ditulis oleh Carko Budiyanto

dengan dosen pembimbing dr. Sri Wahjono

 

A. Latar Belakang Masalah

Tulang adalah bagian tubuh manusia yang amat penting, karena begitu besarnya fungsi tulang, antara lain tempat pembentukan sel darah, melindungi organ-organ penting, sebagai alat gerak pasif, dan lain-lain. Keabnormalan tulang akan berefek pada aktivitas kehidupan.

Walau tulang memiliki struktur yang sangat kuat, banyak hal yang mngancam keberadaannya. Fraktur adalah patang tulang, biasanya disebabkan trauma atau tenaga fisik. Ada bermacam-macam fraktur, antara lain fraktur transversal, segmental, oblik, spiral, dan sebagainya. Selain itu, ada fraktur tertutup, ada pula fraktur terbuka. Konsep penting yang perlu diperhatikan pada fraktur terbuka adalah apakah terjadi kontaminasi oleh lingkungan pada tempat terjadinya fraktur tersebut. Pada keadaan semacam ini, maka operasi untuk irigasi, debridemen, dan pemberian antibiotika intravena mungkin diperlukan untuk mencegah terjadinya osteomielitis. Pada umumnya harus dilakukan 6 jam setelah cedera. Semakin banyak waktu yang dilewati maka kemungkinan infeksi semakin besar (Price dan Wilson, 2006).

C. Tujuan Penulisan

D. Manfaat Penulisan

 

 

1. mahasiswa dapat memahami anatomi, fisiologi, histologi, biokimia dari tulang

2. mahasiswa dapat mengetahui bentuk-bentuk panyakit tulang.

 

 

 

Dengan adanya tutorial ini, diharapkan dapat mendukung proses belajar pada blok muskuloskeletal.

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

 

Definisi Osteomilitis

 

 

Osteomielitis didefinisikan sebagai infeksi pada tulang yang disebabkan oleh mikroorganisme (Luca Lazzarini, 2004).

Anatomi, Histologi, Fisiologi, dan Biokimia Tulang

 

 

Tulang berfungsi sebagai rangka penunjang dan pelindung tubuh, tempat melekatnya otot-otot yang menggerakan kerangka tubuh, membentuk sel darah, tempat cadangan kalsium dan fosfat (Price dan Willson, 2006).

Tulang panjang (os longum) terdiri dari 3 bagian, yaitu epiphysis, diaphysis, dan metaphysis. Diaphysis atau batang, adalah bagian tengah tulang yang berbentuk silinder. Bagian ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan yang besar. Metaphysis adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung akhir batang. Daerah ini terutama disusun oleh trabekular atau sel spongiosa yang mengandung sel-sel hematopoetik. Metaphysis juga menopang sendi dan menyediakan daerah yang cukup luas untuk perlekatan tendon dan ligamen pada epiphysis. Epiphysis langsung berbatasan dengan sendi tulang panjang. Seluruh tulang dilapisi oleh lapisan fibrosa yang disebut periosteum (Budianto, 2004).

Tulang terdiri atas bahan antar sel dan sel tulang. Sel tulang ada 3, yaitu osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Sedang bahan antar sel terdiri dari bahan organik (serabut kolagen, dll) dan bahan anorganik (kalsium, fosfor, dll). Osteoblas berfungsi untuk mensintesis matrix tulang. Osteosit adalah bentuk dewasa dari osteoblas yang berfungsi dalam recycling garam kalsium dan berpartisipasi dalam reparasi tulang. Osteoklas adalah sel makrofag yang aktivitasnya meresorpsi jaringan tulang. Jadi dalam tulang selalu terjadi perubahan dan pembaharuan (Carlos Junqueira, et all, 1998).

Tulang dapat dibentuk dengan dua cara : melalui mineralisasi langsung pada matriks yang disintesis osteoblas (osifikasi intramembranosa) atau melalui penimbunan matiks tulang pada matriks tulang rawan sebelumnya( osifikasi endokondral) (Anonim, 2008).

Etiologi

 

 

Tulang, yang biasanya terlindung dengan baik dari infeksi, bisa mengalami infeksi melalui 3 cara: aliran darah (osteomielitis hematogen), penyebaran langsung, dan infeksi dari jaringan lunak di dekatnya. Osteomielitis hematogen biasanya melibatkan metaphysis dari tulang panjang pada anak-anak atau vertebarae pada orang dewasa. Organisme bisa memasuki tulang secara langsung melalui patah tulang terbuka, selama pembedahan tulang atau dari benda yang tercemar yang menembus tulang. Infeksi pada jaringan lunak di sekitar tulang bisa menyebar ke tulang di daerah yang mengalami kerusakan karena cedera, terapi penyinaran atau kanker, atau ulkus di kulit yang disebabkan oleh jeleknya pasokan darah atau diabetes (kencing manis). Suatu infeksi pada sinus, rahang atau gigi, bisa menyebar ke tulang tengkorak (Anonim, 2004).

