari kuman. Contoh : toksoid tetanus, toksoid difteri.

  1. Bagian kuman tertentu atau komponen kuman yang biasanya berupa protein khusus.

Vaksin jenis ini, organisme tersebut dibuat murni dan hanya komponen-komponennya yang dimasukkan dalam vaksin, seperti kapsul polisakarida, bagian fraksional yang masuk sub unit kuman. Contoh : Hepatitis B, pertusis, Tifoid Vi, pneumokokus, meningokokus.

Untuk meningkatkan imunogenitas (kekuatan yang dapat menimbulkan kekebalan) vaksin perlu diberi zat tambahan, yang dinamakan adjuvan. Misalnya, vaksin tetanus toxoid sering berisi garam alumunium. Garam ini akan berinteraksi dengan toxoid secara ionik sehingga dapat menstimulasi respon imun. Toxin pertusis dapat menjadi adjuvan dari toxoid tetanus dan toxoid difteri, sehingga dapat dikombinasikan menjadi vaksin DPT.

Keberhasilan Imunisasi

Terkadang anak yang sudah diimunisasi masih tetap terkena penyakit. Jadi tidak semua anak yang diimunisasi terbebas dari serangan penyakit. Semua itu tergantung seberapa tingkat keberhasilan imunisasi yang dilakukan. Begitu pula, waktu perlindungan yang terjadi pun bervariasi. Ada anak yang terlindung dalam waktu yang lama, ada pula yang terlindung hanya sebentar saja. Keberhasilan imunisasi tergantung pada beberapa faktor :

  1. Waktu pemberian

Vaksin yang diberikan ketika anak masih memiliki kadar antibodi dari ibunya yang masih tinggi akan memberikan hasil yang kurang memuaskan. Begitu juga anak yang masih berumur kurang dari 5 bulan dan mendapatkan ASI, mempengaruhi keberhasilan vaksinasi polio. Oleh karena itu perlu pemberian vaksin berulang, dan hendaknya ASI jangan diberikan dahulu 2 jam sebelum dan sesudah vaksinasi.

  1. Kematangan imunologik

Pada bayi belum memiliki fungsi imun yang matang sehingga akan memberikan hasil yang kurang dibandingkan pada anak. Maka, bila imunisasi diberikan sebelum berumur 2 bulan, jangan lupa imunisasi berulang.

  1. Status imun

Individu yang imunnya lemah, seperti mendapat obat imunosupresan, sedang infeksi, maka akan mempengaruhi keberhasilan.

  1. Keadaan gizi

Gizi yang kurang menyebabkan kemampuan sistem imun lemah. Meskipun kadar imunoglobulin normal atau meningkat, tidak mampu mengikat antigen dengan baik karena kekurangan asam amino yang dibutuhkan dalam pembuatan antibodi.

  1. Faktor genetik (keturunan)

Ada beberapa orang yang memang dari lahir memiliki kemampuan sistem imun yang kurang baik atau tidak berespon dengan baik terhadap vaksinasi.

  1. Cara pemberian vaksin

Cara pemberian mempengaruhi respon yang timbul. Vaksin polio oral (lewat mulut) akan menimbulkan imunitas lokal dan sistemik. Sedangkan vaksin polio parenteral (disuntikan) hanya memberikan kekebalan sistemik saja.

  1. Dosis vaksin

Dosis yang terlalu sedikit akan menimbulkan respon yang kurang pula. Dan dosis yang terlalu tinggi akan menghambat sistem kekebalan yang diharapkan.

  1. Frekuensi pemberian

Jarak pemberian yang terlalu dekat, hal mana kadar antibodi masih tinggi, maka antigen yang masuk segera dinetralkan oleh antibodi tersebut sehingga tidak sempat merangsang sistem kekebalan.

  1. Adjuvan yang digunakan

Adjuvan penting untuk meningkatkan imunogenitas.

  1. Jenis vaksin

Vaksin hidup akan menimbulkan respon imun yang lebih baik dibanding vaksin mati.

Imunisasi Pasif

Sudah disebutkan di atas bahwa imunisasi pasif adalah memberikan antibodi yang sudah jadi kepada seseorang. Imunisasi pasif diberikan kepada :

  1. seseorang yang mengalami defisiensi sistesis antibodi (orang yang tidak mampu membuat kekebalan sendiri).
  2. pasien yang sedang menderita sakit dan ada kemungkinan besar terkena infeksi lain (misalnya pasien leukemia yang terpapar varisela), atau kepada orang yang terpapar tetapi belum pernah divaksinasi.
  3. sebagai tindakan pengobatan untuk membantu menekan efek toxin (pada pasien difteri, tetanus).

