kedokteran islam

to be a great doctor on sunnah

epilepsi

Ditulis oleh Carko Budiyanto, Tutor : DR. Dr. SYARIF SUDIRMAN, SP. ANESTESIOLOGI AKUPUNTURIS, Kategori : Kedokteran

Epilepsi

A. Latar Belakang Masalah

 

Epilepsi dikenal sebagai salah satu penyakit tertua di dunia (2000 tahun SM) dan mnempati urutan kedua dari penyakit saraf setelah gangguan perdaran darah otak. Dengan tatalaksana yang baik sebagian besar penderita dapat terbebaskan dari pnyakitnya, namun untuk ini ditemukan banyak kendala, di Indonesia diantaranya kurangnya dokter spesialis saraf, kurangnya ketrampilan dokter umum dan paramedis dalam menanggulangi penyakit ini. Salah satu pnyebab dari kendala tadi adalah kurikulum yang minimal untuk penyakit ini (Tjahjadi, 2007).

Hingga 1 % dari populasi umum mnderita epilepsi aktif, dngan 20-50 pasien baru yang terdiagnosis per 100.000 per tahunnya. Perkiraan angka kematian pertahun akibat epilepsi adalah 2 per 100.000. Kematian dapat berhubungan langsung dengan kejang, misalnya ketika terjadi serangkaian kejang yang tidak terkontrol, dan diantara serangan pasien tidak sadar, atau jika terjadi cedera akibat kecelakaan atau trauma (Ginsberg, 2008).

Baca selebihnya »

Desember 30, 2008 Ditulis oleh ackogtg | KEDOKTERAN | | & Komentar

Orang Yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya

Ditulis oleh Carko Budiyanto, Kategori : Islam, Sub : Perkataan Salaf

Orang Yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya

Abdurrohman bin Mahdi rohimahulloh

berkata : “Ada 3 golongan yang tidak boleh diambil ilmunya, yakni : (1) Seseorang yang tertuduh dengan kedustaan, (2) Ahlul bid’ah yang mengajak (manusia) kepada kebid’ahannya, dan (3) seseorang yang dirinya didominasi oleh keraguan serta kesalahan-kesalahan.”

Al Imam Malik rohimahulloh

berkata : ” Tidak boleh seseorang mengambil ilmu dari 4 jenis manusia dan boleh mengambilnya dari selain mereka (yaitu) : (1) ilmu tidak diambil dari orang-orang bodoh, (2) tidak diambil dari pengekor hawa nafsu yang menyeru manusia kepada hawa nafsunya, (3) tidak pula dari seorang pendusta yang biasa berdusta dalam pembicaraan-pembicaraan manusia meskipun tidak tertuduh berdusta pada hadist-hadist Rosululloh sholallohu alaihi wasallam, (4) tidak pula dari seorang syaikh yang memiliki keutamaan, kesholihan, serta ahli ibadah tetapi dia tidak lagi mengetahui apa yang tengah dibicarakannya.”

(Dikutip dari majalah Asy-syariah edisi no 43 hal 1 bagian Permata Salaf, diambil dari An Nubadz fi ’Adab Tholabil ’Ilmi hal 22-23)

 

Desember 30, 2008 Ditulis oleh ackogtg | ISLAM | | Belum Ada Tanggapan

asma

Ditulis oleh Carko Budiyanto, Tutor : dr. Balqis, Kategori : Kedokteran

ASMA

A. Latar Belakang Masalah

Asma berasal dari bahasa Yunani yang artinya terengah-engah atau napas pendek. Asma adalah keadaan yang menunjukan respon abnormal saluran napas terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan napas yang meluas. Penyempitan tersebut menyebabkan obstruksi aliran udara dan wheezing/mengik. Kelainan dasarnya tampaknya suatu perubahan status imunologis penderita. Asma mudah ditimbulkan oleh berbagai rangsang yang menunjukan suatu keadaan hiperaktivitas bronkus yang khas (Chandrasoma, 2006; Price dan Wilson, 2006).

Patogenesis asma dapat dijelaskan dari segi imunologis dimana asma merupakan reaksi hipersensitivitas tipe I. Berbagai mediator yang dihasilkan oleh sel-sel radang dapat menimbulkan manifestasi klinis.

Baca selebihnya »

Desember 30, 2008 Ditulis oleh ackogtg | KEDOKTERAN | | Belum Ada Tanggapan

Kanker Payudara

Mengenali dan Mendeteksi Kanker Payudara

OLEH  : CARKO BUDIYANTO

TUTOR : DR. SLAMET RIYADI


A. Latar Belakang Masalah

Kanker payudara merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting. di Indonesia, kanker payudara termasuk tersering ditemukan pada wanita setelah kanker serviks. Insiden kanker payudara meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.