Patologi

 

 

Osteomielitis akut ditandai dengan adanya sebuah supuratif atau produksi pus, infeksi yang disertai edema, sumbatan vaskuler, dan trombosis. Pada awal penyakit, suplai darah ke tulang akan berkuarang, diikuti jaringan lunak disekitarnya. Ketika suplai darah ke sumsum dan periostal terhambat, akan terjadi kematian tulang yang meluas, disebut sequester. Namun, jika diobati secara cepat dan adekuat, dengan antibiotik dan pembedahan, osteomielitis akut dapat dihentikan sebelum kematian tulang. Segera setelah infeksi terjadi, jaringan fibrosa dan sel inflamasi kronik akan terbentuk di sekitar tulang yang mati. Karena terjadi penurunan suplai darah ke daerah tersebut, respon inflamasi secara efektif tidak dapat diproduksi. Hal ini akan menambah kekronisan penyakit. Osteomileitis akut tanpa pengobatan yang efektif dapat menimbulkan osteomielitis kronis baik dari segi klinis maupun histologis (Luca Lazzarini, 2004).

Tanda patologis dari osteomielitis kronis adalah adanya nekrosis tulang, pembentukan tulang baru, dan eksudat dari sel darah putih. Pembentukan tulang baru berasal dari fragmen hidup periosteum dan endosteum pada lokasi infeksi. Tulang baru ini akan membentuk selubung, yang dikenal dengan involucrum, disekitar tulang yang mati di bawah periosteum. Involucrum berbentuk tidak teratur dan berlubang membentuk sinus sebagai jalan lewatnya pus. Involucrum akan berkembang dalam densitas dan ketebalanya untuk membentuk sebagian atau seluruh diaphysis yang baru (Luca Lazzarini, 2004).

Manifestasi Klinis

 

 

Pasien dengan dengan osteomielitis akibat penyebaran langsung atau infeksi jaringan lunak sekitarnya, sering menunjukan nyeri lokal, eritema, bengkak, dan drainase sekitar lokasi trauma, pembedahan, atau luka infeksi. Tanda bakteremia antara lain demam, menggigil, dan keringat malam, mungkin muncul pada fase akut, tetapi tidak terlihat pada fase kronis. Sedangkan osteomielitis akibat hematogen, sering menujukan gejala yang tidak khas. Osteomielitis akut dapat berkembang menjadi kondisi kronik. Terbentuknya squestrum, sklerosis, sinus, dan nyeri kronis. Munculnya demam hanya pada level rendah.

Diagnosis

 

 

Diagnosis berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Selain itu diperlukan pemeriksaan laboratorium, mikrobiologi untuk mengetahui jenis kuman, dan radiografi.

PEMBAHASAN

 

 

 

 

Pada kasus, seorang laki-laki berumur 20 tahun datang dengan keluhan nyeri tungkai kanan bawah, pyrexia, kemerahan, sinus di kulit yang hilang timbul. Secara sekilas, dapat diketahui keluhan yang diderita adalah termasuk tanda-tanda inflamasi, yaitu rubor (kemerahan), kalor (demam/ pyrexia), dolor (nyeri), dan fungsio lesa (dalam kasus terjadi sinus).

Lalu, setelah dilakukan pemeriksaan fisik, ditemukan deformitas (kerusakan struktur tulang), scarrtissue (jaringan bekas luka) sebesar 10 cm pada regio anterior tibia kanan, sinus (saluran) dengan cairan pus (discharge), dan ekskoriasi (erosi/ kerusakan) pada kulit. Hal ini semakin mendukung bahwa penderita mengalami inflamasi.

Ada scarrtissue dapat dihubungkan dengan riwayat pasien, pernah patah tulang terbuka tungkai bawah 2 tahun lalu. Dikatakan pula bahwa pasien tidak dirawat di rumah sakit tetapi hanya pergi ke dukun tulang.

