IMOBILISASI

Ditulis oleh : Triastuti Diah Kumalasari (Kelompok Tutorial 4)

A. Definisi
Imobilisasi adalah ketidakmampuan untuk bergerak secara aktif akibat berbagai penyakit atau impairment (gangguan pada alat/ organ tubuh) yang bersifat fisik atau mental. Imobilisasi dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan tidak bergerak / tirah baring yang terus – menerus selama 5 hari atau lebih akibat perubahan fungsi fisiologis. Di dalam praktek medis imobilisasi digunakan untuk menggambarkan suatu sindrom degenerasi fisiologis akibat dari menurunnya aktivitas dan ketidakberdayaan.
Imobilisasi merupakan ketidakmampuan seseorang untuk menggerakkan tubuhnya sendiri. Imobilisasi dikatakan sebagai faktor resiko utama pada munculnya luka dekubitus baik di rumah sakit maupun di komunitas. Kondisi ini dapat meningkatkan waktu penekanan pada jaringan kulit, menurunkan sirkulasi dan selanjutnya mengakibatkan luka dekubitus. Imobilisasi disamping mempengaruhi kulit secara langsung, juga mempengaruhi beberapa organ tubuh. Misalnya pada system kardiovaskuler,gangguan sirkulasi darah perifer, system respirasi, menurunkan pergerakan paru untuk mengambil oksigen dari udara (ekspansi paru) dan berakibat pada menurunnya asupan oksigen ke tubuh. (Lindgren et al. 2004)

B. Epidemiologi

Immobilisasi lama bisa terjadi pada semua orang tetapi kebanyakan terjadi pada orang – orang lanjut usia, pasca operasi yang membutuhkan tirah baring lama. Dampak imobilisasi lama terutama dekubitus mencapai 11% dan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu, perawatan emboli paru berkisar 0,9%,dimana tiap 200.000 orang meninggal tiap tahunnya.

C. Penyebab

Berbagai perubahan terjadi pada system musculoskeletal, meliputi tulang keropos (osteoporosis), pembesaran sendi, pengerasan tendon, keterbatasan gerak, penipisan discus intervertebralis, dan kelemahan otot, terjadi pada proses penuaan.
Pada lansia, struktur kolagen kurang mampu menyerap energi. Kartilago sendi mengalami degenerasi didaerah yang menyangga tubuh dan menyembuh lebih lama. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya osteoarthritis. Begitu juga masa otot dan kekuatannya juga berkurang.
Istirahat di tempat tidur lama dan inaktivitas menurunkan aktivitas metabolisme umum. Hal ini mengakibatkan penurunan kapasitas fungsional sistem tubuh yang multipel, dengan manifestasi klinis sindrom imobilisasi. Konsekuensi metaboliknya tidak tergantung penyebab untuk apa imobilisasi diresepkan. Hal ini bisa disebabkan oleh:
1.  Cedera tulang: penyakit reumatik seperti pengapuran tulang atau patah tulang (fraktur) tentu akan menghambat pergerakan.
2.  Penyakit saraf: adanya stroke, penyakit parkinson, paralisis, dan gangguan saraf tapi juga menimbulkan gangguan pergerakan dan mengakibatkan imobilisasi.
3.  Penyakit jantung dan pernapasan penyakit jantung dan pernapasan akan menimbulkan kelelahan dan sesak napas ketika beraktivitas. Akibatnya pasien dengan gangguan pada organ – organ tersebut akan mengurangi mobilisasinya. Ia cenderung lebih banyak duduk dan berbaring.
4.  Gips ortopedik dan bidai.
5.  Penyakit kritis yang memerlukan istirahat.
6.  Menetap lama pada posisi gravitasi berkurang, seperti saat duduk atau berbaring.
7.  Keadaan tanpa bobot diruang hampa, yaitu pergerakan tidak dibatasi, namun tanpa melawan gaya gravitasi

D. Komplikasi

Imobilisasi dapat menimbulkan berbagai masalah sebagai berikut:
Infeksi saluran kemih, atrofi otot karena disused, konstipasi, infeksi paru, gangguan aliran darah, dan dekubitus.
E. Pemeriksaan fisik
1. Mengkaji skelet tubuh
Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor tulang. Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran anatomis. Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi biasanya menandakan adanya patah tulang.
2. Mengkaji tulang belakang
a. Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang)
b. Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang bagian dada)
c. Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan)
3. Mengkaji system persendian
Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan, adanya kekakuan sendi
4. Mengkaji system otot
Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot. Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau
atropfi, nyeri otot.
5. Mengkaji cara berjalan
Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu ekstremitas lebih pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist yang berhubungan dengan caraberjalan abnormal (misalnya cara berjalan spastic hemiparesis – stroke, cara berjalan selangkah-selangkah – penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson).
6. Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer
Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari lainnya dan adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan waktu pengisian kapiler.
7. Mengkaji fungsional klien

E. Pemeriksaan penunjang

Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan perubahan hubungan tulang. CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon. Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi. MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus, noninvasive, yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan computer untuk memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak melalui tulang.
Pemeriksaan Laboratorium: Hb ↓pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali Fospat ↑, kreatinin dan SGOT ↑ pada kerusakan otot.