Kanker payudara yang ditemukan pada stadium dini memiliki prognosis yang lebih baik. Namun, berdasarkan data di RS kanker Darmais, sekitar 50% pasien datang sudah dalam stadium IV. Hal ini tidak berbeda dengan apa yang biasa terjadi di negara sedang berkembang, dimana hanya sekitar 20% kasus kanker payudara datang dalam stadium dini, sangat jauh dari angka 80% pada stadium I dan II di negara maju.1

B. Definisi Masalah

Seorang wanita berusia 35 tahun mengeluh adanya benjolan pada payudara kiri sejak 4 bulan yang lalu. Bibi pasien juga menderita tumor payudara, bahkan sampai meninggal dunia pada usia 45 tahun.

C. Tujuan Penulisan

1. menyelesaikan tugas tutorial

2. mengenal dan mengetahui penyakit tumor payudara

3. menyelesaikan kasus-kasus yang berkaitan dengan kanker payudara.

D. Manfaat Penulisan

1. Mahasiswa dapat memahami konsep dasar neoplasma.

2. Mahasiswa dapat menerapkan konsep dan prinsip ilmu biomedik, klinik, perilaku, dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer pada penyakit yang berkaitan dengan neoplasma.

KANKER PAYUDARA

Kanker payudara adalah salah satu neoplasma yang ganas.

Faktor risiko

Secara statistik, risiko kanker payudara meningkat pada wanita nulipara, wanita dengan menarke dini dan menopause lambat, dan pada mereka yang mengalami kehamilan pertamanya setelah usia 30 tahun. Hiperplasia lobular dan duktus atipik meningkatkan risiko kanker. Begitu pula jika ada riwayat keluarga yang terkena kanker juga meningkatkan risiko kanker.2,3

Etiologi

Penyebab karsinoma payudara tidak diketahui, tetapi kemungkinan multifaktorial. Faktor-faktor yang diusulkan : faktor genetik, hormon, dan virus.

Adanya gen BRCA1 dan BRCA2 merupakan faktor terjadinya neoplasma pada payudara. Estrogen adalah hormon yang paling banyak diteliti karena banyak bukti epidemiologik bahwa pemajanan lama terhadap estrogen, menarke dini, menopause lambat, nuliparitas, dan tertundanya kehamilan meningkatkan risiko kanker payudara. Virus juga diduga menyebabkan karsinoma payudara. Faktor susu Bittner adalah suatu virus yang diduga menyebabkan karsinoma payudara.2,3,6

Patologi

Berdasarkan kriteria histologiknya terdapat beberapa tipe kanker payudara yang diklasifikasikan lebih lanjut menurut derajat invasinya : karsinoma lobular insitu / noninvasif, karsinoma duktus insitu, karsinoma lobular invasif / infiltratif, karsinoma duktus invasif.2

Gambaran klinis

Sebagian besar pasien datang dengan massa tidak nyeri. Mula-mula, massa mungkin kecil dan dapat digerakan, tetapi akan membesar, terkadang dengan cepat. Retraksi kulit serta puting dan ulserasi dinding dada adalah gambaran lanjut dengan prognosis tidak menguntungkan.2

Penyebaran

Penyebaran intraepitel menyebabkan terkenanya banyakk duktus dan lobulus. Perluasan ke puting menyebabkan penyakit paget. Penyebaran limfatik terjadi mengikuti rute yang dapat diramalkan berdasarkan lokasi lesi primer. Penyebaran melalui darah dengan deposit metastasis pada tulang, hati, serta paru. Penyebaran melalui rongga pleura / peritoneum terjadi bila pleura ikut terkena.2,3

Diagnosis

Pemeriksaan histologik terhadap biopsi massa adalah metode diagnostik definitif. Diagnosis patologik memberi informasi : tipe histologik, ukuran, stadium penyakit, dan status reseptor estrogen dan progesteron.2

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan adalah proses yang cukup panjang dan harus berlanjut sampai benar-benar tidak terjadi kekambuhan. Penanganan disesuaikan dengan stadium dari penyakit. Penatalaksanaan berupa : pembedahan, radioterapi, kemoterapi, terapi hormonal, dan terapi kombinasi.1,2,3

PEMBAHASAN

Pada skenario, didapatkan pasien dengan benjolan di payudara. Ada banyak penyakit yang dijadikan diagnosis banding adanya tumor di payudara, antara lain :

Tumor nonneoplasma : mastitis dan abses payudara, nekrosis lemak, granuloma silikon, penyakit fibrokistik.

