Ditulis oleh Carko Budiyanto, Tutor : dr. Margono, MKK. Kategori : kedokteran

Latar Belakang Masalah

Stroke adalah penyebab kematian tersering ketiga pada orang dewasa di Amerika Serikat. Angka kematian setiap tahun akibat stroke baru atau rekuren adalah lebih dari 200ribu. Di Amerika Serikat perempuan membentuk lebih dari separuh kasus stroke yang meninggal, lebih dari dua kali dari jumlah perempuan yang meninggal akibat kanker payudara. Empat juta orang Amerika mengalami deficit neurologic akibat storke. Kemungkinan meninggal adalah 30-35%, dan kemungkinan kecacatan mayor pada yang selamat adalah 35-40% (Price dan Wilson, 2006). Di dunia, stroke menempati urutan kedua setelah penyakit jantung, baru kemudian diikuti oleh kanker sebagai urutan ketiga.

Melihat fenomena di atas, storke merupakan penyakit yang menjadi momok bagi manusia. Selain itu, stroke menyerang dengan tiba-tiba. Orang yang menderita stroke sering tidak menyadari bahwa dia terkena stroke. Tiba-tiba saja, penderita merasakan dan mengalami kelainan seperti lumpuh pada sebagian sisi tubuhnya (hemiplegia), bicara pelo, pandangan kabur, dan lain sebagainya tergantung bagian otak mana yang terkena.

Definisi Masalah

Keluhan utama : anggota gerak sebelah kanan kesemutan, tidak bisa digerakan, dan bicara pelo.

Riwayat Penyakit : sudah 4 tahun menderita hipertensi, 1 tahun yang lalu mondok di RS dengan keluhan sama, jadi sering lupa; 2 hari lalu sulit bicara dan sembuh sendiri, 8 jam yang lalu jatuh dan merasakan keluhan utama; tidak ada penurunan kesadaran, nyeri kepala dan muntah; pasien perokok berat, suka makan makanan berlemak, dan kurang olahraga.

Area Fungsional Serebrum

Beberapa daerah tertentu korteks serebri telah diketahui memiliki fungsi spesifik. Brodmann telah membagi korteks serebri menjadi 47 area berdasar struktur selular. Korteks serebri memiliki area primer dan asosiasi untuk berbagai fungsi. Area primer adalah daerah dimana terjadi persepsi atau gerakan. Area asosiasi diperlukan untuk integrasi dan peningkatan perilaku dan intelektual (Budianto, 2005).

Korteks frontalis merupakan area motorik primer yaitu area 4 Brodmann yang bertanggung jawab untuk gerakan-gerakan volunter. Area ini terletak di sepanjang gyrus presentralis. Korteks pramotorik, area 6, bertanggungjawab atas gerakan terlatih seperti menulis, mengemudi, atau mengetik. Area 8 dinamakan lapang pandang frontal, bersama area 6, bertanggung jawab atas gerakan menyidik volunteer dan deviasi konjugat dari mata dan kepala. Gerakan mata volunteer mendapat input dari area 4, 6, 8,9, dan 46 (Price dan Wilson, 2006).

Area 44 dan 45 adalah area bicara motorik broca, bertanggung jawab atas pelaksanaan motorik bicara. Apabila lesi akan menyebabkan gangguan bicara (afasia) (Mardjono dan Sidharta, 2008).

Area Wernicke adalah area bicara sensorik, dihubungkan dengan area broca oleh berkas serabut saraf yang disebut fasciculus arcuata. Area ini membentuk pemahaman bahasa tulisan dan lisan serta memungkinkan orang dapat membaca sebuah kalimat, mengerti kalimat tersebut, dan mengucapkannya dengan suara keras (Snell, 2007).

