Limfadenopati Leher pada

Karsinoma Nasofaring

 

OLEH :

NAMA : CARKO BUDIYANTO

NIM : G0007049

KELOMPOK 2

TUTOR : DR. DIAH KURNIA MIRAWATI, SpS

 

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2008

I. PENDAHULUAN

 

 

A. Latar Belakang Masalah

 

 

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang paling banyak dijumpai di antara tumor ganas THT di Indonesia, dimana karsinoma nasofaring termasuk dalam lima besar tumor ganas, sedangkan daerah kepala dan leher menduduki tempat pertama. Tumor ini berasal dari Fossa Rosenmuller pada nasofaring yang merupakan daerah transisional dimana epitel kuboid berubah menjadi skuamosa (Asroel, 2002 dan

Gejala karsinoma nasofaring sangat bervariasi dan sering samar-samar sehingga membingungkan pemeriksa. Kendala yang dihadapi dalam menangani kasus karsinoma nasofaring adalah pasien datang dalam stadium yang sudah lanjut, bahkan dalam keadaan umum yang jelek. Hal ini karena terlambatnya diagnosa ditegakkan, maka sangatlah penting untuk menemukan dan menegakan diagnosis secara dini (Arima, 2006).

B. Definisi Masalah

 

 

Seorang laki-laki, 40 tahun, dengan keluhan benjolan di leher kanan, yang mula-mula sebesar kacang makin lama makin membesar. Benjolan sekarang sebesar telur itik. Penderita mengeluh sering keluar darah dari lubang hidung, hidung dirasa makin tersumbat,telinga kanan terasa makin penuh, pandangan mulai kabur, kepala pusing.

Hasil pemeriksaan : tekanan darah 130/80 mmHg, benjolan keras sukar digerakan, tidak nyeri tekan, tidak didapatkan kelainan sistemik.

C. Tujuan

 

 

Laporan tutorial ini dibuat untuk membahas mengenai cara mendiagnosis dini dan mekanisme terjadinya limfadenopati leher pada karsinoma nasofaring.

D. Manfaat

 

 

Dengan adanya laporan tutorial ini, diharapkan dapat diperoleh cara mendiagnosis, penatalaksanaan dan prognosis yang lebih baik bagi penderita limfadenopati leher pada karsinoma nasofaring.

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

 

1. Definisi

 

 

Karsinoma nasofaring adalah tumor yang berasal dari sel-sel epitel yang menutupi permukaan nasofaring (Arima, 2006 dan Adam, 1997).

2. Etiologi

 

 

Ada dua hal yang menyebabkan karsinoma nasofaring menarik perhatian, yaitu disebabkan :

a. Kemungkinan besar Epstein Barr virus (EBV), suatu DNA herpes tipe virus.

b. Faktor genetik menentukan kerentanan terhadap karsinoma nasofaring (Pandi, 1983, Chandrasoma, 2005, dan Asroel, 2002).

3. Histopatologi

 

 

Berdasarkan rekomendasi WHO tahun 1991 dan 1997, dibagi menjadi 3 tipe :

a. Karsinoma sel skuamosa berkeratinasi. Tipe ini dibagi lagi menjadi diferensiasi baik, sedang, dan buruk.

b. Karsinoma non keratinasi. Pada tipe ini dijumpai adanya diferansiasi, tetapi tidak ada diferensiasi sel skuamosa tanpa jembatan intersel. Batas sel jelas.

c. Karsinoma tidak berdiferensiasi. Inti vesikuler, berbentuk oval atau bulat, nukleolus jelas, batas sel tidak jelas (Asroel, 2002 dan Arima, 2006).