Tumor neoplasma jinak : fibroadenoma payudara, papiloma duktus.

Tumor neoplasma ganas / kanker.

Suatu tumor nonneoplasma biasanya dapat dibedakan dengan tumor neoplasma. Tumor nonneoplasma dapat dikaitkan dengan waktu dan sebab khusus. Data ini bisa didapatkan saat anamnesis. Misalnya, mastitis dan abses payudara biasanya terjadi pada wanita postpartum saat awal menyusui, dimana payudara yang laktasi memudahkan bakteri staphylococcus aureus masuk dan menginfeksi payudara. Nekrosis lemak biasanya terjadi setelah payudara mengalami trauma fisik. Granuloma silikon terjadi pada wanita yang memakai suntik silikon pada payudaranya. Penyakit fibrokistik terjadi pada wanita dewasa yang kelebihan estrogen dan defisiensi progesteron selama fase luteal siklus menstruasi. Sedangkan pada neoplasma terjadi pertumbuhan yang tak terkontrol tanpa trkait dengan waktu dan sebab khusus. Selain itu, masing-masing penyakit dapat dibedakan dengan pemeriksaan histologik.

Ada bebarapa tahapan untuk mendeteksi dan mendiagnosis kanker payudara :

Pemeriksaan payudara sendiri (sadari)

Pemeriksaan oleh pasien sendiri. Menurut rekomendasi American Cancer Sosiety (2001), sadari dilakukan pada wanita yang berusia ≥ 20 tahun secara rutin setiap bulan. Pasien dapat memeriksanya dengan meraba payudaranya apakah ada kelainan atau tumor, saat mandi atau setelah mandi saat bercermin. Namun, kanker payudara sering sekali ditemukan pertama kali oleh pasien melalui sadari setelah massa / tumor dapat teraba (sekitar 1 cm).

Riwayat medis

Deteksi dan diagnosis kanker payudara diawali dengan riwayat penyakit pribadi dan keluarga yang berkaitan dengan patofisiologi payudara. Hal ini dikaitkan dengan faktor risiko.

Pemeriksaan payudara klinik

Pemeriksaan fisik terhadap suatu massa payudara berguna unutk membedakan kanker dan penyebab lain pada penyakit yang telah lanjut. Fiksasi massa pada kulit atau dinding dada, ulserasi kulit, retraksi puting, dan limfadema merupakan tanda-tanda karsinoma payudara lanjut.

Mamografi

Pemeriksaan mamografi adalah pemeriksaan yang sensitif untuk mendeteksi lesi yang tidak teraba. Mamografi sangat berguna sebagai prosedur penapisan untuk memantau pasien yang memiliki risiko tinggi, dan sebagai sarana untuk mendeteksi tumor primer yang secara klinis masih tersembunyi, dan dapat pula memberikan dugaan keganasan dari massa yang teraba. Menurut rekomendasi American Cancer Society (2001), pada wanita usia20-39 tahun dilakukan pemeriksaan payudara klinik setiap 3 tahun, dan wanita usia ≥ 40 tahun dilakukan pemeriksaan payudara klinik dan mamografi setiap tahun.

Biopsi

Pemeriksaan mokroskopik terhadap sampel jaringan merupakan sarana evaluasi definitif bagi massa payudara. Jaringan dapat diperoleh melalui : (1) Aspirasi jarum halusmenghasilkan sampel untuk pemeriksaan sitologik. Metode ini efektif dan sangat akurat untuk mengenali keberadaan karsinoma. (2) Biopsi jarum inti mengambil jaringan inti untuk pemeriksaan histologik. (3) Biopsi insisional ( mengambil sebagian massa untuk pemeriksaan histologik) dan eksisional (mengambil seluruh massa). Pemeriksaan histologik lebih akurat dibandingkan dengan pemeriksaan sitologik karena metode sitologik mendasarkan diagnosisnya pada pemeriksaan hanya terhadap sel, sementara pemeriksaan histologik memungkinkan penilaian sel sekaligus arsitektur sel dalam irisan jaringan.

KESIMPULAN

1. Pada skenario, penyakit pasien tidak dapat didiagnosis karena terbatasnya data. Kemungkinan pasien menderita kanker payudara dimana pasien merupakan orang dengan faktor risiko secara familial dari keluarganya yang juga ada yang terkena kanker payudara.

2. Diagnosis banding pada kasus tumor adalah : tumor nonneoplasma (mastitis, nekrosis lemak), neoplasma jinak dan neoplasma ganas / kanker payudara.