Keadaan bangun dan tingkat kesadaran dikendalikan oleh formation retikularis. Jaras asendens multiple yang membawa informasi sensorik ke pusat-pusat yang lebih tinggi dihantarkan melalui formation reticularis yang akan memproyeksikan informasi ini ke berbagai bagian cortex serebri, serta menyebabkan seseorang yang sedang tidur terbangun. Bahkan, saat ini diyakini bahwa keadaan sadar bergantung pada proyeksi informasi sensorik yang konmtinu ke korteks (Snell, 2007).

Telah diketahui bahwa hipokampus berkaitan dengan perubahan memori baru menjadi memori jangka panjang. Lesi pada area ini menyebabkan hilangnya ingatan baru. Memori kejadian masa lalu yang sudah tersimpan sebelum timbul lesi biasanya tidak terpengaruh (Price dan Wilson, 2006; Snell, 2007).

Vaskularisasi Serebrum

Otak divascularisasi oleh cabang-cabang dari dua arteri utama, yaitu a. carotis interna dan a. vertebralis. Circulus arteriosus cerebri willisi merupakan anastomose dari keempat arteri (arteri-arteri carotis interna dan vertebralis) yang terletak di dasar otak dan terbentuk oleh : a. cerebri anterior, a. comunicans anterior, a. carotis interna, a. cerebri posterior, dan a. communicans posterior. Setiap a. cerebri memvaskularisasi permukaan dan bagian otak tertentu. Secara umum pembagiannya sebagai berikut :

A. cerebri anterior, memvaskularisasi sebagian besar permukaan medial dan superior, serta daerah frontal.

A. cerebri media, memvaskularisasi permukaan lateral, daerah temporal, dan parietal.

A. cerebri posterior, memvaskularisasi permukaan inferior dan daerah occipital (Budianto, 2005).

Gambaran Umum Stroke

Stroke adalah penyakit serebrovaskular mangacu pada setiap gangguan neurologic mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui system suplai arteri otak. Stroke diklasifikasikan menjadi dua kategori utama, yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke iskemik disebabkan oleh sumbatan pada pembuluh darah, dibagi dua, akibat trombotik dan embolik. Sedangkan stroke hemoragik disebabkan perdarahan, baik perdarahan intraserebral maupun subarachnoid (Price dan Wilson, 2006; Sidharta, 2008).

Sekitar 80-85% stroke adalah stroke iskemik. Penyumbatan pada satu arteri menyebabkan gangguan di area otak yang terbatas. Mekanisme dasar kerusakan ini adalah selalu defisiensi energy yang disebabkan oleh iskemia (Silbernagl dan Lang, 2007).

Stroke trombotik sebagian besar terjadi saat tidur, saat pasien relative mengalami dehidrasi dan dinamika sirkulasi menurun. Thrombosis pembuluh otak cenderung memiliki awitan bertahap, pola ini menyebabkan timbulnya istilah stroke in evolution. Gejala hilang timbul berganti-ganti secara cepat. Pasien mungkin sudah mengalami beberapa kali TIA (transien iskemik attack) sebelum akhirnya mengalami stroke (Price dan Wilson, 2006).

Stroke embolik dapat berasal dari embolus arteri distal atau jantung. Stroke biasanya mendadak dengan efek maksimum sejak awitan pertama. Biasanya serangan terjadi saat pasien sedang beraktivitas.

Stroke akibat perdarahan intraserebrum paling sering dipicu oleh hipertensi dan rupture salah satu arteri otak. Serangan paling sering terjadi saat pasien terjaga dan aktif, sehingga kejadiannya disaksikan orang lain. Karena lokasinya berdekatan dengan arteri-arteri dalam, stroke menimbulkan defisist yang sangat merugikan. Hemplegia merupakan tanda khas pertama keterlibatan capsula interna. Angka kematian mendekati 50%.

Stroke akibat perdarahan subarachnoid memiliki dua kasus utama : rupture aneurisma vascular dan trauma kepala. Tempat aneurisma yang lazim adalah sirkulus willisi (Price dan Wilson, 2006).

Faktor Risiko Stroke

Umur, lebih tua lebih mungkin mengidap stroke.