Patah tulang terbuka adalah hal yang serius, yang perlu mendapat perhatian khusus, lebih dari sekedar patah tulang tertutup. Kontaminasi sangat mungkin terjadi oleh lingkungan pada tempat terjadinya fraktur tersebut. Operasi irigasi dan debridemen pada fraktur terbuka harus dilakukan dalam waktu 6 jam setelah terjadinya cedera untuk mengurangi kemungkinan infeksi. Inilah yang tidak dilakukan terhadap pasien pada kasus, sehingga kemungkinan pasien mengalami infeksi yang mengakibatkan inflamasi (osteomielitis).

Ada beberapa hal yang merupakan kelemahan pengobatan yang dilakukan di dukun tulang. Pertama, tidak steril. Ini akan mengundang banyak mikroorganisme penyebab penyakit. Kedua, tanpa pembedahan. Karena perawatan tersebut, terkadang tidak memberikan hasil yang baik setelah sembuh, misalnya posisi tulang tidak betul/ bengkok. Pada kasus, kaki pasien mengalami varus atau bengkok ke dalam. Ketiga, karena tidak didukung dengan pemberian nutrisi yang tepat, proses penyembuhan lebih lama.

Diagnosis infeksi ini didukung dengan pemeriksaan foto polos (plain foto), dimana pada pasien didapatkan penebalan periosteum, bone resorpsion, sklerosis (pengerasan), squester (kematian tulang), involucrum (pembentukan tulang baru yang membungkus squester), dan varus pada tibia dan fibula. Berdasarkan tanda-tanda ini, osteomielitis yang diderita sudah kronis.

Pemeriksaan lain yang dibutuhkan untuk mengetahui jenis kuman yang menginfeksi adalah pemeriksaan mikrobiologi termasuk juga tes sensitivitas antimikroba. Pengetahuan tentang kuman sangat penting dalam terapi.

Osteomielitis kronis adalah akibat dari osteomielitis akut yang tidak ditangani dengan baik. Osteomielitis sangat resisten terhadap pengobatan dengan antibiotik. Hal ini disebabkan pada tulang yang nekrosis terjadi penurunan suplai darah, sehingga tidak cukup banyak antibodi yang mencapai lokasi infeksi. Selain itu obat-obatan pun sulit masuk. Infeksi tulang sangat sulit untuk dibasmi, bahkan tindakan drainase dan debridemen, serta pemberian antibiotika yang tepat sering tidak cukup untuk menghilangkan penyakit.

 

 

PENUTUP

 

 

 

 

KESIMPULAN

Osteomielitis didefinisikan sebagai infeksi pada tulang yang disebabkan oleh mikroorganisme. Pada kasus, pasien menderita osteomielitis. Penyebabnya adalah fraktur terbuka yang tidak mendapat perawatan dengan baik.

Tulang memiliki 3 bentuk sel, yaitu osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Osteoblas berfungsi untuk membentuk matiks tulang sehingga tulang semakin besar, panjang, dan kuat. Selain itu berperan dalam proses penyembuhan fraktur. Osteosit adalah bentuk dewasa dari osteoblas, berfungsi menjaga keutuhan tulang. Osteoklas adalah makrofag yang berfungsi memakan/ meresorpsi jaringan tulang yang rusak.

Diagnosis berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Selain itu diperlukan pemeriksaan laboratorium, mikrobiologi untuk mengetahui jenis kuman, dan radiografi.

SARAN

Sebaiknya ketika seseorang mendapat fraktur tulang, apalagi fraktur terbuka, segera dibawa ke rumah sakit untuk ditangani sebelum melewati 6 jam setelah cedera untuk mencegah terjadinya osteomielitis.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Anonim. 2004. Osteomielitis. http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?id=&iddtl=554&idktg=3&idobat=&UID=20081103094023124.195.53.98. (3 November 2008)

Anonim. 2008. Buku Petunjuk Praktikum Histologi Blok Muskuloskeletal. Surakarta : Laboratorium Histologi FKUNS.

Budianto, Anang. 2004. Guidance to Anatomy I. Surakarta : Keluarga Besar Asisten Anatomi FKUNS.

Carlos Junqueira, Jose Carniero, Robert Kelley. 1998. Histologi Dasar. Jakarta : EGC.

Chandrasoma dan Taylor. 2006. Ringkasan Patologi Anatomi. Ed: ke-2. Jakarta : EGC.

Luca Lazzarini, Jon Mader, dan Jason Calhoun. 2004. Journal Osteomyelitis in Long Bones. http://www.ejbjs.org/cgi/reprint/86/10/2305.pdf. (5 November 2008).

Price dan Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Ed: Ke-6. Jakarta: EGC.