4. Anatomi

 

 

Nasofaring merupakan bagian dari faring yang terletak paling kranial, tepatnya di belakang cavum nasi. Ke anterior berhubungan dengan rongga hidung melalui koana dan tepi belakang septum nasi, sehingga sumbatan hidung merupakan gangguan yang sering timbul. Pada dinding lateral nasofaring terdapat orifisium tuba eustakhius dimana orifisium ini dibatasi superior dan posterior oleh torus tubarius, sehingga penyebaran tumor ke lateral akan menyebabkan sumbatan orifisium tuba eustakius dan akan mengganggu pendengaran. Ke arah postero-superior dari torus tubarius terdapat fossa Rosenmuller yang merupakan lokasi tersering karsinoma nasofaring (Budianto, 2005 dan Asroel, 2002).

5. Penyaluran Getah Bening (Sistem Limfatik)

 

 

Ruang nasofaring diisi oleh sebagian besar jaringan limfoid yang merupakan Waldeyer’s ring yaitu adenoid, jaringan limfoid di dalam fossa Rosenmuller, sekitar orifisium tuba eustakius, dan masa jaringan limfoid yang lebih kecil yang tersebar di seluruh mukosa. Jaringan limfoid ini mengalirkan getah bening ke kelenjar di parafaring, yaitu kelenjar Runviere, atau langsung ke kelenjar leher yang terletak dalam (Pandi, 1983 dan Medlinux, 2007).

6. Gejala

 

 

Secara garis besar gejala karsinoma nasofaring digolongkan menjadi 4 kategori :

a. Gejala yang disebabkan oleh tumor primer seperti sumbatan hidung, epistaksis, gangguan pendengaran, tinitus akibat sumbatan tuba eustakius.

b. Gejala neurologik akibat perluasan ke intrakaranium, sehingga menimbulkan kompresi pada saraf otak II, III, IV, V, dan VI yang termasuk sindrom petrosfenoidal.

c. Gajala neurologik yang termasuk sindrom parafaring akibat perluasan ke ruang parafaring sehingga menekan saraf otak IX, X, XI, dan XII

d. Pembengkakan kelenjar getah bening leher (limfadenopati) dan atau metastasis ke hati, paru-paru, tulang, ginjal, dan limpa (Pandi, 1983; Asroel, 2002; dan Arima, 2006).

7. Diagnosis

 

 

Diagnosis ditegakan dengan :

a. Anamnesis

b. Pemeriksaan fisik

c. Biopsi merupakan diagnosis pasti, penting untuk mengetahui histopatologi dan jenis terapinya.

d. Pemeriksaan radiologi

e. Pemeriksaan laboratorium berupa pemeriksaan serologi untuk IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk virus Epstein Barre (Arima, 2006 dan Pandi, 1983).

8. Penatalaksanaan

 

 

a. Radioterapi. Sampai saat ini radioterapi masih memegang peranan penting dan paling efektif dalam penatalaksanaan karsinoma nasofaring. Penatalaksanaan pertama adalah radioterapi dengan atau tanpa kemoterapi.

b. Kemoterapi dapat meningkatkan hasil terapi terutama bila diberikan pada stadium lanjut atau pada kekambuhan.

c. Operasi berupa diseksi radikal dan nasofaringektomi.

d. Imunoterapi untuk melawan virus Epstein Barre (Asroel, 2002 dan Pandi, 1983).

9. Prognosis

 

 

Prognosis karsinoma nasofaring secara umum tergantung pada pertumbuhan lokal dan metastasenya. Karsinoma skuamus berkeratinasi cenderung lebih agresif daripada yang non keratinasi dan tidak berdiferensiasi, walau metastase limfatik dan hematogen lebih sering pada ke-2 tipe yang disebutkan terakhir. Prognosis buruk bila dijumpai : limfadenopati, stadium lanjut, tipe histologik karsinoma skuamus berkeratinasi ( Arima, 2006).

 

III.PEMBAHASAN

 

 

 

Pada kasus di atas, seorang laki-laki dengan keluhan utama benjolan pada leher kanan yang semula kecil, makin lama makin besar. Meninjau hal ini, ada beberapa kemungkinan penyakit yang menyebabkan hal tersebut, diantaranya struma, higroma colli, neoplasma jaringan lunak, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening).