Hipertensi merupakan factor risiko baik untuk orang tua maupun dewasa muda.

DM. orang dengan terapi insulin risiko lebih besar.

Genetic.

Riwayat penyakit jantung.

Merokok, kurang olahraga.

Obat antihamil bagi wanita (Sidharta, 2008).

Evaluasi Stroke

Evaluasi stroke meliputi anamnesis gejala dan tanda, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis selain gejala dan tanda, dievaluasi juga kebiasaan penderita, riwayat, dan factor-faktor risiko lainnya. Pada pemeriksaan penunjang dapat digunakan CT scan dan MRI (Price dan Wilson, 2006; Sidharta, 2008).

Pembahasan Masalah

Pada kasus di atas, penderita mengalami lumpuh di salah satu sisi tubuhnya. Keadaan ini dinamakan hemiplegia. Ada beberapa penyakit yang dapat dijadikan diagnosis banding dengan gejala hemiplegia :

Tumor otak.

Stroke

Radang intracranial.

Abses serebri.

Jika dihubungkan dengan riwayat penyakit sebelumnya, maka diagnosis yang paling mendekati adalah stroke. Pertama, kebiasaan pasien yang buruk yang merupakan factor risiko terjadinya stroke.

Merokok adalah kegemaran pasien. Telah diketahui bahwa di dalam rokok terdapat banyak sekali zat-zat berbahaya. Diantara yang paling berbahaya adalah tar dan nikotin. Tar bersifat lengket dan dapat menempel pada permukaan paru-paru, sehingga menghalangi difusi oksigen di alveolus. Sedikitnya oksigen yang terikat dalam eritrosit, menyebabkan distribusi oksigen ke otak juga terganggu. Nikotin dapat masuk ke dalam aliran darah. Nikotin dapat menjadikan darah lebih kental sehingga memicu terjadinya sumbatan pembuluh darah. Jika sumbatan ini terjadi dalam arteri otak, maka dapat mengakibatkan stroke.

Makan makanan berlemak akan meningkatkan kadar lipid dalam darah. Lipid yang tinggi lama-kelamaan tertimbun dan mengendap dalam pembuluh darah. Timbunan ini mengakibatkan pembuluh darah menyempit dan terjadilah arteriosklerosis. Arteriosklerosis adalah pemicu utama terjadinya penyumbatan pembuluh darah sehingga terjadilah stroke.

Pasien juga kurang berolahraga. Keadaan ini menurunkan kemampuan eritrosit mengikat oksigen. Selain itu kurang olahraga dapat mempermudah terjadinya embolus.

Kedua, pasien memiliki penyakit hipertensi sejak empat tahun yang lalu. Hipertensi adalah salah satu factor risiko terjadinya stroke.

Ketiga, riwayat pasien yang pernah mengalami keluhan yang sama satu tahun lalu, bahkan sampai mondok di rumah sakit dan dua hari yang lalu pasien mengalami sulit bicara. Kemungkinan riwayat yang dialami pasien adalah stroke yang dikenal dengan serangan iskemik transien (TIA). Untuk lebih memastikan diagnosis, perlu dilakukan CT scan kepala. Ini juga bisa digunakan untuk mengetahui arteri mana yang mengalami sumbatan atau ruptur.

Gejala dan tanda stroke bervariasi tergantung otak bagian mana yang terkena. Satu tahun yang lalu setelah pasien mondok, pasien menjadi sering lupa. Kemungkinan otak yan g terkena adalah pada bagian system limbic, yaitu hipocampus.

Pada serangan kali ini, pasien datang dengan keluhan hemiplegia, kesemutan, dan bicara pelo. Pasien menderita kelumpuhan anggota gerak sebelah kanan, berarti otak yang terkena adalah lobus frontalis sinister, khususnya pada area motorik (area 4 dan 6 Brodmann) pada girus precentralis. Bicara tidak lancar disebabkan oleh lumpuhnya lidah bagian kanan, sehingga ketika mengucapkan kata-kata, artikulasi kata menjadi tidak jelas menimbulkan bicara pelo.