3. Untuk dapat mendeteksi dan mendiagnosis kanker payudara ada beberapa tahap : pemeriksaan payudara sendiri (sadari), riwayat medis, pemeriksaan payudara klinik, mamografi, dan biopsi.

SARAN

Sebaiknya orang yang memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara, seperti adanya keluarga yang terkena kanker payudara, dapat lebih waspada dan hati-hati, berusaha mengurangi hal karsinogen dan rajin melakukan pemeriksaan baik sadari maupun oleh ahlinya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Tim Penanggulangan dan Pelayanan Kanker Payudara Terpadu Paripurna R.S. Kanker Dharmais. 2003. Penatalaksanaan Kanker Payudara Terkini. Jakarta : Pustaka Populer Obor. Pp: vii, x, 8,14, 23
  2. Parakrama Chandrasoma dan Clive R Taylor. 2005. Ringkasan Patologi Anatomi. Edisi 2. Jakarta : EGC. pp: 742-755
  3. Price and Willson. 2005. Patofisiologi. 6th . Jakarta: EGC. Pp: 1301-1307
  4. Ganong, William F. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 17th . Jakarta: EGC. Pp: 44
  5. Guyton, AC. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 9th . Jakarta: EGC. Pp: 49-50
  6. Murray, Robert K (et al). 2003. Biokimia Harper. 5th ed. Jakarta : EGC. pp: 766

Desember 15, 2008 Ditulis oleh ackogtg | KEDOKTERAN | | & Komentar

perlukah imunisasi?

Ditulis oleh CARKO BUDIYANTO. Pembimbing : DR. BALQIS. Kategori KEDOKTERAN

Latar Belakang Masalah
Imunisasi adalah suatu cara yang dilakukan untuk membuat tubuh memiliki daya tahan terhadap agen-agen asing yang dapat menyerang tubuh dan menimbulkan penyakit. Cara-cara ini sudah dipelajari dan dilakukan berabad-abad silam. Mendahului ilmu kedokteran modern, dokter-dokter cina pada abad ke-11 telah mengamati bahwa pengisapan kerak cacar, mencegah terjadinya serangan penyakit cacar berikutnya. Kemudian cara-cara vaksinasi dengan pemberian tepung kerak cacar intradermal sudah dilakukan di Timur Tengah.
Sebenarnya, tubuh manusia telah memiliki sistem kekebalan sebagai mekanisme portahanan dalm mencegah masuk dan menyebarnya agen infeksi. Mekanisme pertahanan ini terdiri dari dua kelompok fungsional yaitu pertahanan spesifik dan nonspesifik yang saling bekerja sama. Pertahanan nonspesifik diantanya adalah kulit dan membran mukosa, sel-sel fagosit, komplemen, lisozim, interferon, dan berbagai faktor humoral lain. Semua pertahanan ini merupakan bawaan (innate).
Mekanisme pertahanan spesifik melliputi sistem produksi antibodi oleh sel B dan sistem imunitas seluler oleh sel T. Sistem pertahanan ini bersifast adaptif dan didapat, yaitu menghasilkan reaksi spesifik pada setiap agen infeksi yang dikenali karena telah terjadi pemaparan terhadap mikroba atau determinan antigenik tersebut sebelumnya. Hal inilah yang menjadi dasar imunisasi.
Di Indonesia, imunisasi diatur oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pemerintah bertanggung jawav dan terus mensosialisasikan akan wajibnya imunisasi. Bahkan hal ini diatur dalam undang-undang seperti UU No 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Kep. Menkes No 1611/Menkes/SK/XI/2005 tentang pedoman penyelenggaraan imunisasi, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Namun, banyak masyarakat yang meragukan akan pentingnya imunisasi. Hal ini bukan karena tanpa sebab. Banyak dari masyarakat yang melihat dan mengalami bahwa banyak orang yang sudah diimunisasi, tetap saja masih terkena penyakit. Banyak ibu yang mengeluh tentang anaknya setelah diimunisasi, malah demam dan sakit. Ada juga yang mengalami radang.
Berdasarkan fenomena ini, benarkah imunisasi memang berguna dan meningkatkan daya tahan tubuh? Jika benar, mengapa ada orang yang justru sakit setelah diimunisasi? Lalu apakah yang sebaiknya dilakukan? Mungkin itulah pertanyaan yang terbesit bagi sebagian masyarakat kita.

