Analisis Hasil Penyelidikan Epidemiologi
Demam Berdarah Dengue Tanggal 29 Mei 2008
Di Puskesmas Ngemplak, Boyolali

OLEH :
NAMA : CARKO BUDIYANTO
NIM : G0007049
KELOMPOK 2

INSTRUKTUR : DR. ACHMAD MUZAYIN

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2008
I. PENDAHULUAN
Demam Berdarah Dengue ( DBD ), merupakan salah satu penyakit menular yang sering menimbulkan wabah dan menyebabkan kematian terutama pada anak. Oleh karena itu wabah penyakit ini sering menimbulkan kepanikan masyarakat. Daerah yang mempunyai resiko untuk menjadi wabah demam berdarah dengue umumnya ialah kota atau desa dipantai yang penduduknya padat dan mobilitasnya tinggi. Kejadian luar biasa atau wabah penyakit ini dapat terjadi didaerah endemis maupun daerah yang seluruhnya tidak pernah ada kasus.
Penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia pertama kali dilaporkan di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968 dengan jumlah kasus 58 orang dengan 24 kematian (CPR = 41,.3%). Setelah itu penyakit Demam Berdarah Dengue ini menyebar keseluruh wilayah Indonesia, yang hingga dewasa ini seluruh Propinsi di Indonesia telah terjangkit.
Pada tahun 1992 terbit KepMenkes Nomor : 581 tahun 1992 tentang pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue, surat Edaran Mendagri, No. 443/115/Bandes, perihal operasionalisasi Kep. Menkes No. 581 tahun 1992, Surat Edaran Tim Pembina UKS tingkat pusat No. 80/fPUKS oo/X/93, tentang Pembinaan UKS dalam upaya pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue, Surat Edaran Tim Penggerak PKK Pusat No. 500/ SKR/PKK.PST/94, tentang penyuluhan dan motivasi gerakan PSN Demam Berdarah Dengue, SK Mendagri No. 31-VI tahun 1994., tentang pembentukan kelompok operasional pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue dan surat Edaran Mendagri No. 912/351/Bangda tahun 1994 tentang penyediaan dana dalam rangka menanggulangi penyakit Demam Berdarah Dengue.
Berdasarkan Kepmenkes tersebut, tugas dan fungsi Subdit Arbovirosis ditetapkan bahwa : Upaya pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue dilakukan melalui pelaksanaan kegiatan : pencegahan, penemuan dan pelaporan penderita, pengamatan penyakit, penyelidikan epidemiologi, penanggulangan seperlunya serta penanggulangannya lain dan penyuluhan kepada masyarakat.
Tujuan dari kegiatan Field Lab ini adalah mahasiswa mampu :
Menjelaskan berbagai cara penanggulangan DBD di Indonesia.
Melakukan penyelidikan epidemiologi.
Menentukan tindakan penanggulangan yang harus diambil dari hasil penyelidikan epidemiologi.
Menentukan adanya kejadian luar biasa (KLB) DBD.
Menjelaskan cara penanggulangan kejadian luar biasa (KLB) DBD.
Menjelaskan cara evaluasi penanggulanagan kejadian luar biasa (KLB) DBD.

II. KEGIATAN
Penulis melakukan kegiatan Laboratorium Lapangan dengan topik keterampilan Pengendalian Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue adalah di Puskesmas Ngemplak Kecamatan Ngemplak Boyolali selama dua hari, yaitu tanggal 20-21 Juni 2008.
Pada awalnya, direncanakan kegiatan yang dilakukan pada hari pertama adalah pemberian materi tentang penanggulangan demam berdarah dengue di Kecamatan Ngemplak dan hari kedua melakukan penyeledikan epidemiologi di lapangan. Namun, karena pada hari Sabtu tanggal 21 Juni 2008 adalah hari tenang menjelang Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah, kegiatan penyelidikan epidemiologi tidak dapat dilaksanakan.
Adapun kegiatan yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :
Hari pertama tanggal 20 Juni 2008
a. Mendapat materi mengenai penyelidikan epidemiologi dan penanggulangan DBD di Kec. Ngemplak Boyolali.
b. Melihat alat-alat yang digunakan dalam penyelidikan epidemiologi dan mesin foging beserta perlengkapannya.
Hari kedua tanggal 21 Juni 2008
c. Menganalisis tindakan penanggulangan yang harus diambil dari hasil penyelidikan epidemiologi yang sudah dilakukan oleh petugas Puskesmas.
d. Mendapat materi tambahan dari kegiatan hari pertama.

