• Artikel Islam
  • Artikel Kedokteran
  • Foto DK-AK
  • Free Download
  • jadwal ta’lim
  • kontak & buku tamu
  • RADIO SALAFY

kedokteran islam

~ to be a great doctor on sunnah

kedokteran islam

Monthly Archives: Maret 2011

ANAK MALNUTRISI BERAT DENGAN RISIKO TINGGI KEMATIAN : DAPATKAH DIIDENTIFIKASI DENGAN PROTOKOL WHO?

18 Jumat Mar 2011

Posted by ackogtg in KEDOKTERAN

≈ 2 Komentar

Tag

asidosis, dehidrasi, gizi buruk, letargi, malnutrisis, protokol who

ANAK MALNUTRISI BERAT DENGAN RISIKO TINGGI KEMATIAN : DAPATKAH DIIDENTIFIKASI DENGAN PROTOKOL WHO?

Kathryn Maitland1,2,3*, James A. Berkley1,4, Mohammed Shebbe1, Norbert Peshu1, Michael English1,5, Charles R. J. C. Newton1,6

1 Centre for Geographic Medicine Research (Coast), Kenya Medical Research Institute, Kilifi, Kenya, 2 Department of Paediatrics, Faculty of Medicine, Imperial College, London, United Kingdom, 3 Wellcome Trust Centre for Clinical Tropical Medicine, Imperial College, London, United Kingdom, 4 Centre for Clinical Vaccinology and Tropical Medicine, Churchill Hospital, University of Oxford, Oxford, United Kingdom, 5 Department of Paediatrics, John Radcliffe Hospital, University of Oxford, Oxford, United Kingdom, 6 Neurosciences Unit, Institute of Child Health, The Wolfson Centre, Mecklenburgh Square, London, United Kingdom

Citation: Maitland K, Berkley JA, Shebbe M, Peshu N, English M, et al. (2006) Children with severe malnutrition: Can those at highest risk of death be identified with the WHO protocol? PLoS Med 3(12): e500. doi:10.1371/journal.pmed.0030500

DITERJEMAHKAN OLEH CARKO BUDIYANTO, S.Ked


ABSTRAK

Latar Belakang : Dengan berpegang pada Pedoman Pengobatan Internasional yang Dianjurkan, kasus kematian pada gizi buruk berat harus kurang dari 5%. Di rumah sakit Afrika, tingkat kematian 20% adalah umum terjadi dan sering dikaitkan dengan kurangnya pelatihan dan manajemen kasus yang salah. Meningkatnya keadaan ini dipengaruhi oleh kemampuan mengidentifikasi secara awal terhadap mereka yang berisiko tinggi dan pemanfaatan sumber daya kesehatan yang terbatas. Kami meneliti secara retrospektif faktor-faktor risiko utama yang terkait dengan keadaan awal (<48 jam) dan akhir kematian pada anak dengan gizi buruk di rumah sakit, dengan tujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat membedakan kelompok risiko tinggi sesuai dengan pedoman WHO.

Metode : Dari 920 anak dalam penelitian, 176 (19%) meninggal, dengan 59 (33%) kematian terjadi dalam waktu 48 jam pertama setelah penanganan. Komplikasi bakteremia 27% dari semua kematian: 52%-nya meninggal sebelum 48 jam meskipun 85% dari mereka mendapat antibiotik spesifik sesuai kultur. Sensitivitas, spesifisitas, dan rasio kemungkinan (LR) dari “tanda bahaya” yang direkomendasikan WHO (letargi, hipotermia, atau hipoglikemia) untuk memprediksi kematian awal adalah masing-masing 52%, 84%, dan 3,4% (95% confidence interval [CI] = 2,2 menjadi 5.1). Selain itu, empat fitur lain yang dikaitkan dengan kasus kematian dini: bradikardi, waktu isi ulang kapiler lebih besar dari 2 detik, volume denyut nadi lemah, dan gangguan tingkat kesadaran; kehadiran dua atau lebih fitur tersebut dikaitkan dengan rasio odds 9,6 (95% CI = 4,8-19) untuk kematian dini (p <0,0001). Sebaliknya, kelompok anak-anak tanpa adanya tujuh fitur tersebut, atau tanda-tanda dehidrasi, asidosis berat, atau gangguan elektrolit; memiliki kematian yang rendah (7%).

