Mengenali dan Mendeteksi Kanker Payudara

 

 OLEH :

NAMA : CARKO BUDIYANTO

NIM : G0007049

KELOMPOK 2

TUTOR : DR. SLAMET RIYADI

 

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2008

PENDAHULUAN

 

 

A. Latar Belakang Masalah

 

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2008

PENDAHULUAN

 

 

A. Latar Belakang Masalah

 

Kanker payudara merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. di Indonesia, kanker payudara termasuk tersering ditemukan pada wanita setelah kanker serviks. Insiden kanker payudara meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.

Kanker payudara yang ditemukan pada stadium dini memiliki prognosis yang lebih baik. Namun, berdasarkan data di RS kanker Darmais, sekitar 50% pasien datang sudah dalam stadium IV. Hal ini tidak berbeda dengan apa yang biasa terjadi di negara sedang berkembang, dimana hanya sekitar 20% kasus kanker payudara datang dalam stadium dini, sangat jauh dari angka 80% pada stadium I dan II di negara maju.1

B. Definisi Masalah

 

Seorang wanita berusia 35 tahun mengeluh adanya benjolan pada payudara kiri sejak 4 bulan yang lalu. Bibi pasien juga menderita tumor payudara, bahkan sampai meninggal dunia pada usia 45 tahun.

 

C. Tujuan Penulisan

 

1. menyelesaikan tugas tutorial

2. mengenal dan mengetahui penyakit tumor payudara

3. menyelesaikan kasus-kasus yang berkaitan dengan kanker payudara.

 

D. Manfaat Penulisan

 

1. Mahasiswa dapat memahami konsep dasar neoplasma.

2. Mahasiswa dapat menerapkan konsep dan prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer pada penyakit yang berkaitan dengan neoplasma.

 

 

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

 

KANKER PAYUDARA

 

Kanker payudara adalah salah satu neoplasma yang ganas.

Faktor risiko

 

Secara statistik, risiko kanker payudara meningkat pada wanita nulipara, wanita dengan menarke dini dan menopause lambat, dan pada mereka yang mengalami kehamilan pertamanya setelah usia 30 tahun. Hiperplasia lobular dan duktus atipik meningkatkan risiko kanker. Begitu pula jika ada riwayat keluarga yang terkena kanker juga meningkatkan risiko kanker.2,3

Etiologi

 

Penyebab karsinoma payudara tidak diketahui, tetapi kemungkinan multifaktorial. Faktor-faktor yang diusulkan : faktor genetik, hormon, dan virus.

Adanya gen BRCA1 dan BRCA2 merupakan faktor terjadinya neoplasma pada payudara. Estrogen adalah hormon yang paling banyak diteliti karena banyak bukti epidemiologik bahwa pemajanan lama terhadap estrogen, menarke dini, menopause lambat, nuliparitas, dan tertundanya kehamilan meningkatkan risiko kanker payudara. Virus juga diduga menyebabkan karsinoma payudara. Faktor susu Bittner adalah suatu virus yang diduga menyebabkan karsinoma payudara.2,3,6

Patologi

 

Berdasarkan kriteria histologiknya terdapat beberapa tipe kanker payudara yang diklasifikasikan lebih lanjut menurut derajat invasinya : karsinoma lobular insitu / noninvasif, karsinoma duktus insitu, karsinoma lobular invasif / infiltratif, karsinoma duktus invasif.2

Gambaran klinis

 

Sebagian besar pasien datang dengan massa tidak nyeri. Mula-mula, massa mungkin kecil dan dapat digerakan, tetapi akan membesar, terkadang dengan cepat. Retraksi kulit serta puting dan ulserasi dinding dada adalah gambaran lanjut dengan prognosis tidak menguntungkan.2

Penyebaran

 

Penyebaran intraepitel menyebabkan terkenanya banyakk duktus dan lobulus. Perluasan ke puting menyebabkan penyakit paget. Penyebaran limfatik terjadi mengikuti rute yang dapat diramalkan berdasarkan lokasi lesi primer. Penyebaran melalui darah dengan deposit metastasis pada tulang, hati, serta paru. Penyebaran melalui rongga pleura / peritoneum terjadi bila pleura ikut terkena.2,3

Diagnosis

 

Pemeriksaan histologik terhadap biopsi massa adalah metode diagnostik definitif. Diagnosis patologik memberi informasi : tipe histologik, ukuran, stadium penyakit, dan status reseptor estrogen dan progesteron.2

Penatalaksanaan

 

Penatalaksanaan adalah proses yang cukup panjang dan harus berlanjut sampai benar-benar tidak terjadi kekambuhan. Penanganan disesuaikan dengan stadium dari penyakit. Penatalaksanaan berupa : pembedahan, radioterapi, kemoterapi, terapi hormonal, dan terapi kombinasi.1,2,3

 

 

PEMBAHASAN

 

 

 

Pada skenario, didapatkan pasien dengan benjolan di payudara. Ada banyak penyakit yang dijadikan diagnosis banding adanya tumor di payudara, antara lain :

Tumor nonneoplasma : mastitis dan abses payudara, nekrosis lemak, granuloma silikon, penyakit fibrokistik.