III. HASIL KEGIATAN
Karena penyelidikan epidemiologi tidak dilakukan, hasil kegiatan hanya melihat hasil penyelidikan epidemiologi (PE) yang sudah dilakukan sebelumnya oleh petugas. (hasil PE dan perlengkapan epidemiologi terlampir)

IV. PEMBAHASAN
Pada saat menganalisis hasil penyelidikan epidemiologi, hal penting yang harus diperhatikan adalah :
Apakah indek kasus hanya tersangka atau penderita dan apakah indek kasus sembuh atau meninggal. Pada kasus ini (terlampir), indek kasus adalah penderita dan sembuh dari penyakitnya.
Adakah tambahan penderita DBD, apakah penderita tersebut sembuh atau meninggal. Dalam hal ini, tidak didapatkan tambahan penderita.
Adakah penderita panas tanpa sebab yang jelas dalam periode 3 minggu terakhir. Pada kasus ini ada penderita panas tanpa sebab yang jelas sebanyak satu orang.
Menghitung House Index.
Berdasarkan hasil PE, didapatkan data : (1) jumlah rumah yang diperiksa 20 rumah, (2) jumlah positif jentik 10 rumah, (3) jumlah rumah yang diabatisasi 10 rumah. Maka dapat dihitung ;
House Index
Angka Bebas Jentik (ABJ)

Perhitungan house index dan ABJ memiliki makna :
Jika house index 95%, maka di daerah tersebut tidak terdapat nyamuk Aedes aegypti yang cukup berarti, dimana nyamuk tersebut adalah vektor / pembawa virus dengue yang dapat menularkan DBD.
Jika house index > 5% dan ABJ < 95%, maka di daerah tersebut terdapat banyak nyamuk Aedes aegypti yang sangat berisiko menularkan DBD.
Berdasarkan data tersebut di atas, hasil PE tidak memenuhi kriteria untuk dilakukan fogging fokus (kriteria 1-5 terlampir). Dari data ini juga tidak dapat dimasukan pada Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD, karena jumlah kasus hanya satu. Sedangkan suatu kasus bisa dijadikan KLB jika ada peningkatan jumlah kasus DBD di suatu daerah 2 kali lipat atau lebih dalam kurun waktu 1 minggu/ bulan dibandingkan minggu/ bulan sebelumnya atau bulan yang sama tahun lalu. Maka tindak lanjut yang dilakukan adalah tidak melakukan fogging fokus, memberikan penyuluhan kepada masyarakat, menaburkan bubuk larvasida (abate) pada tempat-tempat yang diperlukan, dan menggerakan masyarakat untuk Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang selanjutnya dilakukan PE ke-2 pada 3 minggu yang akan detang sejak tanggal sakit indek kasus. Bila PE ke-2 ditemukan sesuai kriteria 1-5, dilakukan fogging fokus.
Untuk penaburan larvasida harus sesuai dosis, yaitu 5 gr untuk 50 liter air. Abatesasi biasanya dilakuan pada tempat-tempat : daerah sulit air, tempat yang sulit untuk dikuras, pada tempat yang orangnya tidak pernah membersihkan penampungan airnya.
Di lapangan, kadang berjalan tidak sesuai dengan prosedur. Untuk fogging sendiri ada bermacam-macam tujuan :
Fogging fokus sesuai prosedur.
Fogging psikis. Fogging dilakukan walaupun tidak memenuhi kriteria, tetapi masyarakat merasa takut dan meminta dilakuak fogging. Biasanya dibiayai secara mandiri oleh masyarakat.
Fogging politis. Fogging dilakukan dengan unsur politis, biasanya ingin menjatuhkan citra pejabat.
Sebenarnya fogging bukanlah cara yang bagus dan efektif untuk memberantas nyamuk aedes, apalagi jika tidak sesuai prosedur. Beberapa kelemahan dari fogging :
Harganya mahal. Harus mengeluarkan biaya untuk premium, solar, malation (insektisida), baterei, dan petugas. Dosis : 1 liter malation membutuhkan 20 liter solar.
Hanya membunuh nyamuk dewasa.
Nyamuk bisa resisten kalau tidak sesuai dosis atau fogging yang terus-menerus.
Insektisida merupakan racun yang dapat masuk ke tubuh manusia.
Solusi yang paling efektif adalah dengan PSN. Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN) pada dasarnya, untuk memberantas jentik ataumencegah agar nyamuk tidak dapat berkembang biak. Mengingat Ae.aegypti tersebar luas, maka pemberantasannya perlu peran aktif masyarakat khususnya memberantas jentik Ae.aegypti di rumah dan lingkungannya masing-masing. Cara ini adalah suatu cara yang paling efektif dilaksanakan karena:
a. tidak memerlukan biaya yang besar
b. bisa dilombakan untuk menjadi daerah yang terbersih
c menjadikan lingkungan bersih
d. budaya bangsa Indonesia yang senang hidup bergotong royong
e dengan lingkungan yang baik tidak mustahil, penyakit lain yang diakibatkan oleh
lingkungan yang kotor akan berkurang.
Namun, masyarakat masih sangat sulit untuk melakukan PSN dengan teratur. Mereka masih beranggapan fogging adalah cara yang terbaik. Selain itu, orang dengan pendidikan rendah, sibuk, tingkat mobilitas yang tinggi, menjadi masalah dalam penerapan PSN. Disini diperlukan peran serta aktif seluruh pihak dan peran lintas sektoral.

V. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pada kasus di atas tidak perlu melakukan fogging fokus, perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat, menaburkan larvasida pada tempat-tempat yang diperlukan, dan menggerakan masyarakat untuk pemberantasan sarang nyamuk.
2. Ada dua cara dalam menangulangi Demam Berdarah Dengue, yitu cara kimia dengan fogging dan pengelolaan lingkungan dangan cara pembernatasan sarang nyamuk (PSN).
3. Kelemahan cara fogging adalah : (1) harganya mahal, (2) hanya membunuh nyamuk dewasa, (3) nyamukl dapat resisten, (4) bisa meracuni tubuh manusia.
4. Cara yang paling efektif adalah dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Kelebihannya antara lain : murah, bisa dilombakan, lingkungan menjadi bersih, mengakrabkan masyarakat, dan mencegah timbulnya penyakit lain.
B. Saran
Melihat begitu bagusnya penangulangan DBD dengan PSN, sebaiknya kita sebagai petugas di bidang kesehatan, dapat lebih memahamkan dan menjadikan masyarakat mengerti akan pentingnya PSN dan lingkungan bersih. Maka alangkah baiknya jika semua pihak dapat berperan, jika perlu dengan lintas sektoral.

VI. DAFTAR PUSTAKA
1. Ambarwati, dkk.. 2006. Fogging Sebagai Upaya untuk Memberantas Nyamuk Penyebab Demam Berdarah di Dukuh Tuak Desa Gonilan, Kartasura, Sukoharjo. Surakarta : FKUMS.
2. Anonim. Apakah yang Perlu Anda Tahu tentang Denggi. http://www.uum.edu.my/medic/apakah_denggi.htm.
3. Chahaya, Indra. 2003. Pemberantasan Vektor Demam Berdarah di Indonesia. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-indra%20c5.pdf.
4. Hiswani. 2003. Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-hiswani9.pdf.
5. Kusumawati, Yuli, dkk..2007. Upaya Pemberantasan Nyamuk Aedes Aegypti dengan Pengasapan (Fogging) dalam Rangka Mencegah Peningkatan Kasus Demam Berdarah. Surakarta : FKUMS.
6. LIPI. 2006. Demam Berdarah Dengue (DBD). Jakarta : LIPI, Pusat Lembaga Informasi Ilmiah.
7. Siregar, Faziah. 2004. Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-fazidah3.pdf.
8. Tim Field Lab FKUNS. 2008. Manual Kegiatan Laboratorium Lapangan Pengendalian Penyakit Menular Demam Berdarah Dengue. Surakarta : FKUNS.

LAMPIRAN

HASIL PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI
PENDERITA DEMAM BERDARAH DENGUE

DESA / KAL : Sobokerto
PUSKESMAS : Ngemplak KEC : Ngemplak
TANGGAL : 29 Mei 2008

I. INDEK KASUS
1. Nama Penderita : Awang Findi
2. Umur : 24 tahun
3. Jenis kelamin : Laki-laki
4. Nama Orang Tua : Kawit Riyadi
5. Alamat : RT 03 RW 03 Dukuh Gelaran Desa/Kelurahan
Sobokerto.
Dirawat di RS Islam Surakarta mulai tanggal sakit 18 Mei 2008 sembuh / meninggal : tanggal 27 Mei 2008 (meninggal di – .)
Sekolah di – alamat –
Apakah dalam periode 3 minggu ini ada penderita lain dirumah selain indeks kasus YA/TIDAK
Apakah dalam periode 2 minggu ini penderita bepergian keluar Desa/Kota, jika Ya diwilayah mana ……………………………Kunjungi bila masih dalam wilayah YA/TIDAK Puskesmas. Bila ada diluar wilayah beritahu ke Unit Kesehatan Setempat.
Adakah teman bermain si indeks kasus dalam periode 2 minggu ini. Jika Ya siapa dan tinggal dimana, lakukan kunjungan ke tempat bermain. YA/TIDAK