Struma adalah pembesaran kelenjar tiroid. Berarti pembesaran terjadi di tengah leher tepat di bawah prominentia laringea di depan cartilago thyroidea. Sedangkan pada kasus, pembesaran di leher kanan, sehingga struma bisa disingkirkan. Begitu juga higroma colli, sudah terjadi pada saat lahir, sedang penderita baru merasakannya saat umur 40 tahun.

Neoplasma jaringan lunak adalah neoplasma pada jaringan lemak, fibrous, otot, dan lainnya. Semua neoplasma jaringan lunak memiliki konsistensi lunak atau kenyal. Pada kasus, konsistensi keras, sehingga kemungkinan terkuat adalah limfadenopati. Untuk menentukan secara pastinya, perlu pemeriksaan fisik.

Limfadenopati bisa karena limfadenitis, neoplasma primer atau neoplasma sekunder. Secara umum, limfadenitis memberikan gambaran klinis berupa demam, nyeri tekan dan tanda radang. Oleh karena tidak ditemukan gejala tersebut pada penderita, limfadenitis dapat disingkirkan.

Neoplasma jaringan limfoid primer adalah neoplasma yang berasal dari jaringan limfoid itu sendiri, sedang neoplasma sekunder berasal dari neoplasma jaringan lain sebagai bentuk metastasis.

Pada kasus, dengan gejala epistaksis, telinga terasa penuh, hidung tersumbat, pandangan mulai kabur, kepala pusing, secara anatomis mengarah pada karsinoma nasofaring. Seperti sudah dijelaskan pada tinjauan pustaka bahwa karsinoma nasofaring dibagi menjadi 4 kategori.

Oleh karena tumor pada nasofaring relatif bersifat anaplastik dan banyak terdapat kelenjar limfe, maka karsinoma nasofaring dapat menyebar ke kelenjar limfe leher (neoplasma sekunder). Melalui aliran pembuluh limfe, sel-sel kanker dapat sampai di kelenjar limfe leher dan tertahan disana karena memang kelenjar ini merupakan pertahanan pertama agar sel-sel kanker tidak langsung ke bagian tubuh yang lebih jauh.

Di dalam kelenjar ini sel tersebut tumbuh dan berkembang biak sehingga kelenjar menjadi besar dan tampak sebagai benjolan pada leher bagian samping. Benjolan ini dirasakan tanpa nyeri oleh karenanya sering diabaikan oleh penderita. Selanjutnya sel-sel kanker dapat berkembang terus, menembus kelenjar dan mengenai otot di bawahnya. Kelenjar menjadi lekat pada otot dan sulit digerakan seperti terjadi pada pasien pada kasus di atas. Keadaan ini merupakan gejala lebih lanjut lagi. Dari hasil penelitian, memang gejala yang paling sering didapati adalah pembesaran kelenjar getah bening tanpa rasa nyeri 80%.

 

IV.PENUTUP

A. Kesimpulan

 

 

A. Kesimpulan

 

 

1. Limfadenopati (pembesaran kelenjar limfe) merupakan salah satu gejala karsinoma nasofaring selain gejala primer dan neurologik.

2. Sel kanker dapat sampai ke kelenjar limfe melalui aliran pembuluh limfe, lalu tertahan disana tumbuh dan menyebabkan benjolan di leher.

3. Limfadenopati leher akibat karsinoma nasofaing dapat dibedakan dengan akibat penyakit lain dengan melihat tampilan makroskopis, mikroskopis, dan gambaran klinis lain yang menyertainya.

B. Saran

 

 

Bila dijumpai gejala seperti yang disebutkan di atas, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan lengkap sampai karsinoma nasofaring dapat disingkirkan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

1. Adams, Boies, dan Higler. 1997. Boies: Buku Ajar Penyakit THT. Ed: 6. Jakarta : EGC. pp: 429-450.

2. Arima, Cut Aria. 2006. Paralisis Saraf Kranial Multipel pada Karsinoma Nasofaring. http://library.usu.ac.id/download/fk/D0400193.pdf. (2 Juni 2008)

3. Asroel, Harry A. 2002. Penatalaksanaan Radioterapi pada Karsinoma Nasofaring. http://library.usu.ac.id/download/fk/…….pdf. (2 Juni 2008).