Tumor neoplasma jinak : fibroadenoma payudara, papiloma duktus.

Tumor neoplasma ganas / kanker.

Suatu tumor nonneoplasma biasanya dapat dibedakan dengan tumor neoplasma. Tumor nonneoplasma dapat dikaitkan dengan waktu dan sebab khusus. Data ini bisa didapatkan saat anamnesis. Misalnya, mastitis dan abses payudara biasanya terjadi pada wanita postpartum saat awal menyusui, dimana payudara yang laktasi memudahkan bakteri staphylococcus aureus masuk dan menginfeksi payudara. Nekrosis lemak biasanya terjadi setelah payudara mengalami trauma fisik. Granuloma silikon terjadi pada wanita yang memakai suntik silikon pada payudaranya. Penyakit fibrokistik terjadi pada wanita dewasa yang kelebihan estrogen dan defisiensi progesteron selama fase luteal siklus menstruasi. Sedangkan pada neoplasma terjadi pertumbuhan yang tak terkontrol tanpa trkait dengan waktu dan sebab khusus. Selain itu, masing-masing penyakit dapat dibedakan dengan pemeriksaan histologik.

Ada bebarapa tahapan untuk mendeteksi dan mendiagnosis kanker payudara :

Pemeriksaan payudara sendiri (sadari)

Pemeriksaan oleh pasien sendiri. Menurut rekomendasi American Cancer Sosiety (2001), sadari dilakukan pada wanita yang berusia ≥ 20 tahun secara rutin setiap bulan. Pasien dapat memeriksanya dengan meraba payudaranya apakah ada kelainan atau tumor, saat mandi atau setelah mandi saat bercermin. Namun, kanker payudara sering sekali ditemukan pertama kali oleh pasien melalui sadari setelah massa / tumor dapat teraba (sekitar 1 cm).

Riwayat medis

Deteksi dan diagnosis kanker payudara diawali dengan riwayat penyakit pribadi dan keluarga yang berkaitan dengan patofisiologi payudara. Hal ini dikaitkan dengan faktor risiko.

Pemeriksaan payudara klinik

Pemeriksaan fisik terhadap suatu massa payudara berguna unutk membedakan kanker dan penyebab lain pada penyakit yang telah lanjut. Fiksasi massa pada kulit atau dinding dada, ulserasi kulit, retraksi puting, dan limfadema merupakan tanda-tanda karsinoma payudara lanjut.

Mamografi

Pemeriksaan mamografi adalah pemeriksaan yang sensitif untuk mendeteksi lesi yang tidak teraba. Mamografi sangat berguna sebagai prosedur penapisan untuk memantau pasien yang memiliki risiko tinggi, dan sebagai sarana untuk mendeteksi tumor primer yang secara klinis masih tersembunyi, dan dapat pula memberikan dugaan keganasan dari massa yang teraba. Menurut rekomendasi American Cancer Society (2001), pada wanita usia20-39 tahun dilakukan pemeriksaan payudara klinik setiap 3 tahun, dan wanita usia ≥ 40 tahun dilakukan pemeriksaan payudara klinik dan mamografi setiap tahun.

Biopsi

Pemeriksaan mokroskopik terhadap sampel jaringan merupakan sarana evaluasi definitif bagi massa payudara. Jaringan dapat diperoleh melalui : (1) Aspirasi jarum halusmenghasilkan sampel untuk pemeriksaan sitologik. Metode ini efektif dan sangat akurat untuk mengenali keberadaan karsinoma. (2) Biopsi jarum inti mengambil jaringan inti untuk pemeriksaan histologik. (3) Biopsi insisional ( mengambil sebagian massa untuk pemeriksaan histologik) dan eksisional (mengambil seluruh massa). Pemeriksaan histologik lebih akurat dibandingkan dengan pemeriksaan sitologik karena metode sitologik mendasarkan diagnosisnya pada pemeriksaan hanya terhadap sel, sementara pemeriksaan histologik memungkinkan penilaian sel sekaligus arsitektur sel dalam irisan jaringan.