Jika penderita adalah anak sekolah, kunjungi sekolah penderita untuk mencari penderita dengan gejala yang sama.
Kunjungi sekolah kakak/saudara serumah penderita untuk mencari penderita dengan gejala yang sama dengan indeks kasus

II. Penyelidikan epidemiologi dilaksanakan pada radius 20 rumah atau sekeliling indeks kasus kurang lebih 80 rumah dan sekolah penderita. Pada saat PE dilakukan pemeriksaan dan abatisasi selektif yang dicatat dalam AS-1. Cari penderita tambahan dalam periode 3 minggu yang lalu sejak tanggal sakit indeks kasus dengan gejala sbb :
a. Panas 2-7 hari tanpa sebab yang jelas.
b. Penderita dengan tanda DBD (dengan tanda perdarahan atau RL + )
c. Penderita meninggal dengan tanda DBD

Dirawat Diagnosa
Tgl Tempat A B C D
1 Putri P 4,5 thn 20-5-08 – – 03/03 √

Keterangan :
A = Panas tanpa sebab yang jelas
B = Tersangka DBD
C = DBD
D = Meninggal

III. Hasil Abatisasi selektif pada penyelidikan epidemiologi (data diambil dari abatisasi selektif format AS-1)
Jumlah rumah yang diperiksa =………………………20……………………….rumah
Jumlah positif jentik =………………………10……………………….
House Index =……………………..50%……………………….
Jumlah rumah diabatisasi =………………………10……………………..rumah

IV. Hasil analisa epidemiologi
Dari data diatas dilakukan analisa dengan kriteria sbb :
Ada tambahan 2 atau lebih suspeck DBD dalam periode 3 minggu yang lalu serta House Indeks 5.
Adanya tambahan indeks kasus DBD 1 orang dan yang meninggal 1 orang.
Indeks kasus meninggal ada tambahan 2 orang atau lebih dan suspeck DBD dalam periode 3 minggu yang lalu.

Bila memenuhi salah satu atau lebih kriteria nomor 1 s/d 5 dilakukan fogging focus dilakukan dengan radius 200 meter dari kasus atau seluas 16 Ha sebanyak 2 siklus dengan interval 7-10 hari dan dilakukan PSN secara serempak. Bila tidak memenuhi kriteria salah satu nomor 1 s/d 5 dilakukan penggerakan masyarakat untuk Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN) selanjutnya dilakukan pengamatan (PE II) 3 minggu yang akan datang sejak tanggal sakit indeks kasus. Bila PE II ditemukan sesuai kriteria 1-5 dilakukan fogging focus.

Boyolali, 29 Mei 2008

Mengetahui
Kepala Puskesmas Ngemplak Petugas

TTD TTD

dr. Achmad Muzayin Mida Hutayula
NIP 170 367 730 NIP 506 139 441

LAPORAN HARIAN MONITORING PSN /
ABATISASI SELEKTIF

DATI II :Boyolali
PUSKESMAS :Nemplak
KECAMATAN :Ngemplak
DESA :Sobokerto
RT/RW :03/03 NAMA PETUGAS:Mida Hutayula
TAHUN :2008
BULAN :Mei
TANGGAL :29

HASIL PEMERIKSAAN JENTIK
Bak mandi Bak WC Tandon air Lain2
Jml Pos Jml Pos Jml Pos Jml Pos
1 P Kawit Riyadi 1 – 1 – – – 1 –
2 P Praja 1 – – – – – 1 –
3 P Wagimin – – – – – – 1 –
4 P Karto 1 – 1 – – – 1 –
5 P Somo – – – – – – 1 –
6 P Ngoleman – – – – – – 2 –
7 P Sepan 1 – 1 – – – 3 + 1 gr
8 P Handoko – – – – – – 1 –
9 P Cahir – – – – – – 1 –
10 B Tumiyem 1 – 1 – 1 – 1 + 1 gr
11 P Wiji 1 – 1 – – – 1 –
12 P Iman 1 + – – – – 1 – 1 gr
13 P Paimin 1 + – – – – 1 + 1 gr
14 B Harti 1 + – – – – 1 – 1 gr
15 B Ngalimun 1 – 1 – – – 1 + 1gr
16 Masjid 3 + – – – – – – 1 gr
17 P Loso 1 + 1 + – – 2 – 1 gr
18 P Slamet – – – – – – 1 + 1 gr
19 B Wartini 1 – – – – – 1 –
20 P Satiman 1 – – – – – 1 + 1 gr