Definisi Masalah

Dalam kasus skenario pertama Blok Imunologi didapatkan seorang ibu (Ibu Susi) yang ragu apakah anaknya yang kedua, Ali, harus diimunisasi campak. Keraguannya diawali ketika anak pertamannya yang sudah diimunisasi campak tetap saja masih terkena campak. Dia juga melihat anak tetangga yang diimunisasi campak ada yang demam, radang, ada juga yang gagal dengan alasan kurang gizi. Yang menjadi masalah, ada anak tetangga yang terkena penyakit campak, sehingga Ibu Susi takut kalau anaknya tertular. Dia juga ingin tahu, kenapa imunisasi campak harus menunggu sampai bayi berusia 9 bulan, kenapa tidak setelah lahir saja.

SISTEM IMUNITAS TUBUH
Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis patogen, misalnya bakteri, virus, fungus, protozoa, dan parasit yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi yang terjadi pada orang normal umumnya singkat dan jarang meninggalkan kerusakan permanen. Hal ini disebabkan tubuh manusia memiliki suatu sistem yang disebut sistem imun yang memberikan respon dan melindungi tubuh terhadap unsur-unsur patogen tersebut. Respon imun sangat tergantung pada kemampuan sistem imun untuk mengenali molekul asing (antigen) yang terdapat pada patogen potensial dan kemudian membangkitkan reaksi yang tepat untuk menyingkairkan sumber antigen bersangkutan.1
Bila sistem imun terpapar pada zat asing, maka ada dua jenis respon imun yang mungkin terjadi, yaitu : (1) respon imun nonspesifik, dan (2) respon imun spesifik. Respon imun spesifik umumnya merupakan imunitas bawaan (innate) dalam arti bahwa respon terhadapzat asing dapat terjadi walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar pada zat tersebut, sedangkan respon imun spesifik merupakan respon didapat (acquired) yang timbul terhadap antigen tertentu, terhadap mana tubuh pernah terpapar sebelumnya.1,2,3
Perbedaan utama antara kedua respon imun tersebut adalah :( 1) respon imun spesifik menunjukan diversitas yang sangat besar; (2) sistem imun spesifik menujukan tingkat spesialisasi yang cukup tinggi, ini berarti bahwa mekanisme respon imun terhadap berbagai jenis antigen tidak sama; (3) sistem imun spesifik mampu mengenal kembali antigen yang pernah dijumpainya (memiliki memori), sehingga paparan berikutnya akan meningkatkan efektifitas mekanisme pertahanan tubuh. Sifat-sifat demikian tidak dimiliki oleh sistem imun bawaan. Namun demikian, pengolompokan respon imun ke dalam dua kelompok tersebut terlalu disederhanakan karena telah dibuktikan bahwa kedua jenis respon di atas saling meningkatkan efektifitas dan bahwa respon imun yang terjadi sebenarnya merupakan interaksi antar satu komponen dengan komponen lain yang terdapat dalam sistem imun.1,4

RESPON IMUN NONSPESIFIK
Komponen utama respon imun nonspesifik adalah :
1. Mekanik (kulit)
2. Biokimiawi, pengrusakan oleh asam lambung dan enzim pencernaan terhadap organisme yang tertelan ke dalam lambung.
3. Fagositosis oleh lekosit dan sistem makrofag jaringan.
4. Adanya senyawa kimia tertentu dalam darah yang melekat pada organisme asing atau toksin dan menghancurkannya. Beberapa senyawa tersebut antara lain : (1) lisozim, suatu polisakarida mukolitik yang menyerang bakteri dan membuatnya terlarut; (2) polipeptida dasar, yang bereaksi dengan baketri gram positif tertentu dan membuatnya menjadi tidak aktif; (3) kompleks komplemen; (4) sel NK.1,4,5

Adapun mekanisme kerja sistem imun ini adalah sebagai berikut:
Pengenalan (recognition) dari benda yang akan dicerna.
Gerakan ke arah objek. Hal ini dimungkinkan berkat dilepaskannya zat atau mediator tertentu yang disebut kemotaktik yang dapat berasal dari bakteri, netrofil atau makrofag yang telah berada di lokasi infeksi, atau yang dilepaskan oleh komplemen.
Opsonisasi. Agen infeksius dilapisi imunoglobulin atau komplemen (C3b), agar lebih mudah ditangkap fagosit.
Penelanan dengan cara endositosis dan agen terperangkap dalam kantung fagosom.
penghancuran dengan proses oksidasi-reduksi, oleh derajat keasaman, atau penghancuran oleh lisozim.1,4

Selain fagositosis, manisfestasi respon imun nonspesifik yang lain adalah reaksi inflamasi.1,3,4