 

 

PENUTUP

 

 

 

KESIMPULAN

1. Pada skenario, penyakit pasien tidak dapat didiagnosis karena terbatasnya data. Kemungkinan pasien menderita kanker payudara dimana pasien merupakan orang dengan faktor risiko secara familial dari keluarganya yang juga ada yang terkena kanker payudara.

2. Diagnosis banding pada kasus tumor adalah : tumor nonneoplasma (mastitis, nekrosis lemak), neoplasma jinak dan neoplasma ganas / kanker payudara.

3. Untuk dapat mendeteksi dan mendiagnosis kanker payudara ada beberapa tahap : pemeriksaan payudara sendiri (sadari), riwayat medis, pemeriksaan payudara klinik, mamografi, dan biopsi.

SARAN

Sebaiknya orang yang memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara, seperti adanya keluarga yang terkena kanker payudara, dapat lebih waspada dan hati-hati, berusaha mengurangi hal karsinogen dan rajin melakukan pemeriksaan baik sadari maupun oleh ahlinya.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

Tim Penanggulangan dan Pelayanan Kanker Payudara Terpadu Paripurna R.S. Kanker Dharmais. 2003. Penatalaksanaan Kanker Payudara Terkini. Jakarta : Pustaka Populer Obor. Pp: vii, x, 8,14, 23

Parakrama Chandrasoma dan Clive R Taylor. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi. Edisi 2. Jakarta : EGC. pp: 742-755

Price and Willson. 2005. Patofisiologi. 6th . Jakarta: EGC. Pp: 1301-1307

Ganong, William F. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 17th . Jakarta: EGC. Pp: 444

Guyton, AC. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 9th . Jakarta: EGC. Pp: 49-50

Murray, Robert K (et al). 2003. Biokimia Harper. 5th ed. Jakarta : EGC. pp: 766

 

Faktor risiko

 

Insidens tertinggi

 

Usia

 

30-50 tahun meningkat tajam

 

Status sosioekonomi

 

Menengah ke atas

 

Status perkawinan

 

Wanita tidak menikah 50% lebih sering terkena

 

Paritas

 

Nulipara (tidak pernah melahirkan)

 

Riwayat menstrusi

 

Abortus spontan sebelum kelahiran pertama, menarke usia dini < 12 tahun, menopause lambat

 

Riwayat keluarga

 

Sanak famili tingkat pertama (maternal / paternal) dengan kanker payudara, 2-3 X lebih besar terkena.

Ibu dan saudara perempuan terkena kanker payudara, 6 X lebih besar terkena juga.

 

Bentuk tubuh

 

Obesitas

 

Penyakit payudara lain

 

Hiperplasia duktus dan lobulus dengan atipia, 8 x lebih besar terkena.

 

Terpajan radiasi

 

Setiap radiasi pada wanita muda dan anak-anak bermanifestasi setelah usia 30 tahun, periode laten minimum 10-15 tahun.

 

Kanker primer kedua

 

Kanker ovarium primer, risiko kanker payudara 3-4 x lebih besar.

Kanker endometrium primer, risiko 2 x lebih besar.

Kanker kolorektal, risiko 2 x lebih besar.

 

 

 

 

Jinak

 

Ganas

 

Gambaran makroskopik

 

Permukaan licin dengan kapsul fibrotik, menekan jaringan sekitar

 

Permukaan tidak beraturan tanpa kasul, destruksi jaringan sekitar.

 

Kecil hingga besar, terkadang sangat besar.

 

Kecil hingga besar.

 

Tumbuh lambat.

 

Tumbuh cepat.

 

Jarang fatal (kecuali di dalam sistem saraf pusat) walau tidak diterapi.

 

Biasanya fatal jika tidak diterapi.

 

Gambaran mikroskopik

 

Pertumbuhan dengan penekanan jaringan sekitar

 

Pertumbuhan dengan invasi jaringan sekitar.

 

Berdiferensiasi sangat baik, menyerupai jaringan asal normal.

 

Berdiferensiasi baik atau buruk. Tidak menyerupai jaringan asal normal.

 

Sel menyerupai sel normal, seragam.

 

Kelainan sitologik, berupa nukleus membesar, hiperkromatik, tidak beraturan dengan nukleolus besar, pleomorfisme.

 

Sedikit mitosis dan normal.

 

Mitosis meningkat, gambaran mitosis abnormal dan aneh.

 

Pembuluh darah terbentuk baik.

 

Pembuluh darah bertambah dan terbentuk buruk, beberapa tanpa lapisan endotel.

 

Nekrosis tidak biasa terjadi, perubahan degeneratif lain mungkin ada.

 

Nekrosis dan perdarahan sering terjadi.

 

Tidak terjadi metastasis.