Kesimpulan: Penilaian formal dari fitur-fitur di atas sebagai tanda darurat untuk meningkatkan triase dan untuk merasionalisasi sumber daya dan tenaga kerja terhadap kelompok berisiko tinggi, memang diperlukan. Selain itu, penemuan tanda klinis dasar juga diperlukan untuk mengidentifikasi dan menguji penatalaksanaan pendukung yang tepat.

Poin penting yang dapat disimpulkan dari penelitian di atas :

  1. Keadaan gizi buruk yang berat rentan terjadi kematian
  2. Perlu adanya protokol untuk memilah antara pasien yang darurat dan tidak darurat : berdasar penelitian ini tanda-tanda berikut cukup signifikan untuk mendeteksinya, yaitu letargi, hipotermia, atau hipoglikemia, bradikardi, waktu isi ulang kapiler lebih besar dari 2 detik, volume denyut nadi lemah, dan gangguan tingkat kesadaran.
  3. Identifikasi dan penanganan yang tepat terhadap pasien gizi buruk berat, dapat menurunkan tingkat kematian.

HUBUNGAN PEROKOK AKTIF DAN PASIF TERHADAP BERKEMBANGNYA INTOLERANSI GLUKOSA PADA ORANG DEWASA DENGAN STUDI KOHORT PROSPEKTIF : STUDI CARDIA

17 Kamis Mar 2011

Posted by ackogtg in KEDOKTERAN

≈ Tinggalkan sebuah Komentar

Tag

diabetes, merokok, perokok aktif, perokok pasif, resistensi insulin

HUBUNGAN PEROKOK AKTIF DAN PASIF TERHADAP BERKEMBANGNYA INTOLERANSI GLUKOSA PADA ORANG DEWASA DENGAN STUDI KOHORT PROSPEKTIF : STUDI CARDIA

Thomas K Houston, Sharina D Person, Mark J Pletcher, Kiang Liu, Carlos Iribarren, Catarina I Kiefe

Cite this article as: BMJ, doi:10.1136/bmj.38779.584028.55 (published 7 April 2006)

PENERJEMAH : CARKO BUDIYANTO, S.Ked

ABSTRAK

Tujuan : Untuk menilai apakah perokok aktif dan pasif lebih mungkin dibandingkan non-perokok untuk berkembangnya intoleransi glukosa klinis yang relevan atau diabetes.

Desain : Coronary artery risk development in young adults (CARDIA) adalah sebuah studi cohort prospektif yang dimulai pada tahun 1985-6 dengan tindak lanjut selama 15 tahun. Partisipan dalam penelitian ini berasal dari 4 tempat yang berbeda, yaitu dari Birmingham, Alabama; Chicago, Illinois; Minneapolis, Minnesota; dan Oakland, California, Amerika Serikat. Partisipan terdiri dari orang kulit hitam dan putih, laki-laki dan perempuan, yang berumur 18-30 tahun tanpa intoleransi glukosa pada awalnya, berjumlah 1386 perokok aktif saat dilakukan penelitian, 621 memiliki riwayat pernah merokok, 1452 tidak pernah merokok tapi terpapar asap rokok (perokok pasif, dibuktikan dengan pemeriksaan konsentrasi serum cotinine 1-15 ng / ml), dan 1113 tidak pernah merokok dan tidak terpapar asap rokok.

Hasil studi yang diukur : Waktu untuk berkembangnya intoleransi glukosa (glukosa ≥ 100 mg/dl atau membutuhkan obat anti diabetik) selama 15 tahun tindak lanjut.

Hasil : Rincian partisipan pada awal penelitian adalah 25,55% perempuan dan 50% adalah keturunan Afrika-Amerika. Selama masa tindak lanjut, 16,7% dari peserta mengalami intoleransi glukosa. Ada  sebuah hubungan bertingkat antara paparan merokok dan pengembangan intoleransi glukosa. Selama 15 tahun, insiden berkembangnya intoleransi glukosa tertinggi pada perokok (21,8%), diikuti oleh perokok pasif (17,2%), kemudian orang dengan riwayat merokok sebelumnya (14,4%), dan insiden terendah adalah pada kelompok yang tidak pernah merokok dan terpapar asap rokok (11,5%).