Respon Imun Spesifik

Ciri utama respon imun spesifik adalah :
1. Spesifitas, masing-masing limfosit mengekspresikan reseptor yang mampu membedakan struktur antigen satu dengan yang lain walaupun perbedaan itu sangat kecil. Bagian antibodi yang dikenal oleh limfosit disebut determinan antigen atau epitop.
2. Diversitas, limfosit memiliki reseptor terhadap antigen dengan struktur yang berbeda-beda, tergantung antigen yang dikenalnya, sehingga timbulah diversitas repertoire yang sangat besar.
3. Memori, dapat mengingat antigen yang pernah dijumpai dan memberikan respon sekunder.
4. Spesialisasi, memberi respon yang berbeda dan dengan cara yang berbeda terhadap berbagai agen dan jenis stadium infeksi.
5. Membatasi diri, adanya regulasi umpan balik.
6. Membedakan self dan nonself, terjadi karena, reseptor terhadap antigen tubuh sendiri telah disingkairkan saat perkembangan.1,4
Ada tiga macam molekul pengikat antigen:
Reseptor permukaan sel B (imunoglobulin)
Reseptor antigen sel T (TCR)
MHC, berfungsi menyajikan fragmen-fragmen antigen untuk dikenali limfosit T. MHC I diekspresikan oleh semua sel berinti dan trombosit, MHC II diekspresikan secara terbatas.1
Respon imun spesifik dibagi menjadi dua:
Respon imun seluler
Ada dua cara :
a. Sel terinfeksi dibunuh melalui sistem efektor ekstraseluler, dilakukan oleh sel T sitotoksik bersama MHC I. Sel T sitotoksik mensekresikan perforin yang dapat melubangi sel, γ-interferon untuk mencegah penyebaran mikroorganisme ke sel lain.
b. Mengaktivasi sel terinfeksi agar mampu membunuh organisme yang menginfeksinya. Sel T helper dan MHC II mengenali antigen pada sel makrofag sehingga menginduksi limfosit untuk memproduksi limfokin, antara lain interferon, yang dapat membantu makrofag menghancurkan mikroorganisme tersebut.1,3,6
Respon imun humoral
Dilakukan oleh sel B dengan memproduksi antibodi untuk pertahanan ekstraseluler. Supaya limfosit berdiferensiasi dan membentuk antibodi diperlukan bantuan limfosit Th yang atas sinyal yang diberikan oleh makrofag. Antibodi ini berikatan dengan antigen membentuk kompleks antigen-antibodi yang dapat mengaktivasi komplemen dan mengakibatkan hancunya antigen tersebut.1,3,6
Salah satu interaksi antar respon imun seluler dengan humoral adalah antibody dependent cell mediated cytotoxicity (ADCC).

IMUNISASI
Sistem imun pada manusia pada dasarnya dapat dibagi dua, yaitu (1) imunitas aktif dan (2) imunitas pasif. Imunitas aktif adalah sistem kekebalan tubuh dimana sistem tersebut terbentuk oleh tubuh sendiri dengan cara membentuk respon dan memproduksi antibodi untuk melawan antigen. Sedangkan imunitas pasif adalah sistem kekebalan yang tidak dibentuk oleh tubuh sendiri, melainkan didapat dari luar, bisa dari ibu ke janin atau langsung disuntikan antibodi pada orang yang membutuhkan kekebalan.
Mekanisme kekebalan pasif yang didapat seseorang dari ibunya adalah melalui plasenta dan ASI, antara lain :
Beberapa imunoglobulin seperti IgA, IgG, sedangkan IgM tidak dapat ditranfer karena berat molekul yang besar.
Lewat ASI seperti IgA dengan kadar cukup tinggi, laktoferin, lisozim, faktor bifidus.