Jika yang terkena adalah area broca maka akan terjadi afasia motorik, dimana pasien tidak mampu mengungkapkan kata atau bahasa. Sedangkan bicara pelo atau sering disebut disartria pasien mampu mengungkapkan bahasa, tetapi pengucapan di mulut terganggu artikulasinya. Jika lesi pada area wernicke, maka akan terjadi afasia sensorik, dimana pasien tidak mampu memahami bahasa atau kata.

Pada kasus, pasien tampaknya menderita stroke iskemik dengan sebab utama adalah arteriosklerosis. Tindakan terapeutik yang diselenggarakan pada pasien :

Pemberantasan edema serebri untuk memperbesar CBF umum dengan harapan dapat memperbaiki juga RCGF yang sedang dalam keadaan insufisiensi.

Pemeliharaan tekanan perfusi serebral yang optimal. Kita harus berusaha mencapai tekanan darah penderita sebelum ia mengidap stroke. Hal ini bertujuan untuk mencegah iskemik yang lebih parah pada otak.

Mengadakan terapi korelatif terhadap segala macam kelainan yang telah ditemukan pada pemeriksaan fisik dan laboratorik. Pada kasus ini, tidak didapatkan kelainan tersebut seperti DM dan lainnya.

Rehabilitasi.

Prognosis penyakit tergantung tingkat keparahan lesi pada otak. Semakin parah dan luas kerusakan, semakin jelek prognosisnya. Pada stroke terdapat fenomena plastisitas otak, dimana bagian otak yang tidak terkena serangan dapat berperan menggantikan fungsi bagian otak yang rusak. Namun begitu, fungsi tersebut tidak sesempurna fungsi pada bagian aslinya.

Penutup

A. KESIMPULAN

1. Stroke adalah penyakit serebrovaskular mangacu pada setiap gangguan neurologic mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui system suplai arteri otak.

2. Stroke dibagi menjadi dua, yaitu stroke iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik bisa trombotik atau embolik. Stroke hemoragik dapat intraserebral atau subarachnoid. Pasien pada kasus di atas menderita stroke iskemik dengan sebab utamanya adalah arteriosklerosis.

3. Factor risiko terjadinya stroke : hipertensi, makan makanan berlemak, merokok, kurang olahraga, genetic, dan lain-lain.

4. Gejala stroke tergantung bagian otak mana yang terkena. Pada pasien di atas, bagian otak yang terkena adalah area motorik kiri sehingga mengalami kelumpuhan anggota gerak sebelah kiri. Kemungkinan sedikit area broca sehingga pasien kesulitan berbicara.

B. SARAN

Jika memiliki factor risiko terjadinya stroke, sebaiknya rajin memeriksakan dan konsultasi dengan dokter agar dapat mencegah serangan stroke yang membahayakan. Pencegahan yang terbaik ada pada pola hidup pasien sendiri, jika berpola hidup sehat, maka risiko terkena stroke lebih kecil.

Daftar Pustaka

1. Budianto, Anang. 2005. Guidance to Anatomy III (revisi). Surakarta: Keluarga Besar Asisten Anatomi FKUNS.

2. Mardjono dan Sidharta. 2008. Neurologi Klinis Dasar. Cetakan ke-12. Jakarta: Dian Rakyat.

3. Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis Prose-Proses Penyakit. Ed: 6. Jakarta: EGC.

4. Sidharta, Priguna. 2008. Neurologi Klinis dalam Praktik Umum. Cetakan ke-6. Jakarta: Dian Rakyat.

5. Sidharta, Priguna. 2008. Tata Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. Cetakan ke-6. Jakarta: Dian Rakyat.

6. Silbernagl dan Lang. 2007. Teks dan Atlas Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC.

7. Snell, Richard S. 2007. Neuroanatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. Ed : 5. Jakarta: EGC.