4. Budiyanto, Anang. 2005. Guidance to Anatomy III (revisi). Surakarta : Keluarga Besar Asisten Anatomi FKUNS Surakarta. pp: 58-60

5. Chandrasoma dan Taylor. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi. Edisi 2. Jakarta : EGC. pp: 445-446.

6. Medicine and Linux. 2007. Limfadenitis Tuberkolosis. http://medlinux.blogspot.com/2007/09/limfadenitis-tuberkulosis.html. (2 Juni 2008).

7. Pandi, Purnama S. 1983. Aspek Klinik Tumor Ganas Telinga-Hidung-Tenggorok. In : Himawan, Sutisna. Tumor Kepala dan Leher : Diagnosis dan Terapi. Jakarta : FKUI. pp: 65-71.

 

LAMPIRAN

 

(Asroel, 2002)

 

Gambar : Daerah Nasofaring

 

 

 

 

 

Mediator yang berpengaruh pada timbulnya karsinoma nasofaring

 

 

Ikan asin, makanan yang diawatkan dan nitrosamin.

Keadaan sosioekonomi rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup.

Ras dan keturunan (tionghoa>>).

Radang kronis daerah nasofaring.

Profil HLA.

Bahan karsinogen : benzopirene, gas kimia, asap industri, asap rokok, dll..

 

 

 

Stadium

(Asroel, 2002)

 

Penentuan stadium yang terbaru berdasarkan atas kesepakatan antara UICC (Union Internationale Contre Cancer) pada tahun 1992 adalah sebagai berikut :

 

T = Tumor, menggambarkan keadaan tumor primer, besar dan perluasannya.

T0 : Tidak tampak tumor

T1 : Tumor terbatas pada 1 lokasi di nasofaring

T2 : Tumor meluas lebih dari 1 lokasi, tetapi masih di dalam rongga nasofaring

T3 : Tumor meluas ke kavum nasi dan / atau orofaring

T4 : Tumor meluas ke tengkorak dan / sudah mengenai saraf otak

 

N = Nodul, menggambarkan keadaan kelenjar limfe regional

N0 : Tidak ada pembesaran kelenjar

N1 : Terdapat pembesaran kelenjar homolateral yang masih dapat digerakkan

N2 : Terdapat pembesaran kelenjar kontralateral / bilateral yang masih dapat

digerakkan

N3 : Terdapat pembesaran kelenjar baik homolateral, kontralateral atau bilateral,

yang sudah melekat pada jaringan sekitar.

 

M = Metastase, menggambarkan metastase jauh

M0 : Tidak ada metastase jauh

M1 : Terdapat metastase jauh.2,3,9-13

 

Berdasarkan TNM tersebut di atas, stadium penyakit dapat ditentukan :

Stadium I

T1 N0 M0

Stadium II

T2 N0 M0

Stadium III

T3 N0 M0

T1,T2,T3 N1 M0

Stadium IV

T4 N0,N1 M0

Tiap T N2,N3 M0

Tiap T Tiap N M1

 

Menurut American Joint Committee Cancer tahun 1988, tumor staging dari

nasofaring diklasifikasikan sebagai berikut :

 

Tis : Carcinoma in situ

T1 : Tumor yang terdapat pada satu sisi dari nasofaring atau tumor yang tak dapat dilihat, tetapi hanya dapat diketahui dari hasil biopsi.

T2 : Tumor yang menyerang dua tempat, yaitu dinding postero-superior dan dindinglateral.

T3 : Perluasan tumor sampai ke dalam rongga hidung atau orofaring.

T4 : Tumor yang menjalar ke tengkorak kepala atau menyerang saraf kranial (atau keduanya).