F. Penatalaksanaan

1. Tulang
a. Obat : meningkatkan pembentukan tulang: Na – Florida, steroid anabolic, menghambat resorbsi tulang: kalsium, estrogen, kalsitonin, difosfonat, diet tinggi kalsium (1.000 mg/hari).
b. Fisioterapi : berlatih berjalan dengan alat bantu / alat penyangga, latihan teratur setiap hari, menggerakkan ekstremitas dan anggota tubuh lainnya (Range of Motion = ROM).
c. Operasi: fusi secara bedah melintas garis fraktur dapat dilakukan. Pada tulang belakang servikal operasi dilakukan baik dari depan maupun belakang. Pada daerah toraks tulang belakang difiksasi dengan pelat metal dan tandur tulang yang menyatukan lamina dengan proses spinosus berdekatan.
d. Larangan : hindari diet tinggi protein, kopi, alkohol, merokok, antasida aluminium.
e. Saran: ranjang khusus, rangka, atau selubung plester dengan pasien dapat dirawat untuk waktu yang lama dengan mempertahankan posisi yang telah direduksi bahkan saat membalik untuk memandikan atau merawat kulit.

2. Syaraf
a. Obat : minum vitamin B1, B2, B12.
b. Fisioterapi : sasaran terapi adalah mempertahankan fungsi neurologis yang masih ada, memaksimalkan pemulihan neurologis, tindakan atas cedera lain yang menyertai, dan mencegah serta mengobati komplikasi serta sekuele kerusakan neural. Terapinya yang penting adalah dengan menggerakkan ekstremitas dan anggota tubuh lainnya supaya merangsang aktivitas saraf.
c. Operasi: bila diperlukan operasi, dekompresi kanal spinal dilakukan pada saat yang sama.
d. Larangan : hindari hilangnya sensasi, hindari stress: perasaan tertekan, depresi, bekerja yang terlalu keras.
e. Saran : menggunakan terapi music, mintalah terapi rekreasi untuk integrasi psikososial, resosialisasi, dan penyesuaian terhadap fungsi mandiri, berikan semangat pasien untuk berinteraksi dengan staf, pasien lain dan anggota keluarga, segera lakukan operasi bila keadaan pasien memburuk untuk menghindari kelumpuhan.

3. Sistem Kardiovaskuler
a. Obat : antikoagulan: heparin, wasfarin, antitrombosis: aspirin, ticlopidin, dipiridamol, sulfin pirazon, trombolitik: streptokinase, urokinase, anistreplase.
b. Fisioterapi : sasaran terapi adalah mempertahankan fungsi kerja jantung yang optimal dan menyingkirkan adanya gangguan kerja jantung yang normal, melatih terutama otot ekstremitas.
c. Larangan : hindari diet tinggi lemak dan kolesterol, hindari stress, bekerja terlalu berat, hindari Kelelahan
d. Saran yang harus dikerjakan : plantar / dorso fleksi, aktivitas, berdiri .

4. Tractus Respiratorius
a. Obat : bronkodilator; teofilin, agonis B2, prednisone, atropine, kromolin, mukolitik; bromheksin, ambroksol, asetil sistein, ekspektorat: aluminium klorida, gliseril gualakolat, kalium yodida.
b. Fisioterapi : latihan pernafasan (mengambil nafas dalam – dalam), pembalikan tubuh berulang, perangsangan batuk, pernafasan dalam, Spirometri insentif, dan pernafasan bertekanan positif yang sinambung dengan masker adalah cara mempertahankan ekspansi paru-paru atau kapasitas residual fungsional, tracheostomi dilakukan bila pasien tak mungkin dilepaskan dari ventilator, perkusi dilakukan dengan tujuan melepaskan sekret di dinding saluran napas.
c. Larangan : hindari ruangan berasap (polusi udara), merokok, dan alkohol.
d. Saran yang harus dikerjakan : gunakan pakaian yang longgar, sediakan O2 linhaler (untu mengatasi sesak nafas), rekreasi ke alam terbuka bebas polusi.

5. Kulit
a. Obat : bila timbul luka diberi antiseptik.
b. Fisioterapi : perubahan posisi badan setiap 2 jam, latihan gerak sendi – sendi tubuh secara teratur.
c. Larangan : jangan tidur atau berbaring terlalu lama, jangan biarkan kulit menjadi basah karena keringat, lembab atau kencing.
d. Saran : enghindari melebarnya luka dengan menutup bagian yang luka terutama pada bagian yang tertekan saat berbaring.

6. Muskuloskeletal
a. Terapi : latihan teratur setiap hari,menggerakkan ekstremitas dan anggota tubuh lainnya, ROM ( Range of Motion ), latihan penguatan (stretching )
b. Larangan : mengangkat beban terlalu berat.

7. Traktus Urinarius
Pencegahan dan penanganan yang dilakukan untuk mengatasi terjadinya keadaan patologi pada system urinarius yang terjadi akibat imobilisasi lama, adalah dengan cara:
a. Mobilisasi sedini mungkin, paling tidak pasien sering didudukkan, mengubah posisi vesika urinaria
b. Banyak minum sekitar 3 liter (8-12gelas) dalam sehari
c. Pantaulah pasien dengan cermat dan rutin terhadap adanya tanda dan gejala hiperkalsemia, ISK, dan terapi secara adekuat.
d. Supaya tidak retensi urine dipasang kateter.

8. Traktus Digestivus
Sesegera mungkin melakukan aktivitas maksimal, memberikan dorongan semangat untuk berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan, pendekatan dokter, terapi dan perawat. Makan banyak buah-buahan,sayur-sayuran.

Pustaka :

  1. Ario Tejo, Bima. 2009. Immobilisasi Lama. http://bimaariotejo.wordpress.com/2009/07/07/immobilisasi-lama/ (5 April 2010)
  2. Sammy. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Mobilisasi. http://jarumsuntik.com/asuhan-keperawatan-pada-klien-dengan-gangguan-mobilisasi/ (5 April 2010)

abuidris_ackogtg@yahoo.co.id

About these ads