Jumlah 16 5 7 1 1 – 23 6 10

Keterangan: KK = Kepala Keluarga Tanda Tangan Petugas :
TTU&I = Tempat-tempat Umum
dan Industri

DATA DBD KECAMATAN NGEMPLAK

No Desa 2004 2005 2006 2007 2008
1 Sawahan 7 7 10 8 2
2 Donohudan 2 8 2 9 7
3 Pandeyan 5 6 2 2 2
4 Kismoyoso 1 2 2 3 2
5 Giriroto 11 1 – – 1
6 Manggung 1 – – 3 –
7 Gagak Sipat 3 – 3 11 7
8 Dibal 2 – 1 4 6
9 Sindon 2 2 – 3 1
10 Ngesrep – 3 4 5 1
11 Nargorejo – 1 2 1 –
12 Sobokerto – 2 – 3 6
Jumlah 34 32 26 52 35

DATA GRAFIK MAKSIMUM MINIMUM

Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des
2004 3 1 7 4 2 2 – – – 6 5 4
2005 – 5 5 4 3 2 2 1 4 1 – 1
2006 2 1 8 3 2 1 2 2 1 – 1 2
Max 3 5 8 4 3 2 2 2 4 6 5 4
Min – 1 5 3 2 1 – – – – – 1

Data Angka Bebas Jentik (ABJ)
Desa Donohudan
Mei 2006 = 79%
Juni 2006 = 80%
Juli 2006 = 80%
Agustus 2006 = 76%

Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des
2007 1 7 6 5 4 1 3 4 3 3 4 11
2008 7 12 7 5 4 1 Blm Blm Blm Blm Blm Blm

Form KD-KLB
PEMBERITAHUAN PENDERITA / TERSANGKA PENYAKIT POTENSIAL WABAH
(Dikirim Dalam Waktu 1 x 24 jam)
Rumah Sakit / Puskesmas / Balai Pengobatan / Poliklinik : RS ISLAM SURAKARTA
Kabupaten : Sukoharjo Propinsi : Jawa Tengah

Kepada Yth :
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali
Di Boyolali

Kami beritahukan bahwa kami telah merawat / memeriksa seorang pasien :
Nama : Abi Kurnia Pratama – An
Umur / Jenis Kelamin : 05 tahun 9 bl / Lk
Nama Orang Tua : Tarmin – Tn
Alamat : Jantir Rt 1 / 2
Kelurahan / Desa : Sindon
Kecamatan / kabupaten : Ngemplak, Boyolali
Tanggal mulai sakit : 10 / 06 / 2008
Tanggal dirawat : 11 / 06 / 2008
Tanggal Diagnosa : 13 / 06 / 2008
Perawatan : Rawat jalan / Rawat inap
Keadaan Penderita saat ini : HIDUP / MENINGGAL

NO HASIL PEMERIKSAAN YA TIDAK
1 Demam v
2 Perdarahan, Tourniquet Positif v
3 Pembesaran Hati v
4 Shock v
5 Trombositopenia (kurang dari sama dengan 100.000/mm3)
261.000 83.000 76.000
6 Hemokonsentrasi (meningkat lebih dari sama dengan 20 %)
39/13,1 40/12,7 39,1/12,3
7 Hasil Pemeriksaan Pendukung Lain

Diagnosa Klinik :

Tersangka DBD Poliomyelitis\AFP Chikungunya

DBD Dengue Plot Positif\Negatif Tetanus Neonetorum Tersangka Flu Burung

DSS, Dengue Plot Positif\Negatif Campak

Sukoharjo, 14 Juni 2008
A \ n Direktur RS Islam Surakarta
Bangsal : Al-A’rof
Dokter yang merawat

Dr. Endang Tatar, Sp. A. MPH
Tebusan Kepada Yth :
Kepala Puskesmas Ngemplak, Boyolali.

Gunakan Form ini untuk memberitahukan setiap penderita (1 formulir tiap 1 penderita)
Tembusan untuk Puskesmas sesuai domisili penderita hanya dikirim lewat anggota keluarga penderita.