Pemberian antibodi pada tubuh seseorang merupakan upaya untuk menimbulkan kekebalan atau disebut imunisasi secara pasif. Imunisasi pasif ini diperlukan apabila: (1) vaksin tidak tersedia, (2) pencegahan sensitisasi Rh0 dan imunosupresi selama transplantasi jaringan, (3) defisiensi imun. Imunisasi dengan cara ini memiliki beberapa keuntungan yaitu : kesegeraan aksi sehingga dapat digunakan pada keadaan gawat, kelambatan periode laten dapat dicegah, dan sangat tepat diberikan pada orang dengan imunodefisiensi. Namun begitu, imunisasi pasif memiliki beberapa kekurangan antara lain : (1) pemberian antibodi spesifik pasif dapat menghambat produksi antibodi secara aktif dengan cara hambatan umpan balik negatif, (2) kekebalan yang dihasilkan tidak dapat bertahan lama (2-10 hari tergantung antibodi yang diberikan), (3) pemberian berulang-ulang dapat menyebakan kemungkinan reaksi hipersensitivitas.
Untuk menjawab semua kekurangan tersebut, maka ada imunisasi aktif dimana tubuh dirangsang untuk menghasilkan kekebalan dengan sendirinya. Keuntungan imunisasi aktif adalah : proteksi yang lebih panjang, kadar antiobodi untuk bertahun-tahun.
Imunisasi ini memanfaatkan antigen yang sudah dilemahkan atau dimatikan dan dimasukan ke dalam tubuh sehingga tubuh akan merespon dengan membuat antibodi. Namun, karena sudah dilemahkan atau dimatikan, antigen ini tidak menimbulkan penyakit. Antigen ini dinamakan vaksin.
Paparan pertama antigen atau vaksin terhadap tubuh menghasilkan respon primer, dimana akan dibentuk antibodi dan sel memori. Pada paparan kedua dan selajutnya baik itu dari antigen secara alami ataupun dari vaksin, menghasilkan respon sekunder, dimana tubuh sudah mengenali antigen tersebut, sehingga produksi antibodi akan lebih cepat, periode laten lebih pendek, kadar antibodi lebih tinggi.
Pada dasarnya vaksin dibuat dari :
Kuman yang sudah dilemahkan (vaksin polio salk, batuk rejan) atau dimatikan (vaksin BCG, polio sabin, campak).
Zat racun (toksin) yang telah dilemahkan (toksoid), contoh : toksoid tetanus, diphteri.
Bagian kuman tertentu/ komponen kuman yang biasanya berupa protein khusus, contoh : vaksin hepatitis B.
Vaksinasi kadang menimbulkan hal yang tidak diharapkan. Kejadian ini dipantau dalam KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi). Klasifikasi KIPI :
reaksi vaksin, misal: induksi vaksin, potensial vaksin, sifat dasar vaksin.
kesalahan program, misal: salah dosis, salah lokasi dan penyuntikan, semprit dan jarum tidak steril, kontaminasi vaksin dan alat suntik, penyimpanan vaksin salah.
kebetulan, kejadian terjadi setelah imunisasi tetapi tidak disebkan oleh vaksin.
injection reaktion, disebkan rasa takut/ gelisah dari tindakan penyuntikan, bukan dari vaksin, misal : rasa sakit, bengkak dan kemerahan pada tempat suntikan, takut, pusing, dan mual.
penyebab tidak diketahui.

PEMBAHASAN
Keluhan-keluhan dan pertanyaan dari ibu-ibu yang memiliki anak dalam masa imunisasi memang sering sekali terjadi. Seperti dalam skenario pada kasus di atas mewakili pertanyaan tersebut, antara lain : (1) kenapa ada anak yang sudah diimunisasi masih tetap terkena campak, (2) kenapa ada anak yang setelah diimunisasi malah panas dan kadang radang, (3) apa yang menyebabkan imunisasi tidak berhasil, (4) apakah anak yang sudah terkena penyakit boleh diimunisasi. Yang kesemua pertanyaan tersebut dapat menimbulkan keraguan dan pertanyaan, Pentingkah imunisasi?
Imunisasi adalah suatu cara yang dilakukan untuk menimbulkan mekanisme atau respon kekebalan. Imunisasi ada dua, aktif dan pasif. Imunisasi aktif, inilah yang pertama sesuai dengan tujuan imunisasi itu sendiri, tubuh dipapari antigen atau vaksin yang sudah dilemahkan atau dimatikan, dengan tujuan tubuh dapat mengenali antigen bersangkutan sehingga tubuh menghasilkan antibodi dan membuat suatu memori. Paparan pertama ini disebut respon primer. Sehingga pada paparan antigen berikutnya baik berupa vaksin atau penyakit yang sesungguhnya, tubuh akan memberikan respon sekunder. Respon sekunder sangat menguntungkan, yaitu pembentukan antibodi yang lebih cepat dan banyak..
Jika dilihat dari fungsinya di atas, imunisasi sangatlah penting. Imunisasi adalah cara terbaik dan termurah yang dilakukan untuk mencegah penyakit.
Lalu bagaimana dengan pertanyaan di atas?
Ada tiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan imunisasi :
dari hospes (penerima imunisasi) sendiri
dari vaksin
dari prosedur pemberian vaksin.