Jenis antibodi yang dapat diberikan :

  1. Imunoglobulin. Dibuat dari derivat plasma pasien dewasa yang diproses melalui fraksinasi alkohol, steril dan tidak tercemar. Imunoglobulin merupakan fraksi primer (95%) sisanya IgA dan IgM.
  2. Imunoglobulin spesifik, diproduksi dari donor yang diseleksi. Contoh : imunoglbulin hepatitis A.
  3. Plasma manusia. Biasanya diberikan pada kasus luka bakar.
  4. Antibodi hewan. Dibuat dari serum kuda, dengan cara mengendapkan fraksi globulin serum dengan amonium sulfat. Produk ini dipakai sangat terbatas, yaitu apabila preparat dari manusia tidak tersedia.

Seperti yang ditanyakan Ummi Syakir, apakah vaksin isinya adalah serum atau cairan sapi, babi, kuda. Jawabannya adalah tidak. Yang benar adalah yang mengandung cairan hewan adalah antibodi yang digunakan untuk imunisasi pasif. Antibodi ini diambil dari serum kuda.

Jadwal Imunisasi

Berdasarkan panduan imunisasi di Puskesmas di Solo dan sekitarnya adalah sebagai berikut :

  1. Bila bayi lahir di rumah

Umur bayi

Vaksin yang diberikan

0 bulan / langsung setelah lahir

Hepatitis B-1

1 bulan

BCG, Polio-1

2 bulan

DPT-1, Hepatitis B-2, Polio-2

3 bulan

DPT-2, Hepatitis B-3, Polio-3

4 bulan

DPT-3, Polio-4

9 bulan

Campak

  1. Bila bayi lahir di rumah sakit, pondok bersalin, bidan praktik, atau tempat pelayanan lain

Umur bayi

Vaksin yang diberikan

0 bulan / langsung setelah lahir

Hepatitis B-1, BCG, Polio-1

2 bulan

DPT-1, Hepatitis B-2, Polio-2

3 bulan

DPT-2, Hepatitis B-3, Polio-3

4 bulan

DPT-3, Polio-4

9 bulan

Campak

  1. Bila ada vaksin kombinasi

Umur bayi

Vaksin yang diberikan

0 bulan / langsung setelah lahir

Hepatitis B-1, BCG, Polio-1

2 bulan

DPT-Hepatitis B-1, Polio-2

3 bulan

DPT-Hepatitis B-2, Polio-3

4 bulan

DPT- Hepatitis B-3, Polio-4

9 bulan

Campak

  1. Imunisasi pada anak sekolah (SD)

Kelas

Vaksin yang diberikan

1

Difteri, Tetanus, Campak

2

Tetanus toksoid

3

Tetanus toksoid

Adapun jadwal berdasarkan Satgas Imunisasi PP IDAI tahun 2004 :

Umur

Vaksin

Keterangan

Lahir

Hepatitis B-1, Polio-0

Hepatitis B-1 diberikan 12 jam setelah lahir. Polio saat kunjungan pertama.

1 bulan

Hepatitis B-2

0-2 bulan

BCG

2 bulan

DPT-1, Hib-1, Polio-1

4 bulan

DPT-2, Hib-2, Polio-2

6 bulan

DPT-3, Hib-3, Polio-3

6 bulan

Hepatitis B-3

9 bulan

Campak-1

15-18 bulan

MMR, Hib-4

18 bulan

DPT-4, Polio-4

2 tahun

Hepatitis A

Diberikan 2 x, interval 6-12 bulan

2-3 tahun

Tifoid

Diulang tiap 3 tahun

5 tahun

DPT-5, Polio-5

6 tahun

MMR

10 tahun

DT/TT, Varisela

DT/TT (tetanus) untuk perlindungan 25 tahun

Pertanyaan

Berikut ini pertanyaan seputar imunisasi

  1. Mengapa jadwal imunisasi di tiap tempat berbeda?

Perbedaan jadwal imunisasi pada kurun waktu yang berbeda di beberapa praktik dokter antara lain karena sumber rujukan yang berbeda, adanya pergeseran epidemiologi penyakit tertentu, adanya modifikasi untuk memudahkan orang tua, atau pertimbangan khusus berdasarkan keadaan bayi dan anak pada saat itu. Apabila diamati lebih teliti, jadwal yang seolah berbeda-beda tersebut umumnya masih berada di dalam rentang umur yang dianjurkan Depkes maupun IDAI.