Perokok aktif saat dilakukan penelitian (hazard ratio 1,65 dengan interval kepercayaan 95% sebesar 1,27 sampai 2,13) dan perokok pasif (1,35 dengan 1,06-1,71) tetap pada risiko lebih tinggi daripada kelompok yang tidak pernah merokok dan terpapar asap rokok setelah dilakukan penyesuaian untuk beberapa faktor seperti sosiodemografi, biologis, dan faktor perilaku. Tapi, risiko pada kelompok yang memiliki riwayat merokok sebelumnya mirip dengan perokok pasif.

Kesimpulan : Temuan ini mendukung bahwa merokok secara aktif maupun pasif berperan dalam terjadinya intoleransi glukosa pada usia dewasa muda.

Donwload artikel aslinya pdf klik disini

PROFIL PENCITRAAN CT DAN USG TERHADAP KEMUNGKINAN TERJADINYA APENDISITIS

07 Senin Mar 2011

Posted by ackogtg in KEDOKTERAN

≈ 2 Komentar

Tag

apendisitis, ct scan, nyeri perut, radang, usg, usus buntu

PROFIL PENCITRAAN CT DAN USG TERHADAP KEMUNGKINAN TERJADINYA APENDISITIS

A. van Randen,corresponding author1,2 W. Laméris,1,2 H. W. van Es,3 W. ten Hove,4 W. H. Bouma,4 M. S. van Leeuwen,5 E. M. van Keulen,6 V. P. M. van der Hulst,7 O. D. Henneman,8 P. M. Bossuyt,9 M. A. Boermeester,2 and J. Stoker1
1Department of Radiology, Academic Medical Center, University of Amsterdam, Suite G1-227, Meibergdreef 9, 1105 AZ Amsterdam, The Netherlands
2Department of Surgery, Academic Medical Center, University of Amsterdam, Amsterdam, The Netherlands
3Department of Radiology, St Antonius Hospital, Nieuwegein, The Netherlands
4Department of Surgery, Gelre Hospitals, Apeldoorn, The Netherlands
5Department of Radiology, University Medical Centre, Utrecht, The Netherlands
6Department of Radiology, Tergooi hospitals, Hilversum, The Netherlands
7Department of Radiology, Onze Lieve Vrouwe Gasthuis, Amsterdam, The Netherlands
8Department of Radiology, Bronovo hospital, The Hague, The Netherlands
9Department of Clinical Epidemiology, Biostatistics, and Bioinformatics, Academic Medical Center, University of Amsterdam, Amsterdam, The Netherlands
A. van Randen, Phone: +31-20-5662630, Fax: +31-20-56692119, Email: a.vanranden@amc.uva.nl// <![CDATA[// <![CDATA[
try{initUnObscureEmail ("e_id4419014", '' + reverseAndReplaceString('ln.avu.cma/ta/nednarnav.a', '/at/','@') + '')}catch(e){}
// ]]>.
corresponding authorCorresponding author.

Abstrak

Tujuan : Untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi profil pencitraan USG dan CT yang berhubungan dengan apendisitis akut.

Metode : Pasien terpilih yang mengalami nyeri abdomen akut di IGD diminta untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Semua pasien dilakukan pemeriksaan USG dan CT. Fitur pencitraan diketahui terkait dengan apendisitis, dan diagnosis pencitraan yang prospektif dicatat oleh dua ahli radiologi independen. Diagnosis akhir ditentukan setelah 6 bulan. Asosiasi antara fitur pencitraan appendiks dan diagnosis akhir apendisitis dievaluasi dengan analisis regresi logistik.

Hasil : Pasien apendisitis didiagnosis sebanyak 284 dari 942 pasien yang dievaluasi (30%). Semua fitur dievaluasi kemudian dikaitkan dengan apendisitis. Profil pencitraan dibuat setelah dilakukan analisis regresi logistik multivariabel. Dari 147 pasien dengan appendix menebal, kelembutan transduser lokal dan infiltrasi lemak peri-appendiks pada USG, 139 (95%) memiliki apendisitis. Pada CT, 119 pasien yang apendiksnya benar-benar divisualisasikan secara lengkap, terdapat penebalan, dengan infiltrasi lemak peri-appendiks dan pembesaran appendiks, 114 memiliki diagnosis akhir sebagai apendisitis (96%). Ketika setidaknya dua dari fitur penting tampak di USG atau CT, masing-masing memiliki sensitivitas 92% (95% CI 89-96%) dan 96% (95% CI 93-98%) terdiagnosis sebagai apendisitis.