 

Metastasis ke tempat jauh.

 

Teknik penyelidikan

 

Kandungan DNA biasanya normal

Kandungan DNA sel meningkat, kromosom tambahan umumnya ada.

 

Kariotipe biasanya normal.

 

Aneuploid, polipoid, kelainan genetik klonal.

 

 

 

 

Kategori

 

Keterangan

 

0

 

Diperlukan pemeriksaan tambahan

 

1

 

Tidak tampak kelainan

 

2

 

Lesi benigna

 

3

 

Kemungkinan lesi benigna, diperlukan follow up 6 bulan

 

Kemungkinan maligna

 

5

 

Sangat dicurigai maligna atau maligna.

 

 

 

 

Karsinoma lobular insitu

 

Tidak menimbulkan massa, sering ditemukan tidak sengaja pada biopsi payudara.

Multifokal, bilateral pada 70%

Fase in situ lama.

Proliferasi epitel lobular, menyumbat lumen.

Membran basalis utuh.

Karsinoma duktus in situ

 

Menimbulkan massa payudara keras dengan struktur tebal seperti tali, terdeteksi dengan mamografi.

Fase in situ singkat

Multifokal, bilateral sekitar 20%

Proliferasi duktus terbatas dalam membran basalis.

Duktus terdistensi oleh sel ganas dapat tersusun dalam pola kribriformis, papilar, atau padat; sel besar seragam, membran sel berbatas jelas, inti sel bundar tidak bertumpang tindih, nekrosis sentral.

Karsinoma lobular invasif

 

Mirip karsinoma duktus, kecuali :

Pola infiltrasi histologik berbeda, membentuk baris-baris sel tunggal dan susunan konsentrik sekitar duktus.

Bilateral sedikit lebih banyak.

Frekuensi positif estrogen sedikit lebih tinggi.

Karsinoma duktus invasif

 

Massa infiltratif putih keabuan, teraba keras seperti batu dan berpasir.

Gurat kapur putih kekuningan akibat deposisi jaringan elastik sekitar duktus.

Fibrosis dapat luasmenghasilkan karsinoma tipe keras (scirrhous).

Mikroskopik: epitel duktus pleomorfik, inltrasi stroma fibrosa.

Invasi limfatik.

 

 

 

 

Stadium

 

Klasifikasi

 

Stadium 0

 

Tis N0 M0

 

Stadium I

 

T1 N0 M0

 

Stadium IIA

 

T0 N0 M0 atau T1 N1 MO atau T2 N0 M0

 

Stadium IIB

 

T2 N1 M0 atau T3 N0 M0

 

Stadium IIIA

 

T0 N2 M0 atau T1 N2 M0 atau T3 N1 M0 atau T3 N2 M0

 

Stadium IIIB

 

T4 N apa saja M0 atau T apa saja N3 M0

 

Stadium IV

 

T apa saja N apa saja M1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TUMOR PRIMER (T)

T0 tidak ada bukti tumor primer

Tis karsinoma insitu

T1 tumor ≤ 2 cm, dalam dimensi paling besar

T2 tumor > 2 cm tetapi < 5 cm, dalam dimensi paling besar

T3 tumor > 5 cm, dalam dimensi paling besar

T4 tumor ukuran berapapun dengan perluasan ke dinding dada atau kulit, termasuk karsinoma meradang.

 

KELENJAR GETAH BENING (N)

N0 tidak ada tumor dalam kelenjar getah bening regional.

N1 metastasis ke kelenjar getah bening aksila ipsilateral yang dapat digerakan / dapat berpindah-pindah.

N2 metastasis ke kelenjar getah bening yang saling melekat atau melekat ke struktur lain atau menetap.

N3 metastasis ke kelenjar getah bening mamaria interna ipsilateral.

 

METASTASIS JAUH (M)

M0 tidak ada metastasis jauh.

M1 metastasis jauh ( metastasis kelenjar getah bening supraklavikula dinilai sebagai metastasis jauh.

 

 

Keterangan :

 

 

 

 

Lampiran 5

 

Tabel Klasifikasi TNM Kanker Payudara

 

 

Untuk kategori 4 dan 5 sangat dianjurkan untuk dilakukan biopsi untuk memastikan diagnosis. Penggunaan kategori ini menjadikan kesimpulan pemeriksaan mamografi memberikan gambaran yang lebih jelas sehingga langkah selanjutnya menjadi lebih terarah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 4

 

Tabel Tipe Patologik Kanker Payudara

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 3

 

Tabel Kategori BI-RADS Pemeriksaan Manografi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 2

Tabel Perbedaan Neoplasma Jinak dan Ganas