  1. Jika pada usia balita sudah diimunisasi lengkap, apakah di sekolah perlu diimunisasi lagi? Mengapa perlu?

Imunisasi yang perlu diberika ulangan pada SD yaitu campak, DT, TT. Banyak anak yang sudah divaksinasi campak waktu bayi ternyata pada umur 5-7 tahun 28,3% masih terkena campak.

  1. Pada keadaan bagaimana sajakah bayi/anak boleh diimunisasi (bukan kontraindikasi)?

Bayi boleh diimunisasi pada keadaan alergi atau asma (kecuali alergi terhadap komponen vaksin), sakit ringan seperti ISPA atau diare dengan suhu < 38,5 C, riwayat keluarga tentang peristiwa membahayakan setelah imunisasi, dalam pengobatan antibiotik, dugaan infeksi HIV atau positif HIV tanpa gejala AIDS, anak diberi ASI, sakit kronis seperti jantung kronis, kondisi saraf labil seperti sindrom down, prematur atau berat bayi lahir rendah, kurang gizi, riwayat sakit kuning pada kelahiran.

  1. Jika sedang minum obat lain bolehkah diimunisasi?

Bila sedang minum prednison 2 mg/kgBB/hari, diajurkan imunisasi ditunda 1 bulan setelah selesai pengobatan.

  1. Bila sering menggunakan steroid inhalasi (obat asma hirup), bolehkah diimunisasi?

Boleh karena steroid inhalasi tidak menekan sistem imun asal sesuai dosis yang dianjurkan.

  1. Sesudah imunisasi apakah pasti tidak akan tertular penyakit tersebut?

Masih dapat tertular, namun jauh lebih ringan dibanding terkena penyakit secara alamiah.

  1. Apakah jadwal imunisasi untuk bayi prematur harus ditunda?

Ya, untuk vaksin polio oral, DPT, Hepatitis B, dan Hib sebaiknya diberikan sesudah bayi berumur 2 bulan atau BB 2000 gram.

  1. Bagaimana jika bayi memuntahkan vaksin polio?

Jika muntah terjadi sebelum 10 menit segera berikan lagi vaksin polio dengan dosis sama. Jika muntah berulang, berikan lagi pada keesokan harinya.

  1. Apabila jarak antar imunisasi lebih lama dari jarak yang dianjurkan, apakah vaksinasi perlu diulang?

Tidak perlu diulang karena sistem imun tubuh dapat mengingat rangsangan vaksin terdahulu. Lanjutka dengan vaksin yang belum diberikan dengan jarak sesuai anjuran.

  1. Apabila diberi beberapa vaksin sekaligus, apakah tidak berbahaya?

Tidak berbahaya, asalkan imunisasi dilakukan di bagian tubuh yang letaknya berjauhan, menggunakan alat suntik yang berlainan dan memperhatikan ketentuan umum pemberian vaksin.

  1. Apabila anak sudah pernah sakit campak, rubela, atau batuk rejan, bolehkah diimunisasi untuk penyakit tersebut?

Boleh, walaupun ada riwayat pernah menderita penyakit tersebut, vaksinasi tidak berbahaya, justru akan meningkatkan kekebalan dan tidak menimbulkan risiko.

PENUTUP

Demikian yang dapat saya uraikan untuk menjawab pertanyaan Ummi Syakir. Terima kasih atas pertanyaannya. Semoga sedikit yang saya sampaikan ini, dapat bermanfaat. Mohon maaf bila ada kesalahan, saya sangat mengharap saran dan kritik yang membangun, sehingga dapat menjadi lebih baik lagi.

Daftar Pustaka

  1. Depkes RI. 2005. Modul 1 Pelatihan Safe Injection, Pengenalan Penyakit dan Vaksin Program Imunisasi. Diperbanyak oleh Dinkes Jateng.
  2. Ganong, William F. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 17th . Jakarta: EGC.
  3. Guyton, AC. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 9th . Jakarta: EGC.
  4. Kresno, Siti Boedina. 2003. Imunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
  5. Satgas Imunisasi-IDAI. 2005. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Ed : 2. Jakarta : Badan Penerbit Pengurus Ikatan Dokter Anak Indonesia.
  6. Tim Field Lab FKUNS. 2008. Ketrampilan Imunisasi. Surakarta : FKUNS
  7. Widmann, Frances K. 1995. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC.

Artikel terkait :

  1. perlukah imunisasi?
  2. Hukum Memberi Vaksin kepada Anak (dalam Islam)