Kesimpulan : Sebagian besar pasien apendisitis dapat ditandai dengan beberapa profil pencitraan dengan menggunakan USG dan CT. Ketika dua dari fitur-fitur penting tersebut tampak, diagnosis apendisitis dapat ditegakkan secara akurat.

Kata kunci : apendisitis akut, computed tomography (CT), ultrasonography (USG), fitur pencintraan, abdomen akut

Diterjemahkan dari  Profiles of US and CT imaging features with a high probability of appendicitis jurnal European Radiology 2010 July; 20(7): 1657–1666.

Download jurnal lengkapnya pdf klik sini

Lihat artikel tentang apendisitis klik disini

♣ MUQODIMAH

Bismillahirrohmanirrohim.
Selamat datang di blog kami.

Pemilik blog : CARKO BUDIYANTO, S.Ked
Universitas Sebelas Maret Surakarta

Visi : Memahami ilmu kedokteran dan kesehatan dalam sudut pandang Islam.

♣ Mau beli buku dengan mudah?

Toko Buku Online Terlengkap

♣ Radio Dakwah

♣ Arsip

  • Februari 2012 (4)
  • September 2011 (2)
  • Agustus 2011 (2)
  • Maret 2011 (3)
  • Januari 2011 (1)
  • Desember 2010 (4)
  • Oktober 2010 (2)
  • Agustus 2010 (1)
  • Juni 2010 (8)
  • Mei 2010 (2)
  • April 2010 (2)
  • Maret 2010 (1)
  • Februari 2010 (2)
  • Desember 2009 (1)
  • November 2009 (1)
  • September 2009 (1)
  • Juni 2009 (2)
  • Mei 2009 (7)
  • April 2009 (10)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (5)
  • Desember 2008 (7)
  • November 2008 (1)
  • Juli 2008 (9)

♣ Anda adalah pengunjung ke :

  • 168,664 orang

♣ Kunjungi kami di facebook

Tulisan Terkini

  • Inilah kenapa rokok haram
  • Al Quran Sebagai Penyembuh
  • Renungan untuk semua orang
  • PROTON PUMP INHIBITOR MENINGKATKAN RISIKO TERJADINYA DIARE AKIBAT CLOSTRIDIUM DIFFICILE
  • PER, PRESBO, KPD 1 HARI PADA MULTIGRAVIDA HAMIL POST DATE DENGAN CUKUP ANAK
  • MIOMA UTERI
  • MIOMA UTERI DENGAN MENOMETRORAGHIA
  • KUMPULAN KASUS-KASUS PENYAKIT GIGI DAN MULUT
  • ANAK MALNUTRISI BERAT DENGAN RISIKO TINGGI KEMATIAN : DAPATKAH DIIDENTIFIKASI DENGAN PROTOKOL WHO?
  • HUBUNGAN PEROKOK AKTIF DAN PASIF TERHADAP BERKEMBANGNYA INTOLERANSI GLUKOSA PADA ORANG DEWASA DENGAN STUDI KOHORT PROSPEKTIF : STUDI CARDIA

thank for your commnet

Hukum Rokok Dari Pan… on MEROKOK DILIHAT DARI SUDUT PAN…
Hannany on Akibat Bila Terlalu Banyak…
Cupping Therapy on kontak & buku tamu
Syifa on Materi Penyuluhan Kesehatan…
Izze Basedra Eltavia on Hukum donor darah dalam I…

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 11 pengikut lainnya.

Blogroll

  • blog dr tonang
  • blog punya febrian fkuns07
  • blogku
  • download soal un dan snmptn
  • fakultas kedokteran uns
  • majalahku
  • mawa
  • registrasi mahasiswa
  • salafy
  • sma 1 purwokerto
  • the new england journal of medicine
  • uns

Blog pada WordPress.com. Tema: Chateau oleh Ignacio Ricci.