Banyak keadaan hospes yang mempengaruhi sukses atau tidaknya vaksinasi. Individu yang kekurangan gizi sangat menghambat keberhasilan. Individu yang kekurangan gizi tidak memiliki bahan yang cukup, diantaranya protein, dalam tubuh untuk membentuk antibodi. Protein yang masuk dalam tubuh terpusatkan untuk menanggulangi kekurangan tersebut sehingga protein untuk pembuatan antibodi terhambat. Selain kurang gizi, yang sangat berpengaruh adalah kemampuan sistem imun tubuh untuk merespon antigen. Individu yang mengalami defisiensi imun tidak dapat membentuk antibodi dengan tepat.
Terkadang dalam pembuatan vaksin masih terdapat komponen bakteri atau antigen yang ikut secara kebetulan yang tidak berhubungan dengan pengaruh protektif spesifik, tetapi berhubungan dengan inflamasi atau demam sehingga setelah imunisasi, hospes mengalami radang atau demam. Ada juga vaksin yang dalam pembuatannya mengandung bahan-bahan yang bahan tersebut menimbulkan alergi pada hospes. Alergen ini mungkin didapat dari : tempat virus ditumbuhkan, media atau aditif vaksin, dan antigen asing yang ditambahkan selama produksi.
Prosedur yang salah dapat mempengaruhi keberhasilan imunisasi, misalnya : salah dosis, salah lokasi dan penyuntikan, semprit dan jarum tidak steril, kontaminasi vaksin dan alat suntik, penyimpanan vaksin salah.
Ketiga faktor tersebutlah yang menyebabkan imunisasi gagal dan menimbulkan efek-efek tidak menguntungkan lain. Karena kegagalan ini lah individu yang sudah diimunisasi masih saja terkena penyakit.
Imunisasi yang dilakukan juga harus tepat waktu, dalam artian imunisasi dilakukan dimana keadaan tubuh sudah tidak atau memiliki sedikit antibodi terhadap suatu penyakit. Seorang bayi yang baru lahir, masih memiliki beberapa antibodi dan kekebalan yang diwariskan ibunya lewat plasenta dan ASI, yang dikenal dengan imunitas pasif. Pemberian vaksin saat tubuh memiliki antibodi yang cukup, tidak akan menimbulkan respon imunisasi yang baik.
Begitu pula orang yang sudah terkena suatu penyakit, tidak perlu diberikan vaksin lagi, karena tubuh sudah mengenali antigen tersebut dan telah memiliki antibodi dan memori.
Maka terjawablah semua pertanyaan di atas. Efek-efek yang terjadi tidak mengurangi akan pentingnya imunisasi. Justru baik pasien, keluarga, maupun dokter harus berusaha menghilangkan efek-efek tersebut agar imunisasi tepat sesuai tujuan yang diinginkan.

SIMPULAN
Imunisasi adalah suatu hal yang sangat penting dan perlu dilakukan. Imunisasi merupakan upaya pencegahan terhadap suatu penyakit yang paling baik dan murah.
Ada tiga faktor yang menyebabkan imunisasi gagal dan menimbulkan efek yang merugikan, yaitu :
a. Dari hospes : kurang gizi, defisiensi imun
b. Dari vaksin : adanya bahan alergen, bahan penyebab inflamasi dan demam
c. Dari prosedur : dosis, cara penyimpanan, jarum suntik, dll..
Ali pada skenario di atas harus diberi imunisasi campak.

SARAN
Sebaiknya semua orang tua harus memperhatikan gizi anaknya, karena keadaan kurang gizi akan mengurangi kemampuan tubuh untuk membentuk sistem kekebalan, yang mana juga mempengaruhi keberhasilan imunisasi.
Seyogyanya semua tenaga kesehatan (dokter,dll.) berupaya untuk senantiasa mematuhi prosedur dalam pemberian imunisasi termasuk dari segi kesterilan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Kresno, Siti Boedina. 2003. Imunologi: Diagnosis dan Prosedur Laboratorium. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Pp: 4-12
  2. Tim Field Lab FKUNS. 2008. Keterampilan Imunisasi. Surakarta: FKUNS. Pp: 5-7.
  3. Ganong, William F. 1998. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 17th . Jakarta: EGC. Pp: 506-513.
  4. Bellanti, Joseph A. 1993. Imunologi III. Yogyakarta: UGM Press. Pp: 12-16,551-559.
  5. Guyton, AC. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. 9th . Jakarta: EGC.pp: 555,567.
  6. Widmann, Frances K. 1995. Tinjauan Klinis Atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta: EGC. pp: 173-180.

Desember 12, 2008 Ditulis oleh ackogtg | KEDOKTERAN | | & Komentar